Tahun 2022, NTT Akan Bangun Laboratorium Pusat Riset

Avatar photo
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat saat ramah tamah bersama Pemerintah Kabupaten Ende di Pantai Ria (28/6/20)
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat saat ramah tamah bersama Pemerintah Kabupaten Ende di Pantai Ria (28/6/20).

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat berencana membangun laboratorium terbesar di NTT sebagai pusat riset.  Hal tersebut diutarakan Gubernur Viktor saat melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) di Ende (28/6/20).

Direncanakannya pembangunan pusat riset akan dianggarkan pada 2021 dan mulai dibangun pada tahun 2022. Pembangunan ini akan melibatkan seluruh Kabupaten dan Kota di NTT, kata Viktor.

“Saya sudah bicara ini mulai dari Manggarai Barat sampai terakhir di sini (Ende). Kalau kita sepakat sama-sama, maka 2021 kita anggarkan, lalu tahun 2022 kita sudah bangun laboratorium yang hebat. Dan kita akan bangga,” kata Viktor.

Sebagai propinsi yang terus mengalami kemajuan maka Nusa Tenggara Timur sudah saatnya memiliki pusat riset. Dirinya mengkhawatirkan apabila NTT tidak memiliki pusat riset maka ke depan, propinsi ini kesulitan menghadapi tantangan zaman.

Dirinya mencontohkan, ketika pandemi Covid-19 melanda, salah satu masalah utama di NTT adalah minimnya peralatan medis seperti PCR. Kondisi tersebut mengharuskan NTT mengirim hasil Rapid Test ke daerah luar.

Selain menjawab tantangan zaman, terdapat pula sisi positif dari adanya riset yang memadai.

Menurut Viktor, adanya riset dapat mengoptimalkan berbagai potensi alam yang belum dieksplorasi. Selama ini potensi alam terbatas penggunaannya secara trasional, misalnya potensi dari tumbuhan sebagai bahan baku obat-obatan.

“Dipedalaman Timor, karena luka, mesti ke Rumah Sakit lagi, lama. Orang ambil rumput, yang orang Timor sebut Bunga Putih. Lalu dikucak, ditempel (di luka). Besok luka kering.”

Pertanyaanya, lanjut Viktor, kenapa Nusa Tenggara Timur tidak memiliki produk obat-obatan sendiri. Sedangkan kekayaan natural yang tersedia begitu melimpah.

Berbagai potensi daerah kata Gubernur Viktor dapat diteliti dan menghasilkan produk-produk yang unggul di pasaran.

Tambahnya, dalam upaya tersebut, sekarang ini pemerintah Propinsi NTT mengembangkan salah satu potensi daerah yakni Sopi (minuman keras dari Lontar). Melalui suatu riset dan standarisasi, minuman tradional tersebut dikemas dengan merk Sophia lalu dilepas ke pasar.

“Harganya 2,5 juta. Ini minuman standart internasional. Kelas presiden pun boleh minum ini,” papar Viktor sambil menunjukan satu botol Sophia.

Dirinya meyakini jika terdapat laboratorium pusat riset di NTT maka akan banyak lagi potensi alam yang dapat dikembangkan kedepan.

“Kekayaan Nusa Tenggara Timur yang belum kita teliti, menurut saya sangat banyak.  Minuman itu (Sophia) contohnya, itu adalah salah satu yang diekstrak, selain daripada Enau, Lontar, Gewang, dan buah Maja.”

Jika telah dibangun, laboratorium pusat di riset akan menampung seluruh peneliti asalt NTT. Diakuinya, selama ini dirinya jenuh mengamati para peneliti asal NTT mesti berkarir di luar negeri lantaran ketidak tersediaan fasilitas.

Diwawancarai awak media usai pertemuan, Gubernur Viktor Laiskodat mengatakan Pemerintah Propinsi berharap keterlibatan dari seluruh Kabupaten dan Kota. Selaku Gubernur, dirinya telah membicarakan rencana tersebut kepada para pimpinan daerah.  “Hampir semuanya (Bupati/Walikota), oke. Semuanya setuju untuk dibangun Lab.” (ARA/EN)