Ende  

Perawat di Ngalupolo Rela Nyaris Kecebur, Asalkan Warga Sehat

Avatar photo
Perjuangan perawat Puskesmas Ngalupolo melayani warga
Perjuangan perawat Puskesmas Ngalupolo melayani warga

Perjuangan berat dialami oleh para perawat di Puskesmas Ngalupolo, Kabupaten Ende. Demi melayani dua desa sekitar, para perawat mesti melewati akses terjal di sisi pantai. Bukan sekali tetapi berkali-kali.

Dua desa itu adalah Kekasewa dan Wolokota. Ke sana tak bisa menggunakan jalur darat karena masih terisolasi. Harus lewat pantai. Itu jalur satu-satunya walau tidak disiapkan dermaga. Sulit memang.

Advertisement
melki laka lena
Scroll kebawah untuk lihat konten

Cerita Elen (18/11/20), salah satu perawat, setiap bulan mereka melakukan satu kali kunjungan di dua desa itu. Mereka di bagi ke dalam dua tim, masing-masing terdiri dari 5 orang.

Mereka naik Perahu Motor dari Pantai Bita, Kota Ende, lalu menempuh perjalanan laut. Waktu tempuh sekitar satu jam. Tetapi tergantung ombak, cerita Elen.

Tiba di pinggir pantai Wolokota, mereka telah di tunggu tantangan baru. Yang ini lebih sulit. Sebab tak ada dermaga di pinggir pantai.

Para perawat mesti melompat untuk mencapai daratan. Mereka lompat satu per satu, mengikuti irama ombak tentu saja. Agar sesuai irama ombak, mereka dipandu aba-aba dari warga.

Elen bilang, kalau ombak terlalu besar, kadang perjalanan tak bisa dilakukan. Itu artinya, warga Wolokota dan Kekasewa tidak bisa mereka layani.

Kendati tantangan cukup berarti Elen tidak mengeluh. Dia dan rekan-rekannya rela jalani itu asalkan warga sehat.

Duns, salah satu putra Wolokota mengaku sedih atas kondisi mereka. Tapi dia tak bisa berbuat banyak, walau jabatannya ketua salah satu organisasi mahasiswa.

Duns pernah menyuarakan tapi suaranya tidak kedengaran. Mungkin pemerintah ingin kami susah, kata Duns.

Duns hanya bisa berterimakasih kepada para perawat Puskemas Ngalupolo. “Tetap semangat,” tambahnya. (ARA/EN)