<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Arena Pacuan Kuda di Ende &#8211; Ende News</title>
	<atom:link href="https://endenews.com/tag/arena-pacuan-kuda-di-ende/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://endenews.com</link>
	<description>Berita &#38; Budaya Kabupaten Ende</description>
	<lastBuildDate>Wed, 06 Apr 2022 10:51:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://endenews.com/wp-content/uploads/2023/10/cropped-512-100x75.png</url>
	<title>Arena Pacuan Kuda di Ende &#8211; Ende News</title>
	<link>https://endenews.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kocak, Begini Trik Curang Joki Pacuan Kuda di Ende</title>
		<link>https://endenews.com/kocak-begini-trik-curang-joki-pacuan-kuda-di-ende/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Feb 2022 14:24:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Arena Pacuan Kuda di Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Joki Pacuan Kuda di Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Pacuan Kuda Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=4282</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pacuan kuda sudah sudah menjadi bagian dari sejarah perkembangan Kota Ende. Olahraga ini jadi primadona...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/kocak-begini-trik-curang-joki-pacuan-kuda-di-ende/">Kocak, Begini Trik Curang Joki Pacuan Kuda di Ende</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pacuan kuda sudah sudah menjadi bagian dari sejarah perkembangan Kota Ende. Olahraga ini jadi primadona dan pusat keramaian sekitar tahun 1967 hingga 1983. Ramainya pacuan memacu para joki atau pebalap kuda berusaha memenangkan pertandingan meskipun harus menggunakan berbagai trik curang.</p>
<p>Menurut para pebalap, ada banyak trik curang yang bisa digunakan seorang joki saat memacu kuda di arena. Ada yang “main halus”, ada juga yang gunakan trik kasar walau beresiko fatal bagi lawan. Bahkan, ada yang sampai menggunakan cara-cara mistis.</p>
<p>Penuturan Linus Lengo (4/12/21), terdapat beberapa trik curang yang sering digunakan oleh joki saat balapan, yang paling sering dia temukan ialah memukul lawan dengan rotan yang digunakan memacu kuda.</p>
<p>“Banyak trik, paling sering kita pukul lawan dengan rotan yang kita pegang,” kata Linus Lengo (4/12/21).</p>
<p>Trik tersebut biasa digunakan jika jarak antara kuda yang satu dengan lainnya tidak jauh atau bersaing. Jika itu terjadi maka seringkali joki sengaja mengayun rotan, seolah hendak memukul pantat kuda, tetapi ayunan rotan agak melebar ke joki lawan di sampingnya.</p>
<p>“Nah, kalau caranya begitu <em>kan</em> panitia tidak tahu, atau kalau mereka tahu pun pasti dianggap tidak sengaja,” ceritanya sambil tersenyum.</p>
<p>Joki lainnya, Chris Lengo, membenarkan bahwa trik itu sering dilakukan. Dia juga menambah beberapa trik lain yang pasti ditemukan di arena pacuan misalnya menusuk pantat kuda lawan dengan ujung rotan.</p>
<p>Trik itu hanya bisa digunakan ketika kita sedang berada di belakang lawan. Caranya dengan mendekat ke kuda lawan di depan, menunduk, lalu secepat mungkin menusuk pantat kuda lawan. Kuda yang ditusuk akan kaget sehingga langkahnya jadi kacau, saat itulah dia akan dilewati.</p>
<p>Cara lain yang tergolong nakal adalah dengan menghempas kaki joki hingga terjatuh dari kuda. Cara ini cukup brutal sehingga jarang ditemui di arena pacuan.</p>
<p>Pebalap lain yakni Pala Ahmadu bahkan pernah dikerjai pakai trik yang sedikit mistis menggunakan telur. Cerita dia, pernah suatu ketika saat kudanya berlari paling depan, dia tiba-tiba dilempar telur dari barisan penonton.</p>
<p>“Saya pernah kena “buat” (dikerjai secara mistis), waktu itu kuda saya Bintang Flores, jadi mereka berdiri di pinggir-pinggir arena lempar saya dengan telur. Tapi tidak bisa, saya tetap juara,“ kata Pala Ahmadu (5/12/21). Saat itu, sambungnya, sudah menjadi rahasia umum di kalangan peminat pacuan kuda bahwa lemparan telur bukan ulah iseng belaka melainkan menyangkut percobaan secara mistis.</p>
<p>Beragam trik curang yang terjadi di arena balapan disebabkan gengsi perlombaan saat itu, kata para joki. <strong>(ARA/EN)</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/kocak-begini-trik-curang-joki-pacuan-kuda-di-ende/">Kocak, Begini Trik Curang Joki Pacuan Kuda di Ende</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Joki Kuda di Ende Mayoritas Anak SD</title>
		<link>https://endenews.com/mengapa-joki-kuda-di-ende-mayoritas-anak-sd/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Feb 2022 12:40:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Arena Pacuan Kuda di Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Joki Kuda di Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Pacuan Kuda di]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=4275</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pacuan kuda sudah sudah menjadi bagian dari sejarah perkembangan Kota Ende. Olahraga ini jadi primadona...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/mengapa-joki-kuda-di-ende-mayoritas-anak-sd/">Mengapa Joki Kuda di Ende Mayoritas Anak SD</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pacuan kuda sudah sudah menjadi bagian dari sejarah perkembangan Kota Ende. Olahraga ini jadi primadona dan pusat keramaian sekitar tahun 1967 hingga 1983. Menariknya, penelusuran media ini menemukan bahwa para joki atau pebalap kuda saat itu bukanlah kalangan pemuda, melainkan anak-anak usia Sekolah Dasar atau SD.</p>
<p>Pebalap seperti Pala Ahmadu, Lius Kato, hingga Chris Lengo merupakan siswa SD saat menjadi pebalap di arena pacuan kuda.</p>
<p>Pala Ahmadu masuk arena sebagai joki saat dia masih duduk di bangku kelas 3 SD, begitupun Yulius Kato rekan seangkatannya di arena pacuan Ippi. Yunior mereka Chris Lengo malah masuk area balapan kuda saat dia masih kelas 2 SD.</p>
<p>Anak-anak dipilih sebagai joki bukan tanpa alasan melainkan ada sebabnya, dan itu sangat menentukan hasil akhir balapan.</p>
<p>Menurut Lius Kato, anak-anak usia SD dipilih karena berat badan yang ringan. Hal itu menentukan karena berhubungan kelincahan dan kecepatan kuda saat balapan. Semakin ringan tubuh joki maka makin enteng kuda berlari begitupun sebaliknya.</p>
<p>“Kalau badan kita (joki) ringan, kuda itu makin laju. Tetapi kalau terlalu berat nanti kuda setengah mati, tidak lincah,” jelasnya (2/12/21).</p>
<p>Kala itu, sambungnya, mencari joki kuda di kalangan anak-anak SD tidak terlalu sulit sebab mayoritas teman seusianya bisa menunggangi kuda. Kuda merupakan alat transportasi sehari-hari dan karena itulah anak-anak SD, yang penting memiliki kuda, pasti mengetahui cara menunggang.</p>
<p>Lius sendiri merupakan anak dari keluarga yang memiliki banyak kuda. Dua kuda mereka yang sering diikutkan lomba bernama <em>Awas Jopu</em> dan <em>Malu-malu</em>. Awal menjadi joki, kata Lius, dikarenakan pacuan kuda merupakan trend yang menjadi buah bibir masyarakat saat itu. Dia lalu tertarik dan mulai menekuni pacuan saat duduk di bangku kelas 3 SD.</p>
<p>Postur Lius yang cocok sebagai pebalap kuda amat membantu saat dia tampil setiap tahun di arena pacuan berbentuk lingkaran di Ippi. Lius  sempat menjadi juara di kelasnya kendati tidak pernah menjadi Juara Umum.</p>
<p>Hal yang sama juga diutarakan teman seangkatannya di pacuan Ippi, Pala Ahmadu. Kata Pala Ahmadu (5/12/21), posturnya yang kecil menjadi salah satu penentu keberhasilannya lomba. Penunggang kuda <em>Merah Kaju Karo </em>ini bercerita, postur kecilnya saat itu amat membantu ketika menunduk memacu kuda. Alhasil, dia menjadi jawara pacuan kuda di Ippi dengan raihan dua kali Juara Umum.</p>
<p>Begitupun dengan Chris Lengo, penyabet penghargaan joki teladan saat pacuan berlangsung di Jalan Kelimutu.  Chris masuk arena balapan ketika masih duduk di kelas 2 SD. Dia dipercaya menunggangi kuda karena posturnya yang ringan.</p>
<p>Kata Chris, posturnya saat itu membuatnya fleksibel ketika berada di atas kuda. Di sisi lain, kuda yang dia joki, <em>Bunga Bakung</em>, bisa mengeluarkan kecepatan optimal karena posturnya yang ringan. Perpaduan itu menjadikan dia berhasil menyabet penghargaan sebagai joki teladan.</p>
<p>Penuturan para mantan joki kuda, faktor postur berlaku umum atau di arena pacuan di manapun. Namun tekan mereka, postur hanyalah salah satu faktor selain bakat, keberanian, dan skill joki itu sendiri. <strong>(ARA/EN)</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/mengapa-joki-kuda-di-ende-mayoritas-anak-sd/">Mengapa Joki Kuda di Ende Mayoritas Anak SD</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah Pacuan Kuda di Ende: Berawal di Ippi, Berakhir di Eltari</title>
		<link>https://endenews.com/sejarah-pacuan-kuda-di-ende-berawal-di-ippi-berakhir-di-eltari/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 20 Feb 2022 11:55:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Arena Pacuan Kuda di Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Joki Kuda di Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Pacuan Kuda di Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Pacuan Kuda Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=4269</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kerlap-kerlip lampu di rangka besi membentuk patung kuda menambah semarak malam di Kota Ende. Letaknya...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/sejarah-pacuan-kuda-di-ende-berawal-di-ippi-berakhir-di-eltari/">Sejarah Pacuan Kuda di Ende: Berawal di Ippi, Berakhir di Eltari</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kerlap-kerlip lampu di rangka besi membentuk patung kuda menambah semarak malam di Kota Ende. Letaknya pun strategis, di ruas jalan utama Kelimutu, Kota Ende, persis di tengah-tengah perempatan traffic light. Menyala dengan berbagai warna seperti merah, hijau, biru, atau warna campuran yang terus berganti warna tiap detiknya, kerlap-kerlip patung kuda bikin Kota Ende makin cantik.</p>
<p>Patung itu dibuat 3 tahun lalu oleh Pemerintah Kabupaten Ende. Anggarannya biasa saja, tidak fantastis. Kata pemerintah, patung kuda dibangun untuk merefleksi sejarah yang pernah membentang puluhan tahun lalu di Kota Ende. Sejarahnya tentang pacuan kuda, perlombaan paling ramai yang berlangsung sekitar akhir tahun 60-an hingga awal tahun 80-an.</p>
<p>Sejarah pacuan kuda di Ende memang belumlah seterang matahari di siang hari. Masih suram kalau enggan dikatakan gelap, baik soal tahun maupun lokasi balapan. Soal lokasi misalnya, beberapa warga mengatakan bahwa arena pacuan bukan di Jalan Kelimutu melainkan di sekitar pelabuhan Ippi, sebagian lain mengatakan di Jalan Kelimutu. Hal sama juga akan didapati jika bertanya mengenai tahun berapa pacuan kuda berlangsung.</p>
<p>Penelusuran <em>Ende News</em> menemukan beberapa sosok sentral saat pacuan kuda berlangsung di Ende. Beberapa Joki atau penunggang kuda maupun pemilik lahan berhasil kami temui demi mendapatkan fakta yang paling dekat dengan kebenaran.</p>
<p>Para joki atau pebalap kuda generasi awal seperti Lius Kato dan Linus Lengo berhasil kami temui kendati tak banyak lagi yang bisa mereka ingat. Agar lebih jelas, keduanya mengarahkan kami menemui sosok sentral yang mampu menggambarkan pacuan kuda di Ende secara utuh. Dia adalah Pala Ahmadu, pria kelahiran Ende tahun 1958.</p>
<p>Pala Ahmadu menjadi sosok sentral sebab merupakan pemilik lahan yang dijadikan arena pertama pacuan kuda. Selain itu, mantan Kepala Dinas Perpustakaan Kabupaten Ende ini juga merupakan joki yang sering jadi Juara Umum.</p>
<p>Pala Ahmadu ketika ditemui kediamannya (5/12/21), bercerita, dahulu saat dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Kota Ende masih jauh dari kata &#8220;ramai&#8221;. Jalanan kota kebanyakan belum diaspal, tidak ada lampu jalan, kendaraan minim, dan toko pun sedikit. Kendati demikian, bukan berarti warga Kota Ende hidup tanpa keramaian sama sekali. Saat itu, ada satu pusat keramaian yang paling dicintai warga dan sering bikin heboh seisi kota: Pacuan kuda.</p>
<p>Pacuan kuda di Kota Ende sudah dimulai sejak zaman ayahnya, Ahmadu Kaju Karo, arena saat itu menggunakan trek lurus di Jalan Adisoetjipto, start dari pesisir pantai Pelabuhan Ippi hingga finish di belokan yang mengarah ke tanjakan Boanawa. Jarak start ke finish sekitar 1 kilometer.</p>
<p>“(Arena pacuan) Di Jalan Adisoetjipto, dari depan pelabuhan Ippi itu lurus sampai belokan… Waktu itu arena pacuan bentuknya lurus, belum lingkaran,” kata Pala Ahmadu (5/12/21). Saat itu dia masih kelas 2 SD dan sering diajak ayahnya menonton balapan karena mereka merupakan pemilik kuda.</p>
<p>Setelah itu arena balapan kuda dipindahkan di depan Masjid Ar-Rahman, Ippi, sekitar 50 meter dari arena sebelumnya. Letaknya di RT 07/RW 02, Kelurahan Tetandara, Kota Ende. Arena ini paling unik karena satu-satunya arena pacuan di Ende yang berbentuk lingkaran. Jarak titik start hingga finish sekitar 1,4 kilometer.</p>
<p>Tanah yang digunakan sebagai arena pacuan kuda milik keluarga Pala Ahmadu. Ceritanya, tanah itu diminta langsung oleh Bupati Ende Hasan Aroeboesman kepada kakeknya, <em>kepala</em> Kaju Karo. Kata “<em>kepala</em>” pada awalan penyebutan nama merupakan jabatan kakeknya saat itu sebagai kepala wilayah. Tanah mereka dipakai Pemkab Ende dengan perjanjian kerjasama antara Bupati Aroeboesman dengan <em>kepala</em> Kaju Karo. Pemindahan arena pacuan diperkirakan terjadi tahun 1967, diukur dari usia Pala Ahmadu saat itu 9 tahun.</p>
<p>“Saya tidak ingat tahunnya tetapi waktu sudah di situ (arena bentuk lingkaran), saya sudah jadi joki. Waktu itu saya kelas 3 SD, usia saya kira-kira 8 atau 9 tahun”.</p>
<p>Di arena inilah Pala Ahmadu mulai merintis karir sebagai joki atau pebalap kuda, kendati dia masih kelas 3 SD. Dia generasi pertama yang membalap di arena lingkaran selain nama-nama beken kala itu seperti Lius Kato dan Linus Lengo.</p>
<p>Pacuan kuda diselenggarakan Pemkab Ende setiap tahun menjelang Hari Kemerdekaan 17 Agustus atau Hari Pahlawan 1O November. Kadang dua kali setahun, kadang juga cuma satu kali setahun, tidak tentu memang namun yang pasti setiap tahun ada pacuan, jelasnya. Panitia penyelenggara pacuan adalah Dinas Peternakan Kabupaten Ende.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/sejarah-pacuan-kuda-di-ende-berawal-di-ippi-berakhir-di-eltari/">Sejarah Pacuan Kuda di Ende: Berawal di Ippi, Berakhir di Eltari</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
