Beberapa elemen menyebut, proyek geothermal menyebabkan kerusakan lingkungan yang berdampak pada penurunan hasil perkebunan masyarakat di sekitar lokasi proyek. Data Keuskupan Agung Ende, salah satu elemen yang telah menyatakan penolakan, menyebut bahwa proyek geothermal telah menyebabkan turunnya debit air dan produktivitas lahan.
Mengenai hal itu, ucap bupati Ende, pemerintah daerah memerlukan kajian yang mampu memberikan penilaian obyektif tentang dampak lingkungan yang telah terjadi di sekitar lokasi proyek geothermal.
“Kita perlu kajian yang benar gitu yah, kajian yang obyektif,” lanjutnya. “Nah setelah itu baru kita bisa bicara”.
BACA JUGA
Selain analisis dampak lingkungan beberapa faktor lain juga akan menjadi pertimbangan pemerintah kabupaten Ende untuk mengambil keputusan. Ia mencontohkan perbedaan dampak lingkungan antara proyek geothermal di kabupaten Ende dengan proyek geothermal yang berada di Mataloko, kabupaten Ngada.
Penuturan bupati Ende, kedua proyek geothermal itu memiliki perbedaan mengenai dampak lingkungan sehingga akan menjadi salah satu pertimbangan pemerintah sebelum mengambil keputusan.
“Kita ini kan berbeda dengan yang terjadi di Mataloko atau di mana, kita ini kan berbeda, mungkin itu akan jadi pertimbangan khusus yah dari kita,” kata bupati Ende. (ARA/EN)
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.






