Mirisnya Tradisi “Makan Paksa”, Penggemukan Anak 12 Tahun Untuk Menikah

  • Bagikan
Anak-anak berusia 12 hingga 14 tahun di Mauritania, Afrika Barat, mengalami penggemukan secara paksa. Para orangtua melakukan itu agar anak mereka terlihat menarik untuk dinikahkan. Ini merupakan bagian dari tradisi yang mereka sebut, “Leblouh”.

Anak-anak berusia 12 hingga 14 tahun di Mauritania, Afrika Barat, mengalami penggemukan secara paksa. Para orangtua melakukan itu agar anak mereka terlihat menarik untuk dinikahkan. Ini merupakan bagian dari tradisi yang mereka sebut, “Leblouh”.

Berdasarkan pola makan dari tradisi makan paksa atau Leblouh, UNICEF melaporkan, anak-anak dipaksa mengonsumsi 9.000 kalori per hari, atau empat kali lebih banyak daripada rekomendasi konsumsi harian Organisasi Kesehatan Dunia.

Ketua Asosiasi Mauritania untuk Kesehatan Ibu dan Anak, Zeinabou, mengatakan, tradisi makan paksa merupakan akibat dari kriteria kecantikan menurut masyarakat.

“Di Afrika, dan tidak hanya di Mauritania, kecantikan wanita berasal dari lekuk tubuhnya,” kata Zeinabou seperti dilansir The Sun (07/02/21).

“Tujuan (makan paksa) adalah untuk mempercantik wanita, untuk menunjukkan bahwa dia berasal dari keluarga yang baik, dan bahwa dia tidak kekurangan gizi.”

Selain menjadi seorang ahli dan juru kampanye untuk hak-hak perempuan, Zeinabou juga tahu secara langsung sebab pernah mengalami praktik itu ketika dia berusia 5 tahun.

Zeinabou mengaku menderita efek samping hingga saat ini bahkan trauma. Dahulu, dia sering dipukul dengan kayu besar ketika memuntahkan makanan. “Seperti itu sampai saya menikah, pada usia 14 tahun,” lanjutnya.

Dilaporkan, sekitar seperempat anak gadis Mauritania dicekoki makan paksa selama rentan waktu yang dikenal ‘musim makan’. Bahkan, ada tempat semacam “peternakan” untuk membantu anak perempuan menambah berat badan.

Penggemukan yang ‘sukses’, menurut masyarakat setempat, dikala anak 12 tahun memiliki berat 80 Kg. Padahal itu hampir dua kali lipat berat rata-rata wanita sehat berusia 12 tahun.

Demi mencapai berat ideal sesuai standar kecantikan maka anak gadis dicekoki makanan hingga 5 kali sehari agar lekas menikah. Jika menolak atau muntah mereka akan dipukuli orangtua.

Annie, perempuan 29 tahun, korban lainnya dari budaya makan paksa mengatakan, dirinya mengalami perlakuan buruk sejak usianya masih 4 tahun.

“Saya dicekoki makan paksa lima kali sehari untuk menggemukkan saya agar menikah pada usia 12 tahun. Jika saya menolak atau muntah saya akan dipukuli,” kenangnya.

“Saya dulu dikunci di kamar, tidak boleh keluar sampai saya selesai makan, jadi saya diam-diam mengosongkan mangkuk ke luar jendela sampai seseorang melaporkan saya. Sejak saat itu ibu saya duduk dengan saya dan memastikan saya makan semuanya.

Air mata menetes ke wajah Annie yang berusia 4 tahun saat ibunya memasukkan sesendok bubur lagi ke dalam mulutnya yang sudah terisi. Dia sangat kenyang, perut kecilnya hampir meledak, kala dicekoki makanan lima kali sehari.

Lanjut Annie, peristiwa seperti itu terus berlanjut sampai ia menikah pada usia 12 tahun. Anie dinikahkan dengan salah satu sahabat pamannya yang jauh lebih tua.

Baru-baru ini diurus oleh Asosiasi Mauritania untuk Kesehatan Ibu dan Anak, Annie, yang ditinggal suaminya, bersikap positif tentang masa depan. Dia bertekad bahwa ketiga putrinya saat ini tidak akan merasakan pengalaman yang sama.

Mengenai problem ini, sebenarnya Mauritania telah menetapkan usia resmi menikah pada usia 18 tahun, atau sesuai standar internasional. Namun, pernikahan lebih dini dari usia itu masih sering terjadi.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2015, hampir satu dari tiga gadis berusia antara 15 dan 19 tahun menikah di Mauritania. (T/EN)

  • Bagikan