Menu

Mode Gelap

Sejarah · 20 Feb 2022 11:55 WIB

Sejarah Pacuan Kuda di Ende: Berawal di Ippi, Berakhir di Eltari


					Seorang joki menunggangi kudanya, diperkirakan di arena pacuan berbentuk lingkaran di Ippi, Kota Ende (Foto: Arsip keluarga Lius Kato) Perbesar

Seorang joki menunggangi kudanya, diperkirakan di arena pacuan berbentuk lingkaran di Ippi, Kota Ende (Foto: Arsip keluarga Lius Kato)

Kerlap-kerlip lampu di rangka besi membentuk patung kuda menambah semarak malam di Kota Ende. Letaknya pun strategis, di ruas jalan utama Kelimutu, Kota Ende, persis di tengah-tengah perempatan traffic light. Menyala dengan berbagai warna seperti merah, hijau, biru, atau warna campuran yang terus berganti warna tiap detiknya, kerlap-kerlip patung kuda bikin Kota Ende makin cantik.

Patung itu dibuat 3 tahun lalu oleh Pemerintah Kabupaten Ende. Anggarannya biasa saja, tidak fantastis. Kata pemerintah, patung kuda dibangun untuk merefleksi sejarah yang pernah membentang puluhan tahun lalu di Kota Ende. Sejarahnya tentang pacuan kuda, perlombaan paling ramai yang berlangsung sekitar akhir tahun 60-an hingga awal tahun 80-an.

Sejarah pacuan kuda di Ende memang belumlah seterang matahari di siang hari. Masih suram kalau enggan dikatakan gelap, baik soal tahun maupun lokasi balapan. Soal lokasi misalnya, beberapa warga mengatakan bahwa arena pacuan bukan di Jalan Kelimutu melainkan di sekitar pelabuhan Ippi, sebagian lain mengatakan di Jalan Kelimutu. Hal sama juga akan didapati jika bertanya mengenai tahun berapa pacuan kuda berlangsung.

Penelusuran Ende News menemukan beberapa sosok sentral saat pacuan kuda berlangsung di Ende. Beberapa Joki atau penunggang kuda maupun pemilik lahan berhasil kami temui demi mendapatkan fakta yang paling dekat dengan kebenaran.

Para joki atau pebalap kuda generasi awal seperti Lius Kato dan Linus Lengo berhasil kami temui kendati tak banyak lagi yang bisa mereka ingat. Agar lebih jelas, keduanya mengarahkan kami menemui sosok sentral yang mampu menggambarkan pacuan kuda di Ende secara utuh. Dia adalah Pala Ahmadu, pria kelahiran Ende tahun 1958.

Pala Ahmadu menjadi sosok sentral sebab merupakan pemilik lahan yang dijadikan arena pertama pacuan kuda. Selain itu, mantan Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Ende ini juga merupakan joki yang sering jadi Juara Umum.

Pala Ahmadu ketika ditemui kediamannya (5/12/21), bercerita, dahulu saat dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Kota Ende masih jauh dari kata “ramai”. Jalanan kota kebanyakan belum diaspal, tidak ada lampu jalan, kendaraan minim, dan toko pun sedikit. Kendati demikian, bukan berarti warga Kota Ende hidup tanpa keramaian sama sekali. Saat itu, ada satu pusat keramaian yang paling dicintai warga dan sering bikin heboh seisi kota: Pacuan kuda.

Pacuan kuda di Kota Ende sudah dimulai sejak zaman ayahnya, Ahmadu Kaju Karo, arena saat itu menggunakan trek lurus di Jalan Adisoetjipto, start dari pesisir pantai Pelabuhan Ippi hingga finish di belokan yang mengarah ke tanjakan Boanawa. Jarak start ke finish sekitar 1 kilometer.

“(Arena pacuan) Di Jalan Adisoetjipto, dari depan pelabuhan Ippi itu lurus sampai belokan… Waktu itu arena pacuan bentuknya lurus, belum lingkaran,” kata Pala Ahmadu (5/12/21). Saat itu dia masih kelas 2 SD dan sering diajak ayahnya menonton balapan karena mereka merupakan pemilik kuda.

Setelah itu arena balapan kuda dipindahkan di depan Masjid Ar-Rahman, Ippi, sekitar 50 meter dari arena sebelumnya. Letaknya di RT 07/RW 02, Kelurahan Tetandara, Kota Ende. Arena ini paling unik karena satu-satunya arena pacuan di Ende yang berbentuk lingkaran. Jarak titik start hingga finish sekitar 1,4 kilometer.

Tanah yang digunakan sebagai arena pacuan kuda milik keluarga Pala Ahmadu. Ceritanya, tanah itu diminta langsung oleh Bupati Ende Hasan Aroeboesman kepada kakeknya, kepala Kaju Karo. Kata “kepala” pada awalan penyebutan nama merupakan jabatan kakeknya saat itu sebagai kepala wilayah. Tanah mereka dipakai Pemkab Ende dengan perjanjian kerjasama antara Bupati Aroeboesman dengan kepala Kaju Karo. Pemindahan arena pacuan diperkirakan terjadi tahun 1967, diukur dari usia Pala Ahmadu saat itu 9 tahun.

“Saya tidak ingat tahunnya tetapi waktu sudah di situ (arena bentuk lingkaran), saya sudah jadi joki. Waktu itu saya kelas 3 SD, usia saya kira-kira 8 atau 9 tahun”.

Di arena inilah Pala Ahmadu mulai merintis karir sebagai joki atau pebalap kuda, kendati dia masih kelas 3 SD. Dia generasi pertama yang membalap di arena lingkaran selain nama-nama beken kala itu seperti Lius Kato dan Linus Lengo.

Pacuan kuda diselenggarakan Pemkab Ende setiap tahun menjelang Hari Kemerdekaan 17 Agustus atau Hari Pahlawan 1O November. Kadang dua kali setahun, kadang juga cuma satu kali setahun, tidak tentu memang namun yang pasti setiap tahun ada pacuan, jelasnya. Panitia penyelenggara pacuan adalah Dinas Peternakan Kabupaten Ende.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 66 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Berapa Kali Presiden Soekarno Kunjungi Ende, Tahun Berapa?

22 Mei 2022 - 07:00 WIB

Pemberian karangan bunga saat Presiden Soekarno tiba di Pelabuhan Ende (Sumber: ANRI dalam Citra Kabupaten Ende Dalam Arsip)

Jejak Karya Bupati Anis Pake Pani, Pembentuk Wajah Kota Ende

10 April 2022 - 08:45 WIB

Jejak Karya Bupati Anis Pake Pani, Pembentuk Wajah Kota Ende

Saat Ema Gadi Djou Bawakan Kisah Sengsara Yesus Pada Minggu Palma

10 April 2022 - 05:41 WIB

Herman Josef Gadi Djou atau Ema Gadi Djou saat mengikuti acara pernikahan Abraham Gampar pada 1974 (foto : buku 75 Tahun Sang Visioner H. J. Gadi Djou)

Kocak, Begini Trik Curang Joki Pacuan Kuda di Ende

20 Februari 2022 - 14:24 WIB

Para joki dan pemilik kuda mempersiapkan kuda masing-masing, lokasi diperkirakan di arena pacuan kuda di Ippi, Kota Ende (Foto: Arsip keluarga Lius Kato)

Mengapa Joki Kuda di Ende Mayoritas Anak SD

20 Februari 2022 - 12:40 WIB

Para joki memacu kuda saat balapan, diperkirakan di saat pacuan kuda berlangsung di Jalan Kelimutu, Kota Ende (Foto: Arsip keluarga Lius Kato)

Lagu “Ende Deku Dengu” Milik Siapa? Begini Sejarahnya

29 November 2021 - 12:56 WIB

Musisi legendaris Kabupaten Ende, Ferdy Levi (kiri) dan Yakobus Ari (kanan), saat ditemui di kediaman masing-masing (26 dan 29 November 2021)
Trending di Ende