Ende  

Makam Ibu Amsi : Cerita Kesetiaan Sahabat Bung Karno di Ende

Avatar photo
Makam Ibu Amsi, mertua Bung Karno yang terletak di RT 01/RW 04, Kerara, Kelurahan Rukun Lima, Kota Ende (16/08/21)
Makam Ibu Amsi, mertua Bung Karno yang terletak di RT 01/RW 04, Kerara, Kelurahan Rukun Lima, Kota Ende (16/08/21)

Makam Ibu Amsi menjadi salah satu aset bersejarah di Kota Ende. Melalui makam itu, generasi hari ini lebih jelas membayangkan sulitnya Bung Karno di masa pengasingan, bagaimana ia dan keluarga menjalani hidup serba pembatasan ala Belanda.

Selain aset sejarah, makam Ibu Amsi ternyata juga menyimpan catatan manis tentang kesetiaan para sahabat Bung Karno di Ende. Kesetiaan mereka bahkan terbentang hingga saat ini.

Ibu Amsi, mertua Bung Karno, yang ikut ke pengasingan meninggal di Ende pada 12 Oktober 1935. Bung Karno bersama para sahabat yang merupakan warga di sekitar tempat tinggalnya lantas mengurus proses pemakaman.

BACA JUGA

Dalam Total Bung Karno karya Roso Daras (2013), diceritakan bahwa proses pemakaman Ibu Amsi tidak berjalan mulus. Pemerintah Kolonial enggan memberikan bantuan bahkan melarang untuk dimakamkan di dalam Kota Ende.

Bung Karno bersama teman-temannya akhirnya menggotong jenazah naik ke atas bukit, di tengah hutan menguburkan Ibu Amsi di lokasi yang dikehendaki Pemerintah Kolonial. Para sahabat membantu Bung Karno hingga selesai proses pemakaman.

Kesetiaan para sahabat ternyata berlanjut berpuluh tahun kemudian bahkan turun-temurun.

Masih menurut Roso Daras, ketika gempa bumi dasyat terjadi di Ende pada 1992, makam Ibu Amsi terurug longsoran tanah sehingga tak lagi tampak nisannya. Adalah seorang warga bernama Abdullah, yang tinggal tak jauh dari makam Ibu Amsi, spontan menyingkirkan longsoran tanah.

Abdullah lantas membersihkan makam Ibu Amsi. Aksi Abdullah kemudian diikuti warga yang lain, sehingga makam itu tetap terjaga sampai sekarang.

BACA JUGA :

Cerita lain, menurut warga di sekitar lokasi makam, terdapat seorang sahabat Bung Karno yang selalu memperhatikan makam itu setelah Bung Karno meninggalkan Ende. Ia bernama Ndoja.

Penuturan Gasim Ismail Launus, ketua RT 01/RW 04, Kelurahan Rukun Lima, Kota Ende, lokasi dimana makam Ibu Amsi berada, setelah Ndoja tiada, makam Ibu Amsi diperhatikan oleh istri Ndoja bernama Reda. Kemudian dilanjutkan oleh anaknya yang sering disapa Haji Nani.

“Haji Nani masih menjaga makam (Ibu Amsi) sampai sekarang,” kata Gasim Ismail Launus (16/08/21).  Namun lanjutnya, faktor usia menyebabkan Haji Nani tidak lagi sering memperhatikan makam.

Semua yang dilakukan keluarga Ndoja secara sukarela tegasnya. Murni karena Ndoja dan Bung Karno merupakan sahabat dimasa lalu. (ARA/EN)