Ende  

Yuk, Ikut THS-THM di Gereja Mautapaga, Olah Fisik Pake Landasan Biblis

Avatar photo
Anggota Tunggal Hati Seminari-Tunggal Hati Maria (THS-THM) berlatih di halaman Gereja Katolik Paroki Mautapaga, Kota Ende (09/09/23)
Anggota Tunggal Hati Seminari-Tunggal Hati Maria (THS-THM) berlatih di halaman Gereja Katolik Paroki Mautapaga, Kota Ende (09/09/23)

Olah fisik menjadi kebutuhan utama hari-hari ini ditengah perangkap budaya modern yang mengedepankan laku instan memanjakkan aktifitas tubuh. Banyak orang ingin keluar dari situasi demikian itu dengan berolahraga.

Di Kota Ende sendiri salah satu olahraga yang banyak diminati adalah beladiri. Ada banyak perguruan dan aliran beladiri yang eksis hingga saat ini, tinggal Kamu pilih saja. Namun, jika Kamu mencari aliran beladiri yang memadukan olah fisik dan spiritual, nampak Kamu harus ke Gereja Katolik Mautapaga.

Advertisement
melki laka lena
Scroll kebawah untuk lihat konten

Di Gereja Katolik Paroki Mautapaga, Kamu bisa menemukan keduanya, Kamu bisa latihan fisik sekaligus mendapat landasan Kitab Suci atau biblis lengkap dengan proses sharing. Keren kan?

Di Gereja Mautapa, Kota Ende, terdapat aliran beladiri Indonesia, pencak silat yang bernafaskan ajaran agama Katolik. Nama aliran ini cukup familiar yakni THS-THM atau Tunggal Hati Seminari-Tunggal Hati Maria. Aliran ini memiliki motto Pro Patria et Ecclesia yang berarti Untuk Gereja dan Negara dengan semboyan, Fortiter in Re Suaviter in Modo atau kokoh dalam pendirian, lembut dalam cara.

Penuturan pelatih THS-THM di Gereja Mautapaga, Romanus Wake (09/09/23), kendati menjadi salah satu aliran beladiri pencak silat, THS-THM bukanlah perguruan melainkan sebuah organisasi dibawah naungan Gereja Katolik.

“Kami memang belajar beladiri namun kami (THS-THM) bukan perguruan. Kami organisasi dibawah naungan Gereja Katolik,” tutur Romanus Wake (09/09).

Di komplek Gereja Katolik Mautapa terdapat dua tempat latihan TSH-THM yakni di Gereja Mautapaga itu sendiri dan satu lagi di SMAK Santo Petrus, Kota Ende. Latihan biasanya dilakukan secara rutin pada hari Kamis, Sabtu dan Minggu.

Latihan THS-THM, sambung Romanus Wake, tidak saja melatih fisik namun meliputi 4 aspek yakni spiritual, fisik, organisasi, dan rekreasi.

Proses latihan diawali dalam nuansa spiritual berlandaskan Kitab Suci atau biblis lalu melakukan sharing. Setelah itu barulah latihan fisik dimulai.

“Ketika datang, kami duduk lingkar lalu doa, kemudian baca Kitab Suci lalu sharing. Setelah sharing masuk dengan olah fisik,” tutur Romanus.

Latihan fisik sendiri dimulai dengan pemanasan sebelum masuk kepada materi latihan. Selesai dengan latihan fisik maka dilanjutkan dengan latihan pernapasan. Olah pernapasan menjadi salah keunikan THS-THM yan jarang ditemukan pada aliran lain.

Jika latihan fisik telah selesai maka dilanjutkan dengan melatih aspek ke 3 yakni organisasi. Disini para anggota dan calon anggota diberikan materi-materi keorganisasian seperti public speaking dan sebagainya. Aspek terakhir adalah rekreasi, dimana para anggota akan diberikan games menarik yang akan menghibur sekalian menambah keakraban para anggota.

Karena proses latihan yang lengkap inilah maka nuansa persaudaraan diantara anggota TSH-THM menjadi amat solid dimana pun berada kendati berbeda-beda tempat latihan. Hal paling penting yang menyatukan seluruh anggota adalah landasan Kitab Suci dimana setiap anggota berupaya meneladani Yesus Kristus dalam kasih dan persaudaraan.

Di THS-THM juga setiap anggota dituntut belajar mengenai kedisiplinan, rendah hati, saling menghargai, dan sebagainya yang tertuang dalam Janji Prasetya.

“Ketika menjadi anggota THS-THM itu nuansa persaudaraan dan kekeluargaan yang sangat-sangat kuat. Jadi kita benar-benar berupaya mengikuti jejak Yesus, karena seperti yang saya katakan tadi, dasarnya adalah religius,” ucapnya. (ARA/EN)