Cerita Haru Para Pejuang Kemanusiaan di Ende

  • Bagikan

Malam hari, Kota Ende nampak lengang. Warga Kota agak cemas kalau keluar rumah. Takut kena corona.

Disaat lengang, ternyata ada aktivitas di kantor BPBD. Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Kabupaten Ende. Belasan orang berkumpul di situ. Mereka dipanggil mendadak oleh pimpinan.

“Sekarang juga harap berkumpul di kantor,” kira-kira begitu bunyi arahan. Si pemberi arahan adalah atasan mereka. Namanya, Ida Muda Mite, sekretaris BPBD.

Pukul 21.00 Wita, arahan berikutnya muncul. Mereka diminta menjemput pasien reaktif di Numba. Beberapa dari mereka lantas kenakan APD. Yang lain siap kelengkapan.

Satu orang diantara mereka tiba-tiba kasih berita buruk. Antiseptik tinggal sedikit. Tidak cukup membersihkan mereka semua, setelah bersentuhan dengan pasien reaktif – sesuai protap. Raut wajah mendadak gelisah. Khawatir. Takut pulang rumah bawa penyakit.

Akhirnya mereka putuskan keliling Kota cari antiseptik. Satu apotik di Jalan Melati bilang antiseptik habis. Begitupun yang lain. Semua mengaku kehabisan antiseptik. Disaat sama pesan Watsapp dari pimpinan berdatangan. Tanyakan posisi mereka.

Mereka dilema. Antara tetap berangkat atau batal.

Untuk menenangkan situasi mereka berunding sejenak. Gelisah memang masih nampak. Dan di dalam perasaan itulah, mereka berdiri melingkar, berdoa.

“Waktu itu kami sudah pasrah. Kalau niat kami baik, Tuhan pasti bantu,” kata Ito Wadhi, salah satu personil BPBD (22/5/20).

Benar kata orang bijak, niat tulus dan usaha pasti didengar Tuhan. Saat menaiki mobil, salah satu personil tiba-tiba melihat ada antiseptik di joke mobil. Kaget! Mereka senang bukan main. Penjemputan akhirnya dilakukan.

Personil TRC – BPBD

Itulah salah satu kisah haru personil Tim Reaksi Cepat (TRC) di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kabupaten Ende.

TRC merupakan tim tanggap darurat. Sebelum pandemi corona, mereka bertugas menangani bencana alam. Banjir, pohon tumbang, tanah longsor, adalah beberapa yang sering ditangani.

Ketika masa pandemi dan dikeluarkan keputusan pembentukan Tim Gugus Tugas, pekerjaan mereka dialihkan. Tetap tangani bencana tapi dalam bentuk lain. Yang pasti, lebih berat dari sebelumnya.

Menurut Kepala BPBD, Sebastianus Bele (27/5/20), di kantornya, tim ini berjumlah 21 orang. Sebanyak 18 orang bertugas dilapangan, sedang 3 sisanya bantu administrasi di Posko Gugus Tugas.

18 orang petugas di lapangan terdiri atas 12 tenaga honorer dan 6 orang ASN. Dalam melaksanakan tugas mereka dibagi dalam dua divisi. Kedaruratan dan Logistik. Kendati di lapangan nantinya, mereka sulit dibedakan karena selalu saling membantu, lintas divisi.

Sulit di Lapangan

Setelah masuk dalam Tim Gugus Tugas, pada mulanya personil BPBD melakukan pekerjaan ringan. Menyemprot disinvektan di obyek vital, seperti Rumah Ibadah salah satunya. Itupun tidak setiap hari.

Namun, setelah ditentukan Stadion Marilonga sebagai lokasi observasi, tensi kerjaan perlahan naik. Inilah penanda bagi momen super sibuk yang sekarang tengah dijalani. Sejak penentuan lokasi observasi panggilan darurat datang silih berganti. Serba emergency.

Mulanya mereka melakukan penyemprotan kepada pelaku perjalanan di lokasi observasi. Setiap hari pasti ada warga datang dari luar yang ditangani. Mereka bekerja dari pagi hingga sore. Kadang sampai malam hari.

Tak lama berselang, datang puluhan orang klaster Lambelu. Pekerjaan bertambah. Kali ini tak hanya penyemprotan. Mereka juga ditugaskan menyiapkan lokasi karantina di Rujab Bupati Ende.

Cerita Beni Soladopo, salah satu personil BPBD, tensi kerjaan memuncak ketika menangani klaster Gowa dan Magetan.

Tanggal 2 Mei 2020 klaster Gowa jalani rapid test di Stadion Marilonga. Ditanggal itu, personil BPBD sudah ada di sana sejak pukul 15.00 Wita. Mereka bersiap lakukan penyemprotan disinvektan.

Selesai penyemprotan warga klaster Gowa diminta menunggu, ada rapid test setelah itu. Sambil menunggu, mereka dipersilahkan menikmati hidangan buka puasa.

Lanjut Beni, kira-kira pukul 18.00 Wita, salah seorang warga klaster Gowa naik pitan. Dia tiba-tiba marah dan menolak rapid test. Alasanya, dia sudah melewati masa inkubasi dan tidak menunjukan gejala.

Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, dan Kepolisian coba menenangkannya. Tapi tidak dipedulikan. Adu mulut jadi tak terhindarkan. “Waktu itu pak Yulius sempat suara keras,” kata Beni (23/5/20). Yulius, anggota Kodim 1602 Ende, adalah penanggung jawab lokasi observasi. Yulius bentak, minta klaster Gowa taati protap.

Kira-kira pukul 21.00 hasil rapid telah diketahui. 5 orang dinyatakan reaktif. Personil BPBD ditugasi lakukan pemindahan ke RSUD. Selesai pemindahan, pukul 22.30 WITA, personil kembali ke Stadion Marilonga. Tugas baru telah menanti.

Di Stadion Marilonga, sekretaris BPBD, Ida Muda Mite, minta para personil siapkan lokasi karantina di Rujab. Ida tahu personil capek, dia minta pembersihan dilakukan pagi hari. Personil menolak. Lebih cepat lebih baik, kata mereka.

Pembersihan dilakukan malam itu juga. Selesai sekitar pukul 02.30 Wita.

Beratnya beban kerja dan kesulitan ketika di lapangan kerap menerjang mereka. Contoh lain, saat hendak membersihan Pustu Paunda, sebagai lokasi karantina.

Saat itu personil BPBD sempat dicegat warga. ‘Sekitar 20 orang,” ingat Beni. Warga datang menolak Pustu di daerah mereka itu dijadikan tempat karantina. Syukur, salah satu personil BPDB berasal dari Paupanda. Si personil berhasil menenangkan warga.

Lain contoh ketika datang perintah lakukan pembersihan di Balai Latihan Ketenagakerjaan (BLK). Mereka bekerja secara marathon. Dari bersih-bersih hingga siapkan 30 tempat tidur.

“Tapi itu tempat (BLK) sudah lama tidak dirawat. Susah membersihkan seluruh, apalagi waktu cuma 1 hari,” kata Beni.

Akan tetapi, itu adalah kesalahan fatal menurut beberapa pihak. Dua hari berselang DPRD Ende dan orangtua warga karantina mengamuk di Posko Gugus Tugas. Tempat karantina jorok, tidak layak ditempati, kritik mereka.

Di luar itu, beberapa pekerjaan lain juga ditimpali kepada mereka. Ketika diinformasikan adanya penemuan mayat di Stadion Marilonga, tanggal 14 Mei, personil BPBD dipanggil mendadak. Mereka diminta melakukan penyemprotan disinvektan dan mengevakuasi jenazah ke RSUD.

“Kami diminta karena waktu itu penyebab kematian belum diketahui,” kata Ida Muda Mite, sekretaris BPBD Ende (25/5/20).

Kerja Berat, Gaji Kecil

Siang hari, tanggal 13 Mei, datang informasi dari Kupang. Isinya, 1 orang  warga Ende terkonfirmasi terpapar covid 19.

Informasi mengejutkan itu tentu saja diikuti dering di handphone mereka masing-masing. Ada panggilan mendadak, lagi. Mereka diperintahkan siang itu juga lakukan penyemprotan di gedung DPRD Ende.

Ketua DPRD Ende, Fransiskus Taso memantau langsung jalannya proses. Ketika selesai, dia tanya personil soal gaji. Para personil BPBD (honorer/non ASN) lantas menjawab secara polos. Jawaban mereka bikin ketua dewan kaget.

Menurut ketua Fransiskus Taso, besaran gaji yang mereka sebutkan, lebih kecil ketimbang gaji yang diterima honorer di kantor DPRD. Padahal beban kerja lebih berat dihadapi personil BPBD.

Ketika dikonfimasi Ende News soal gaji, beberapa personil BPBD menolak menjawab. Mereka hanya mengatakan diluar itu ada uang lembur yang dibayar per hari.

Lagipula, masih menurut para honorer di BPBD, mereka akan tetap berjuang demi Kabupaten Ende, meskipun tidak ada kenaikan gaji. “Demi kemanusiaan,” kata salah satu personil bernama Arman.

Para pejuang kemanusiaan ini hanya berharap warga Kabupaten Ende mengikuti protokol kesehatan dan mempermudah pekerjaan mereka di lapangan. (ARA/EN)

  • Bagikan