Kisah Orang tertua di Eropa Lolos Dari Flu Spanyol dan Covid-19

  • Bagikan
Orang tertua di Eropa, biarawati Prancis Suster Andre, merayakan ulang tahunnya yang ke 117 pada Kamis (11/02/21), setelah mengalahkan Covid-19 beberapa hari sebelumnya. Suster Andre, juga merupakan orang tertua kedua di dunia menurut Gerontology Research Group

Orang tertua di Eropa, biarawati Prancis Suster Andre, merayakan ulang tahunnya yang ke 117 pada Kamis (11/02/21), setelah mengalahkan Covid-19 beberapa hari sebelumnya. Suster Andre, juga merupakan orang tertua kedua di dunia menurut Gerontology Research Group, sesudah Kane Tanaka dari Jepang, yang berusia 118 tahun.

Kesembuhan Suster Andre telah menjadi berita utama di Prancis dan menjadi penghiburan bagi negara itu ditengah masa pandemi. Kesembuhannya dirayakan sekaligus dengan ulang tahun yang hanya berselang beberapa hari. Ada misa di Kapel pribadi panti jompo tempat dia tinggal yang dipimpin Uskup Toulon.

Dalam rentang hidupnya yang panjang, Suster Andre pernah melewati masa-masa buruk yang mirip pandemi Covid sekarang ini. Dahulu, saat flu Spanyol mewabah seabad yang lalu, dia menjadi salah satu yang lolos dari flu itu.

Suster Andre bernama asli Lucile Randon ini, lahir pada 11 Februari 1904, di Ales, sebuah kota di wilayah Occitanie di selatan Prancis.

Dia masih remaja ketika Flu Spanyol menginfeksi sepertiga dari populasi dunia antara 1918 dan 1920. Kakaknya meninggal dan menjadi salah satu dari setidaknya 50 juta orang korban Flu Syanyol. Dia sendiri lolos dari flu itu.

Dia dibesarkan dalam keluarga Protestan. Suster Andre masuk Katolik pada usia 19, dan pada usia 25, dia mulai bekerja di rumah sakit. Selama 28 tahun dia merawat orang tua dan anak-anak yatim piatu.

Pada tahun 1944, ia bergabung dengan Daughters of Charity untuk menjadi seorang biarawati pada usia 40 tahun. Ia menggunakan nama Suster Andre untuk menghormati almarhum kakaknya.

Pada tahun 2009 Suster Andre dipindahkan ke panti jompo. Dan ketika dia berusia 115 tahun, Paus Fransiskus mengiriminya surat pribadi dan Rosario yang telah diberkati.

Bulan lalu tepatnya tanggal 16 Januari, Suster Andre dinyatakan positif terpapar Covid-19, kendati tak tanpa gejala. Ia menjadi salah satu dari 81 orang dari total 88 penghuni panti jompo yang terinfeksi. 11 orang akhirnya meninggal.

Tunanetra yang menggunakan kursi roda ini mengatakan, dia tidak takut ketika mengetahui terpapar Covid-19. Juru bicara panti jompo, David Travella mengatakan bahwa biarawati itu lebih kesal mengalami gangguan rutinitas daripada Covid-19.

“Dia tidak menunjukkan rasa takut akan penyakitnya. Bahkan, dia lebih mengkhawatirkan warga lainnya,” kata David Tavella, juru bicara panti jompo Catherine Labouré di Toulon, tempat tinggal Suster Andre, seperti dilansir The Washington Post (11/02/21).

“Dia terus mengatakan kepada saya, ‘Saya tidak takut Covid karena saya tidak takut mati, jadi berikan dosis vaksin saya kepada mereka yang membutuhkannya,’” kata Tavella.

Saat dalam isolasi, Suster Andre menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berdoa, sembari merindukan hari-hari ketika dia bisa makan bersama teman-teman dan berjalan di taman.

Pada hari Selasa (10/02), Suster Andre dinyatakan sembuh dari Covid-19. Kesembuhannya seakan menjadi sukacita dan simbol harapan publik Prancis. Pihak panti jompo pun ikut dalam sukacita itu dan mengadakan pesta kecil baginya.

“Ini hari yang besar,” kata Tavella, sembari menambahkan bahwa ada kue untuk Suster Andre meskipun tidak cukup besar untuk menampung 117 lilin. (TWP/R/EN)

  • Bagikan