Intip Cara Warga Ende Keturunan Tionghoa Rayakan Imlek: “Tahun Ini Agak Sepi”

  • Bagikan
Warga Ende keturunan Tionghoa, Santy Yusuf, dokter kecantikan pemilik LED Coffee, Kota Ende

Warga keturunan Tionghoa tengah merayakan Tahun Baru China atau dikenal dengan Imlek. Tahun ini, Imlek, yang jatuh pada 12 Februari 2021, dirayakan cukup berbeda dengan tahun sebelumnya.

Salah satu warga Ende keturunan Tionghoa, Santy Yusuf, berbicara kepada media ini bagaimana cara keluarganya merayakan Imlek. Santy Yusuf, dokter kecantikan empunya LED Coffeé di Jalan Gatot Soebroto, Kota Ende, bercerita bahwa tahun ini perayaan Imlek cukup berbeda dengan tahun sebelum.

Tahun ini Imlek dirayakan secara sederhana di keluarga masing-masing. Dan tidak seperti biasa, kunjungan tamu pun dibatasi agar mencegah penyebaran Covid-19.

“Kalau dulu terima tamu, kalau sekarang kan sudah tidak terima tamu. Cuma kumpul keluarga,” kata Santy Yusuf (11/02/21).

“Kalau dulu ya mirip Natal, dimana tamu-tamu datang, kasih kue, ya seperti itu”.

Dalam perayaan Imlek tahun ini pun tak ada pernak-pernik yang menghiasi rumah mereka. Agak sepi memang, kata dokter kecantikan ini.

“Tahun ini agak sepi. Kalau dulu sering pasang-pasang hiasan begitu kan, kalau sekarang hampir-hampir tidak pasang ya, apalagi dengan situasi Covid begini”.

Tradisi perayaan Imlek di keluarganya dimulai sejak dua hari menjelang hari puncak, 12 Februari.

Pada Rabu (10/02), keluarga Santy Yusuf melakukan doa bagi leluhur. Doa tersebut biasanya dipersembahkan kepada leluhur yang telah meninggal dunia.

Pengertian leluhur oleh warga keturunan Tionghoa tidak selalu kakek atau nenek moyang, namun mencakup keturunan yang lahir sebelum orang tersebut termasuk ayah dan ibu.

Apa yang dijelaskan oleh Santy Yusuf tersebut merupakan bagian dari budaya warga Indonesia keturunan Tionghoa secara menyeluruh. Ini merupakan ritual tahunan menjelang Imlek.

Setelah itu pada hari selanjutnya, Kamis (11/02), keluarganya mengadakan makan bersama keluarga. Makan bersama ini berbeda dengan makan keluarga pada hari biasa. Khususnya mengenai ekspetasi dan menu makanan itu sendiri.

Acara ini diadakan secara sendiri-sendiri dalam lingkup suatu keluarga. Dan, waktunya pun tergantung pada kebiasaan masing-masing keluarga.

“Terserah keputusan keluarga masing-masing kan. Ya biasanya normal, makan jam 7 atau jam 8 malam,” lanjutnya.

Setelah itu pada hari Imlek, Jumat (12/02), kata Santy Yusuf, mereka punya kebiasaan mengunjungi orangtua atau mertua untuk merayakan Imlek bersama-sama. Di sini, mereka akan mencicipi Siu Mie, makanan khas Tionghoa.

“Biasanya pagi-pagi itu mertua saya sudah masakin Mie Siu. Biasanya pagi-pagi harus makan itu dulu”.

Siu mie atau mi panjang ialah salah satu hidangan yang sering ditemukan dalam perayaan Tahun Baru Imlek. Dalam tradisi Tionghoa, dilarang untuk memasak dan menyajikan mie yang terpotong. Filosofinya, siu mie atau mi goreng merupakan lambang panjang usia.

Lalu, bagaimana dengan Angpao, hal yang paling ditunggu-tunggu saat Imlek? Kata Santy Yusuf, angpao tidaklah wajib melainkan tergantung kemampuan ekonomi setiap orang. Dalam keluarganya, angpao, biasa diberikan oleh anggota keluarga yang sudah menikah dan memiliki “kelebihan”.

Penerima angpao pun kembali tergantung si pemberi, ada yang hanya memberi kepada anggota keluarga saja dan ada juga yang memberikannya kepada kerabat dekat.

Perayaan tahun ini memang cukup berbeda dengan biasanya namun ia bersyukur, dapat merayakannya bersama keluarga. (ARA/EN)

  • Bagikan