Relevan dan Berdampak
Program Quick Win atau Program Percepatan yang digagas Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprov NTT) dinilai sangat relevan dengan kondisi sosial dan pembangunan nasional saat ini, khususnya dalam sektor pendidikan.
Melalui pendekatan reformasi birokrasi yang lebih dinamis dan berorientasi pada pelayanan publik, Quick Win menjadi salah satu instrumen penguatan ekosistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
Salah satu akademisi NTT, Dr. Patrisius Kami, S.Pd., M.Hum., menyampaikan pandangannya bahwa Quick Win bukan sekadar agenda periodik, tetapi merupakan bentuk nyata dari proses rebirokratisasi, pendauran ulang pelayanan publik yang menjadi tanggung jawab negara terhadap warganya.
BACA JUGA
“Program Quick Win ini bukan hanya soal percepatan, tapi juga penyadaran bahwa negara punya kewajiban mendasar dalam melayani rakyatnya secara adil dan bermartabat,” ungkap Rektor Universitas Aryasatia Deo Muri (UNADRI) Kupang ini.
Ia menilai, semangat dasar reformasi birokrasi sudah mulai digagas sejak era Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2004, khususnya dengan lahirnya Grand Design Reformasi Birokrasi 2010–2025 melalui Perpres Nomor 81 Tahun 2010.
Quick Win di bidang pendidikan, menurutnya, merupakan pengejawantahan dari prinsip birokrasi yang bersih, profesional, dan akuntabel. Ia mengapresiasi Pemprov NTT karena telah menempatkan persoalan pendidikan sebagai sektor utama yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Tahun ini, tercatat lebih dari 4.000 siswa asal NTT diterima di berbagai perguruan tinggi nasional, dan ratusan lainnya lolos ke sekolah kedinasan, TNI, dan Polri melalui program pendampingan terstruktur yang diluncurkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi. Ini menjadi capaian konkret dari semangat Quick Win yang berpihak pada peningkatan sumber daya manusia.
Meski begitu, ia menekankan pentingnya keberlanjutan dan evaluasi serius dari program-program tersebut.
“Kita tidak ingin Quick Win hanya jadi program rutinitas yang habis masa jabatan ikut habis pula gaungnya. Program ini harus berdampak langsung pada fondasi kehidupan bangsa, terutama pendidikan karakter keindonesiaan,” ujarnya.
BACA JUGA
Ia menyoroti pentingnya orientasi pembangunan SDM yang tidak sekadar diarahkan untuk menjadi tenaga kerja industri semata, tetapi juga tumbuh sebagai manusia Indonesia seutuhnya yakni ber-Tuhan, adil, beradab, bersatu, penuh kebijaksanaan dan berkeadilan.
“Anak-anak NTT yang kuliah di luar daerah atau di kampus-kampus lokal, semua harus punya semangat yang sama yakni menjadi agen perubahan yang berpihak pada rakyat, bukan sekadar menjadi lulusan yang membanggakan almamater, tetapi membawa makna dan perubahan,” tegasnya.
Ia pun berharap agar program Quick Win bisa terus dikawal dan diperkuat sebagai bagian dari gerakan reformasi birokrasi yang mengakar pada nilai-nilai kearifan lokal, karakter Pancasila, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika, serta menjadi kontribusi nyata dalam pembangunan NTT dari desa hingga ke pusat kota.
“Suatu saat nanti, mereka akan kembali ke tengah masyarakat dan berkata dengan lantang: Ayo Bangun NTT!,” tegasnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.






