Ende  

Uniflor Ende Gelar Wisuda Dalam Nuansa Adat Nagekeo

Avatar photo
Atraksi tarian adat etnis Nagekeo dalam acara wisuda mahasiswa Universitas Flores lulusan semester ganjil tahun angkatan 2021/2022 (08/06/22)
Atraksi tarian adat etnis Nagekeo dalam acara wisuda mahasiswa Universitas Flores lulusan semester ganjil tahun angkatan 2021/2022 (08/06/22)

Universitas Flores (Uniflor) Ende menggelar acara wisuda bagi mahasiswa lulusan semester ganjil tahun angkatan 2021/2022, Rabu 8 Juni 2022. Acara wisuda digelar di Auditorium H.J. Gadi Djou dalam nuansa yang kental budaya etnis Nagekeo.

Dalam acara tersebut, Uniflor Ende mewisuda sebanyak 426 orang mahasiswa yang terdiri dari 7 fakultas.

Acara wisuda dikemas secara menarik dalam nuansa adat etnis Nagekeo, mulai dari pakaian yang dikenakan para dosen dan undangan hingga atraksi tari-tarian adat. Selain itu, Uniflor Ende juga mengundang Bupati Nagekeo, Yohanes Don Bosko Do hadir langsung dalam acara tersebut.

Ketua panitia wisuda, Dr. Virginia Nona, S.E, MMA menuturkan, acara wisuda kali ini  mengambil nuansa adat etnis Nagekeo sesuai dengan tema acara, “Melalui Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka, Kita Wujudkan Generasi Yang Unggul dan Terpercaya Sebagai Mediator Budaya”. Ini merupakan kedua kalinya bagi Uniflor mengemas acara wisuda dalam nuansa budaya. Tahun lalu, pada acara yang sama, Uniflor menggelar acara wisuda dalam nuansa adat etnis Ngada.

Acara dimulai dengan tari-tarian adat Nagekeo dilanjutkan dengan Senat Universitas Flores menempati podium dan membuka sidang secara resmi.

Dalam acara tersebut, Uniflor mewisuda sebanyak 426 orang mahasiswa lulusan semester ganjil tahun angkatan 2021/2022. Para wisudawan berasal dari 7 fakultas yakni Fakultas Hukum, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Ekonomi, Bahasa dan Sastra, Teknik, Pertanian, dan Fakultas Teknologi Informasi.

Adapun wisudawan terbaik diraih oleh Maria Anggita Mogi dari Fakultas Bahasa dan Sastra Inggris dengan IPK 3,89. Kemudian secara berturut-turut, Mikhael Beki Kedang dari FKIP dengan IPK 3,87, lalu Helena Alung dari FKIP dengan raihan IPK 3,86.

Kepala LLDIKTI Wilayah XV, profesor Mangadas Lumban Gaol, dalam sambutannya menggambarkan realita yang dihadapi lembaga perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur. Secara keseluruhan, kata dia, jumlah perguruan tinggi di NTT lebih dari 80 universitas, termasuk dibawah naungan kementrian agama, kelautan, maupun kementrian kesehatan.

Namun, kualitas lulusan yang dihasilkan masih rendah sebab banyak perguruan tinggi dalam kondisi yang disebutnya sakit-sakitan. Profesor Mangadas mengapresiasi Universitas Flores sebab tidak termasuk dalam kategori tersebut dan selalu meningkatkan penjaminan mutu pendidikan.

“Total perguruan tinggi di NTT, saya hitung, sekitar 80 lebih karena termasuk dibawah kementrian agama, kementrian kelautan, kementrian kesehahatan. Tapi kalau saya dokter, saya ukur tingkat kesehatannya, banyak sekali yang mau mati dan banyak sekali yang sakit berat,” ucapnya (08/06).

“Syukur Universitas Flores salah satu universitas yang bagus. Status akreditasinya bagus, baik institusi maupun Prodi. Saya berharap untuk ke depan, kita akan semakin baik,”. Profesor Mangadas juga menantang Uniflor sebagai universitas terbesar di Flores, membuka program pasca sarjana atau S2.

“Kalau bisa universitas ini membuka program pasca sarjana, belum ada program pasca sarjana di Flores ini”.

Di tempat sama, Bupati Nagekeo, Yohanes Don Bosco Do, mengingatkan para wisudawan agar tidak berpuas diri dengan momentum wisuda melainkan selalu mengasah ketrampilan dan skill memasuki dunia kerja.

“Pengetahuan dan keterampilan baru itu harus selalu dipelajari, ini tidak selesai hari ini karena terima ijazah,” kata Bupati Don Bosco.

Mengenai tantangan dunia kerja, lanjut Bupati Don Bosco, iklim persaingan kian meningkat begitupun dengan standar-standar yang digunakan sebagai penentu, karena itu daya saing menjadi elemen penting yang mesti selalu ditingkatkan sebab berkaitan langsung dengan kesempatan kerja.

Dirinya mencontohkan seleksi penerimaan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja atau PPPK di Kabupaten Nagekeo. Di Nagekeo, sebanyak 60 persen peserta yang lulus seleksi PPPK ternyata bukan berasal dari Kabupaten Nagekeo, sementara sisanya sebanyak 40 persen berasal dari luar Flores.

“Dua minggu lalu saya serahkan SK-nya buat guru PPPK, itu 60 persen bukan berasal dari Nagekeo, 60 persen. Dan 40 persennya dari luar Flores,” sebutnya.

Oleh karenanya dirinya menekankan peran penting tata kelola pendidikan mulai dari tingkat Dasar, Menengah, hingga Perguruan Tinggi, semakin meningkatkan kualitas pendidikan sehingga menghasilkan lulusan yang berdaya saing. (ARA/EN)