Soal Pinjaman Rp 100 Juta, Bupati Djafar : Saya Kasihan Perse

Avatar photo
Bupati Ende Djafar Achmad
Bupati Ende Djafar Achmad

Bupati Ende Djafar Achmad memberikan penjelasan mengenai pinjaman Rp 100 juta sebagai bantuan kepada Perse Ende mengikuti El Tari Memorial Cup 2023. Ungkap Bupati Djafar, dirinya merasa iba atas kondisi Perse, klub kebanggaan masyarakat Ende, yang ketiadaan dana dan terancam gagal berangkat ke Kabupaten Rote Ndao mengikuti perhelatan sepakbola terakbar di NTT tersebut.

Untuk diketahui, sebelumnya diberitakan media ini, Bupati Ende Djafar Achmad menanda-tangani pinjaman Rp 100 juta untuk keberangkatan mengikuti perhelatan ETMC 2023. Penanda-tanganan pinjaman dilakukan bersama manager Perse Ende, Mohamad Sahrir, pada tanggal 8 Agustus 2023.

Mengenai pinjaman tersebut, Bupati Djafar menjelaskan, dirinya merasa iba atas kondisi klub kebanggaan masyarakat Kabupaten Ende tersebut yang ketiadaan anggaran dan terancam batal mengikuti perhelatan ETMC. Ironisnya lagi, kata dia, kondisi carut-marut itu terjadi disaat status Perse Ende sebagai juara bertahan turnamen ETMC sehingga diwajibkan hadir menyerahkan piala bergilir.

“Kondisi waktu itu (bulan Agustus) sangat mengkhawatirkan. Saya kasihan Perse, ini klub kebanggaan kita (masyarakat Ende) tidak ada dana sama sekali, padahal harus berangkat membawa nama daerah ini,” tutur Bupati Ende Djafar Achmad (12/9/23).

“Kita jangan lupa kalau klub kebanggaan kita ini juara bertahan jadi harus berangkat serahkan piala bergilir. Waktu itu Perse tidak ada dana dan tidak ada solusi lain karena waktu mepet. Saya yakin siapapun bupati akan lakukan sama,” sambungnya.

Nominal Rp 100 juta merupakan angka terendah membiayai sebuah klub mengikuti turnamen sepakbola sebesar ETMC, apalagi diselenggarakan di luar daerah. Pembiayaan Rp 100 juta amat memprihatinkan apabila melihat penggunaan uang mulai dari proses latihan, tiket keberangkatan kontingen, penginapan, konsumsi, hingga pembiayaan setiap laga.

Pembiayaan dari pinjaman itu juga tidak sanggup menghitung hingga honor pemain dan bonus tim apabila Perse menjuarai turnamen. Imbasnya dari keterbasan dana bahkan menyebabkan manajemen Perse Ende melakukan penghematan besar-besaran yang mengkibatkan beberapa staf kepelatihan dikurangi atau tidak diberangkatkan ke Rote Ndao.

Syukurnya, sambung Bupati Djafar, kondisi Perse amat terbantu ketika tiba di Rote Ndao sehingga penghematan bisa dilakukan oleh manajemen. Penghematan di Rote dapat dilakukan karena orang-orang Ende yang menetap di Rote Ndao antusias melayani Perse Ende mulai dari penjemputan hingga membantu konsumsi para pemain dan pelatih.

Dirinya juga bersyukur atas keberadaan suporter Perse Ende, “Red Boys” yang mampu mencari pendanaan sendiri sehingga bisa menyemangati Perse di manapun berlaga.

“Semua kita sudah berusaha optimal untuk Perse, untuk Ende ini. Saya terimakasih banyak untuk orang-orang Ende di Rote, untuk anak-anak saya Red Boys, untuk seluruh masyarakat Ende”.

Bupati Ende Djafar Achmad juga memberikan klarifikasi terkait pinjaman dilakukan terkesan terselubung. Ungkapnya, pinjaman dilakukan secara terbuka dihadapan para pejabat daerah bahkan sebelum pinjaman dilakukan pun dirinya telah berkonsultasi dengan beberapa pejabat. Karena itu ia mengaku heran jika ada anggapan bahwa pinjaman dilakukan secara terselubung.

“Semua (proses) terbuka kok. Semua (pejabat) di sini tahu. Di sini saya punya pejabat yang bisa saya minta masukan mereka, proses itu kita lalui, saya heran kalau ada yang anggap kami sembunyi-sembunyi”.  (ARA/E)