Mengenal Santo Purnomo, Pembuat Alat Test Covid-19

Avatar photo
Santo Purnomo

Kebingungan warga dunia karena wabah virus corona meluas ke segala penjuru. Bukan saja perihal menemukan vaksin, tentang cara melakukan test yang mudah dan akurat pun, masih menjadi pertanyaan.

Disaat yang sama muncul alat test yang diberi nama “Sensing Self.” Alat test ini dalam sekejap menyita perhatian sebab tingkat akurasinya mencapai 92 persen. Kelebihan lain, dengan alat test ini kita kita tak perlu lagi ke Lab karena dapat dilakukan secara sederhana di rumah.

Advertisement
melki laka lena
Scroll kebawah untuk lihat konten

Karena akurasi dan kemudahannya itu, Sensing Self mendapat persetujuan digunakan di negara-negara Eropa, begitupun di India.

Dan siapa nyana pembuat alat ini bernama Santo Purnomo, warga Indonesia yang sekarang ini sedang berkarya di America. Dia punya darah Thionghoa namun sudah generasi keempat di Indonesia. Kakeknya sudah kelahiran Aceh.

Dari Aceh ayah Santo pindah ke Medan, dan di kota inilah Santo lahir. Namun sejak kecil ia sudah diajak pindah di Jakarta. Karena itu sekolahnya pun di Jakarta.

Santo menamatkan pendidikan menengah atas di SMA Bunda Hati Kudus, Jakarta. Setelah itu Santo melanjutkan pendidikan di Purdue University di negara bagian Indiana, Amerika. Santo lulus pada 1995.

Dari Purdue ia meneruskan kuliah ke Stanford University, universitas level utama di California.

Santo berbisnis di bidang alat kesehatan setelah ia selesai kuliah. Dan ketika Covid-19 mewabah ia bersama rekannya bernama Gandhi memproduksi alat test yang diberi nama,  Sensing Self.

Tentang alat test dengan akurasi tinggi ini, Santo menjelaskan sebenarnya ia bukanlah pencipta namun hanya meningkatkan kemampuan alat.

“Orang-orang dulu membuat roda untuk 30.000 mil – 40.000 mil. Saya membuat ban itu untuk 92.000 mil,” contoh Santo seperti dikutip Jawa Pos.

Lebih jauh lagi Santo menjelaskan kunci kehebatan sistem test bukan pada alat melainkan pada enzimnya.

Jadi yang akan diproduksi Sensing Self itu adalah kertas berenzim. Sedikit darah disentuh ke kertas itu, 10 menit kemudian sudah tahu, positif atau negatif.

Sekarang ini Sensing Self telah mendapat persetujuan di Eropa dan India. Bahkan India merupakan pemesan tertinggi untuk alat yang dibandrol dengan harga USD 10 atau setara Rp 160.000 itu. Sedangkan untuk Indonesia masih dalam pengurusan izin. (ARA/EN)