<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pariwisata Ende &#8211; Ende News</title>
	<atom:link href="https://endenews.com/tag/pariwisata-ende/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://endenews.com</link>
	<description>Berita &#38; Budaya Kabupaten Ende</description>
	<lastBuildDate>Tue, 12 Oct 2021 01:57:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://endenews.com/wp-content/uploads/2023/10/cropped-512-100x75.png</url>
	<title>Pariwisata Ende &#8211; Ende News</title>
	<link>https://endenews.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pengembangan Produk Wisata Desa Harus Dimulai Dari Masyarakat</title>
		<link>https://endenews.com/pengembangan-produk-wisata-desa-harus-dimulai-dari-masyarakat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Oct 2021 01:34:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Wolofeo]]></category>
		<category><![CDATA[Dinas Pariwisata Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian Ecotourism Network]]></category>
		<category><![CDATA[Martinus Satban]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=3742</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pengembangan produk wisata desa harus dimulai dari masyarakat. Pengembangan produk wisata merupakan rangkaian inovasi guna...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/pengembangan-produk-wisata-desa-harus-dimulai-dari-masyarakat/">Pengembangan Produk Wisata Desa Harus Dimulai Dari Masyarakat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pengembangan produk wisata desa harus dimulai dari masyarakat. Pengembangan produk wisata merupakan rangkaian inovasi guna menambah nilai suatu produk dan mempromosikannya. Tujuannya, menambah daya pikat dan menarik minat kunjungan.</p>
<p>Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ende, Martinus Satban, pengembangan produk wisata selalu menjadi titik kemajuan pariwisata yang harus dimulai dari masyarat itu sendiri.</p>
<p>“Pengembangan produk wisata sangat penting dan harus dimulai dari masyarakat. Kita, pemerintah atau LSM (Lembaga Swadaya Masyarat) membantu meningkatkan sumber daya manusianya,” ungkapnya, usai membuka pelatihan <em>Pengembangan Produk Wisata Desa</em> yang digelar yayasan Indecon (<em>Indonesian Ecotourism Network</em>), di Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko, Senin, (12/102021).</p>
<p>Di Kabupaten Ende, lanjutnya, potensi wisata berkelimpahan begitu pula dengan produk, yang mulai dipromosikan para pelaku usaha. Tantangan selanjutnya menurut Satban adalah bagaimana cara mengembangkan produk secara menarik kepada wisatawan.</p>
<p>Pengembangan produk wisata mesti dimulai dari masyarakat itu sendiri. Kreatifitas dan inovasi diperlukan untuk membuat suatu obyek berdaya saing dan memiliki daya pikat. Di sisi lain, pemerintah dan para pegiat pariwisata menyiapkan masyarakat melalui pelatihan dan pendampingan.</p>
<p>Mencontoh beberapa produk wisata desa di Ende yang telah maju, kata Satban, hal itu merupakan keberhasilan inovasi dari masyarakat. Komitmen masyarakat yang secara konsisten mengembangkan produk wisata desa melalui kemasan, promosi, dan atraksi merupakan kunci kemajuan pariwisata di desa itu sendiri.</p>
<p>Sekarang ini, sambungnya, banyak pihak ingin terlibat dalam peran pendampingan namun para pihak tentu akan menilai keseriusan dari masyarakat.</p>
<p>Di tempat yang sama, Emanuel Rae, pegiat pariwisata yang juga merupakan penyelanggara kegiatan Indecon, mengatakan, pengembangan pariwisata baik produk maupun obyek telah dimudahkan dengan kemajuan teknologi.</p>
<p>Kata Emanuel, sekarang ini tinggal peran pegiat pariwisata menumbuhkan inovasi di masyarakat melalui pelatihan atau pendampingan. Sebagai penyelenggara, Indecon, berupaya memacu peran masyarakat melalui peningkatan sumber daya manusia di desa.</p>
<p>Kegiatan Pengembangan Produk Wisata Desa, yang digelar Indecon, diselenggarakan selama 4 hari, melibatkan perwakilan dari 6 desa dan kelurahan.</p>
<p>“Ada 6 desa yang diundang yaitu Wolotopo Timur, kelurahan Se’ulako, desa Roga lebih ke titik Toba dengan fokus Kopi, desa Niowula, kemudian desa Wolofeo dan Sipijena,” kata dia.</p>
<p>Selama 4 hari para peserta akan dilatih mengenai pengambangan produk dan pengelolaan daya tarik wisata. <strong>(ARA/EN)</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/pengembangan-produk-wisata-desa-harus-dimulai-dari-masyarakat/">Pengembangan Produk Wisata Desa Harus Dimulai Dari Masyarakat</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Neni, Pemilik Rumah Kopi, Pernah Ekspor 5 Ton Kopi ke Polandia</title>
		<link>https://endenews.com/neni-pemilik-rumah-kopi-pernah-ekspor-5-ton-kopi-ke-polandia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Sep 2021 11:28:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Cafe Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Cafe Rumah Kopi]]></category>
		<category><![CDATA[Florensia Reni Kumulasari]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi Flores]]></category>
		<category><![CDATA[Kopi Watu Atu]]></category>
		<category><![CDATA[Pariwisata Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=3483</guid>

					<description><![CDATA[<p>Geliat ekonomi kreatif di Kota Ende sedang mekar-mekarnya. Salah satu usaha yang kini marak adalah...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/neni-pemilik-rumah-kopi-pernah-ekspor-5-ton-kopi-ke-polandia/">Neni, Pemilik Rumah Kopi, Pernah Ekspor 5 Ton Kopi ke Polandia</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Geliat ekonomi kreatif di Kota Ende sedang mekar-mekarnya. Salah satu usaha yang kini marak adalah café. Bagi warga Kota Ende, sekarang ini, mudah saja menemukan tempat ngopi dengan beragam proses dan aneka rasa.</p>
<p>Geliatnya, jika ditelusuri lebih dalam, ternyata tidak sebatas di Ende atau regional Nusa Tenggara Timur, melainkan telah menjangkau pasar di luar negeri. <em>Siapa nyana,</em> bidang usaha yang terlihat biasa-biasa saja justru memiliki daya pikat hingga manca negara.</p>
<p>Florensia Reni Kumalasari, akrab disapa Neni, bercerita bahwa dia pernah mengekspor 5 ton kopi ke Polandia. Neni adalah pemilik café “Rumah Kopi” yang terletak di Jalan Garuda, Kota Ende.</p>
<p>Pada tahun 2019, ia dihubungi dan diperkenalkan dengan seorang warga Polandia. Neni diminta memenuhi permintaan 5 ton kopi dari Flores.</p>
<p>“Saya punya bos (dulu) orang Polandia. Dia kenalkan saya dengan temannya, orang Polandia juga, dan dia mau ngambil banyak. 5 ton (kopi),” cerita Neni (17/09/21).</p>
<p>Neni kemudian mulai bekerja memenuhi pesanan. Proses mengumpulkan dilakukan di satu lahan kopi dan dia sendiri turun langsung mengecek kualitas. “Saya ambil dari satu lahan perkebunan dan itu memang sangat-sangat menguras tenaga,” tuturnya.</p>
<p>Apalagi kopi yang diminta jenis arabica yang <em>grade 1</em>. Maksud dari <em>grade 1</em>, jelas Neni, adalah kopi berkualitas dengan total kerusakan tidak lebih dari 5 persen. “Selain itu, ukurannya pun harus sama,” sambungnya.</p>
<p>Setelah bekerja selama dua minggu Neni akhirnya berhasil memenuhi permintaan.</p>
<p><strong>Dahulu Tak Mengerti Kopi</strong></p>
<p>Neni terlihat menikmati bisnis kopi yang tengah ia geluti. Lebih dari itu ia juga amat menguasai dunia kopi dari bibit, tanam, panen, hingga proses pengolahan.</p>
<p>Cerita Neni, dulunya dia tidak mengerti apa-apa tentang kopi. Sebelum menekuni bisnis ini Neni bekerja di Bali. Dia dipercayakan temannya mengurus Villa.</p>
<p>“Awal bekerja sebagai receptionist, terus lama-lama, <em>ya,</em> karena memang saya dilihat menguasai bahasa Inggris, saya diangkat sebagai manager”.</p>
<p>“Saya urus homestay yang lumayan besar di Sanur dengan 5 Villa,” lanjutnya.</p>
<p>Suatu ketika dia dikunjungi tamu dari Jerman. “Itu momen penting dalam hidup”. Lanjut Neni, si turis bertanya semua hal tentang kopi Flores yang dia sediakan di homestay. Neni tentu saja tidak bisa menjawab apa-apa. Si turis lalu berpesan agar dia mempelajarinya.</p>
<p>“Antara malu dan kepikiran. Dari situ saya kembali ke Bajawa”. Niatnya menguasai apapun mengenai kopi. Neni sering bolak-balik Bali-Bajawa setelah itu.</p>
<p>Di Bajawa Neni mengikuti alur kopi pada masa panen. Karena butuh waktu maka ia menginap di rumah warga. “Saya mencatat dari pagi sampai malam, mama (petani kopi) ini buat apa. Jadi kami ke kebun kopi, cara petiknya seperti apa, saya ikut pikul kopi”.</p>
<p>“Sampai proses pembuatan, <em>honey</em> bagaimana, <em>wine</em> bagaimana, <em>semi wash</em> kayak gimana, saya ikutin semua dan saya catat”.</p>
<p>Niat dan usahanya ternyata berbuah manis. Semua dimulai ketika bisnis perhotelan di Bali sepi akibat pandemi dan dia terpaksa berhenti. Pada saat yang sama, salah satu petani kopi di Bajawa, tempat dia belajar, membutuhkan uang dan hendak menjual lahan. Neni, tak lamban berpikir, dia membeli lahan itu dan dijadikannya kebun kopi.</p>
<p>Pada tahun 2020, merasa telah menguasai dunia kopi, Neni lantas membuka café di Jalan Garuda, Kota Ende, yang dia beri nama “Rumah Kopi”. Perlahan usahanya berkembang dan mulai dikenal orang. Saat ini dia telah menghasilkan <em>brand</em> yang dia beri nama, Watu Ata.</p>
<p>Neni bilang, usahanya sekarang benar-benar bikin betah. Bisnis ini dia nikmati seperti seseorang yang tengah menyeruput kopi.</p>
<p>“Saya urus kopi biarpun hasilnya kecil tapi saya menikmati. Beda dengan dulu, memang penghasilnya besar, tapi <em>yah</em> itu, tidak bisa menikmati”. <strong>(ARA/EN)</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/neni-pemilik-rumah-kopi-pernah-ekspor-5-ton-kopi-ke-polandia/">Neni, Pemilik Rumah Kopi, Pernah Ekspor 5 Ton Kopi ke Polandia</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
