<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ema Gadi Djou &#8211; Ende News</title>
	<atom:link href="https://endenews.com/tag/ema-gadi-djou/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://endenews.com</link>
	<description>Berita &#38; Budaya Kabupaten Ende</description>
	<lastBuildDate>Sat, 03 Jun 2023 13:27:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://endenews.com/wp-content/uploads/2023/10/cropped-512-100x75.png</url>
	<title>Ema Gadi Djou &#8211; Ende News</title>
	<link>https://endenews.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kocak, Ema Gadi Djou Puyeng Gegara Mia Salah Baca Ramalan</title>
		<link>https://endenews.com/kocak-ema-gadi-djou-puyeng-gegara-mia-salah-baca-ramalan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Jun 2023 13:13:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Ema]]></category>
		<category><![CDATA[Ema Gadi Djou]]></category>
		<category><![CDATA[Herman Josef Gadi Djou]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=5911</guid>

					<description><![CDATA[<p>Cerita cinta selalu dibumbui intrik dan senyuman, ada pertentangan, ada kasih, tentu saja sekalian dengan...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/kocak-ema-gadi-djou-puyeng-gegara-mia-salah-baca-ramalan/">Kocak, Ema Gadi Djou Puyeng Gegara Mia Salah Baca Ramalan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita cinta selalu dibumbui intrik dan senyuman, ada pertentangan, ada kasih, tentu saja sekalian dengan cerita-cerita jenaka yang mengitarinya. Itu hal lumrah dalam hubungan percintaan disaat sepasang kekasih menyulam perbedaan diantara mereka, dan cerita semacam itu dialami juga oleh pasangan Herman Josef Gadi Djou (Ema) dan isterinya, Maria Aloysia Parera Gadi Djou atau Mia.</p>
<p>Ada saja cerita-cerita jenaka yang terjadi ketika pasangan itu masih merajut hubungan cinta alias berpacaran. Diceritakan Mia Gadi Djou (<em>75 Tahun Sang Visioner H. J. Gadi Djou, 2012)</em>, pernah sekali waktu dia salah baca ramalan bintang dan bikin Ema pusing tujuh keliling <em>gegara</em> itu. Saking puyengnya Ema sampai gadai baju kemeja yang belum lama dibelinya.</p>
<p>Cerita jenaka itu terjadi kala mereka berpacaran dibangku kuliah. Ema kuliah di Jogya sementara Mia di Solo. Keduanya sering saling mengunjungi apabila liburan atau tengah kelimpahan rezeki. Namun mendadak saja jadwal kunjungan mereka berubah lantaran Mia salah baca ramalan bintang.</p>
<p>Suatu kali ketika kantongnya lagi <em>kere</em> Mia membaca ramalan bintang dan menemukan kondisi keuangan orang-orang berbintang Aries “memuaskan”. Mia yang kala itu amat mempercayai ramalan bintang langsung sumbringah. Tentu saja dia girang, kekasihnya Ema Gadi Djou berbintang Aries. Tanpa berpikir dua kali dia langsung cari pinjaman menuju Yogya.</p>
<p>“Satu kali, pas lagi tidak punya uang, saya membaca di ramalan bintang bahwa bintang Aries ‘keuangan memuaskan,’ cerita Mia Gadi Djou (<em>75 Tahun Sang Visioner H. J. Gadi Djou, 2012 : 27</em>). “Tanpa pikir panjang, saya meminjam uang teman kos, naik kereta api ke Yogya,” sambungnya.</p>
<p>Tiba di tempat Ema dari jauh Mia melihat kekasihnya itu sedang menapis beras hendak masak nasi. Mia lalu mendekat dan ketika menyapa Ema dia malah <em>dicuekin.</em> Kaget, tersinggung, airmatanya langsung jatuh, campur aduk perasaan Mia saat itu.</p>
<p>“Ketika sampai, saya didiamkan saja, disapa dengan setengah hati. Saya sangat tersinggung karena oleh si Ema dianggap angin saja. Saya pun menangis, padahal saya kurang suka menangis”.</p>
<p>Setelah situasi reda baru Mia tahu rupa-rupanya Ema kebingungan dan jengkel lantaran saat itu dia juga lagi <em>kere</em>.  Ema hanya memiliki beras satu <em>mok</em> tanpa uang sepeserpun, kata Mia. “Ramalan bintang meleset jauh”.</p>
<p>Namun Mia mengenal Ema sebagai sosok yang selalu memiliki jalan keluar. Pasangan kekasih ini kemudian berembuk lalu Ema putuskan menjual baju kemeja yang baru dibelinya. Kemeja itu dibeli Ema seharga Rp 75 dan dijual kembali dengan harga Rp 50. “Uang hasil penjualan <em>hem</em> (kemeja) dibagi dua, dua puluh lima untuk saya dan dua puluh lima lagi untuk si Ema”.</p>
<p>Berkorban untuk gadis yang dia cintai nampaknya begitu indah dirasakan Ema, uang Rp 25 bagiannya masih dia gunakan membeli tiket kereta api untuk Mia dan mentraktirnya.</p>
<p>Cerita jenaka pasangan ini ternyata tak sampai disitu saja. Tiket yang dibeli Ema hilang ketika Mia menunggu kereta api, Ema tentu saja puyeng lagi dan jengkel lagi. Tetapi seperti kata Mia, kekasihnya itu sosok yang cepat sekali meredakan amarah. Dia lalu membeli lagi tiket untuk Mia.</p>
<p>Kisah Mia Gadi Djou dia sangat mempercayai ramalan bintang ketika masih remaja, berbeda dengan Ema yang menganggapnya sambil lalu. <em>Gegara</em> ramalan bintang Mia bahkan sempat heran tentang hubungan mereka karena Ema berbintang Aries sedangkan dia berbintang Virgo, kurang cocok menurut ramalan. “Tetapi si Ema bilang jangan percaya ramalan,” cerita Mia.</p>
<p>Setelah Ema menyelesaikan tugas-tugas kenegaraannya sebagai Bupati Ende dan membesarkan Uniflor, Mia dan Ema mengisi hari-hari tuanya dengan membaca ramalan bintang. “Sekarang gantian anak-anak yang sibuk, jadilah saya dan si Ema yang mengisi waktu dengan membaca perbintangan dan persioan”. <strong>(ARA/EN)</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/kocak-ema-gadi-djou-puyeng-gegara-mia-salah-baca-ramalan/">Kocak, Ema Gadi Djou Puyeng Gegara Mia Salah Baca Ramalan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kisah Cinta Ema dan Mia Gadi Djou</title>
		<link>https://endenews.com/kisah-cinta-ema-dan-mia-gadi-djou/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2022 09:32:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Ema]]></category>
		<category><![CDATA[Ema Gadi Djou]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Herman Josef Gadi Djou]]></category>
		<category><![CDATA[Mia Gadi Djou]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=5461</guid>

					<description><![CDATA[<p>Minggu, 28 Agustus 2022, Maria Aloysia Parera Gadi Djou, istri mantan Bupati Ende Herman Josef...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/kisah-cinta-ema-dan-mia-gadi-djou/">Kisah Cinta Ema dan Mia Gadi Djou</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu, 28 Agustus 2022, Maria Aloysia Parera Gadi Djou, istri mantan Bupati Ende Herman Josef Gadi Djou berpulang ke pangkuan Ilahi. Kepergian Mia Gadi Djou meninggalkan kenangan manis bagi orang-orang terkasih.</p>
<p>Beberapa saat setelah ia dinyatakan meninggal, putranya, Lourentius Gadi Djou menulis, “Waktu muda mereka berdansa, ketika tua mereka tetap berdansa, sekarang mereka sudah berdansa di surga”. Lori, sapaan akrab Laurentius, menulis itu sembari memajang foto keduanya berdansa saat masih muda dan kala mereka berusia senja.</p>
<p>Memang, sosok Mia tidak bisa lepas dari Herman Gadi Djou, pribadi yang dikenal masyarakat Ende dengan Bupati Ema. Mia sudah mendampingi Ema sejak mereka muda dan menjadi tandem yang kalem bagi sosok yang dikenal keras nan disiplin itu.</p>
<p>Menurut Abraham Gampar, kerabat keduanya, Mia dan Ema pertama kali bertemu pada 1963 saat keduanya menempuh pendidikan di kampus. Mia studi di Sekolah Hakim dan Jaksa di Solo sedangkan Ema mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pertemuan kedua terjadi di acara tutup tahun yang diadakan Solo.</p>
<p>“Suatu saat menjelang Tahun Baru 1963, kami diundang untuk perayaan Tahun Baru di rumah Bapak Bernadus Pallus di Solo. Saya mengajak kak Ema untuk turut dalam acara itu,” tulis Abraham Gampar dalam <em>75 Tahun Sang Visioner H. J. Gadi Djou, 2012, hal. 55</em>.</p>
<p>“Kak Ema sepakat untuk dini hari tanggal 31 Desember berjalan ke Solo menggunakan Kereta Api”.</p>
<p>Abraham Gampar sendiri tak jadi berangkat lantaran ketinggalan kereta hanya Ema tetap berangkat mengikuti acara itu. Di acara itulah pertama kalinya Ema dan Mia bertemu muka, tulisnya, yang menjadi lembar pertama dalam buku cinta mereka.</p>
<p>Nampaknya ada hal yang lolos dari pantauan Abraham, dia tak mengetahui bahwa Ema sebenarnya telah merencanakan keberangkatan ke Solo, tetapi bukan karena kota itu indah atau acara tutup tahun melainkan karena ada Mia di sana. <em>Siapa nyanya</em> ternyata Ema sudah mengenal Mia jauh sebelum hari itu.</p>
<p>Diceritakan Mia Gadi Djou, dia dan Ema sudah lama berkenalan karena Ema adalah teman dari kakaknya, Tote Parera. Keduanya sering bertemu saat Ema pulang libur di Ende, biasanya mereka jalan-jalan atau makan-makan.</p>
<p>“Sebagai mahasiswa yang datang dari Jawa untuk berlibur, Ema cukup dikenal karena setiap sore pasti Ema bermain bola. Biasanya siang sekitar jam 11.00 kami bertemu untuk makan mie atau sate, dan biasanya kami jalan bertiga, si Ema, teman saya Yo Benge, dan saya,” cerita Mia <em>(hal.25).</em></p>
<p>Setelah itu Mia melanjutkan studi di Sekolah Hakim dan Jaksa di Solo. Suatu ketika Mia main ke Yogya menyambangi temannya yang juga dari Ende, kehadiran Mia diketahui oleh Ema yang lantas pergi mencarinya. Mereka pun bertemu di Stasiun Kereta Api walaupun sebentar saja karena Mia hendak kembali ke Solo.</p>
<p>Setelah pertemuan itu keduanya bertemu lagi di Solo saat acara tutup tahun 1963, Mia sendiri melukiskan pertemuan ini dengan indah. “Pertemuan pertama kali kami di Yogya terjadi di Stasiun Kereta Api. Kami bertemu kembali tahun 1963, tepatnya saat tahun baru, gantian si Ema datang lagi ke Solo”.</p>
<p>Usai pertemuan di acara tutup tahun Ema kembali mengajak Abraham mengunjungi Mia di Solo, kali ini secara khusus untuk menyatukan dua hati. Hubungan pun terjalin dan keduanya saling mengunjungi atau berkirim surat.</p>
<p>Pacaran ala Ema dan Mia sejatinya sama dengan kisah asmara khas kaula muda, apalagi tipikal Ema yang keras tentu bikin bumbu cerita mereka <em>berseliweran</em>. Pernah terjadi, cerita Abraham, Ema marah besar gara-gara Mia melangar kesepakatan yang telah dibuat. Ternyata mereka bersepakat tak saling mengunjungi saat Ema fokus ujian, kesepakatan itu terbentur jadwal Mia yang sudah memasuki masa liburan.</p>
<p>“Benar saja, bukan disambut dengan senyuman oleh kak Ema malah dengan amarah karena kak Ema berpegang teguh pada kesepakatannya untuk tidak diganggu saat itu,” cerita Abraham.</p>
<p>“Mengatasi situasi demikian saya bangun dan berkata, ‘kalau begitu saya antar pulang kak Mia ke terminal kembali ke Solo’ “, sambungnya.</p>
<p>Mendadak Abraham mempunyai solusi untuk mengantar Mia bukan ke terminal melainkan ke losmen di dekat asrama mereka menunggu Ema selesai ujian. Abraham saat itu yakin Ema akan menyesal dan pasti mencari Mia. Dan betul saja prediksi Ambraham, begitu ujian selesai, penyesalan pun menghampiri Ema dan dia langsung mencari-cari Mia di asrama.</p>
<p>“Mulanya saya menjawab kak Mia sudah ke Solo, tetapi kak Ema tidak percaya dan saya mengatakan dengan jujur bahwa kak Mia bersama kami di sini. Setelah mereka bertemu, kak Ema menyampaikan permohonan maaf atas kemarahannya lalu membawa kak Mia pergi untuk mengantarnya ke Solo dan berdamai saat itu”.</p>
<p>Layaknya remaja pada umumnya, Ema juga sering mengunjungi Mia di Solo dan mengajaknya jalan-jalan atau makan-makan. Mia menuliskan Ema sebagai pribadi yang tidak pelit dan sering mentraktirnya serta teman-teman.</p>
<p>Suatu ketika kekonyolan terjadi saat Ema main ke Solo, cerita Mia. Saat itu dia datang dengan modal pas-pasan dan berharap Mia memiliki duit untuk ongkos pulang. Memang, aku Mia, sejak berpacaran jika menyangkut uang mereka saling bantu tetapi masalahnya saat itu Mia juga lagi kere.</p>
<p>Begitu datang, teman-teman Mia menyambut Ema dengan memesan makanan dan minuman. “Si Ema kebingungan, mau bayar dengan apa?&#8230; Kalau ingat kejadian itu, kami sering tertawa, mengingat bagaimana ekspresi si Ema waktu itu,” tulis Mia.</p>
<p>Kisah asmara mereka berlanjut hingga ke pelaminan. Ema dan Mia Gadi Djou menikah pada tahun 1965 di Gereja Kota Baru, Yogyakarta. Menurut Abraham Gampar, singkatan nama mereka diberikan kepada putri pertama mereka, Emmi: Ema dan Mia.</p>
<p>Masih di tahun yang sama mereka pulang ke Ende dan memulai kehidupan baru. Mengenai kehidupan di Ende, Mia Gadi Djou bercerita, awalnya mereka meniti karir dari nol karena itu kehidupan rumah tangga mereka amat sulit khususnya ekonomi. Mereka masih tinggal di rumah orangtua Mia sebab gaji Ema sebagai koordinator Ikatan Petani Pancasila (IPP) masih Rp 50. Mereka saling menguatkan menjalani situasi yang nampaknya masih jauh dari kata mapan itu.</p>
<p>Namun tak ada badai yang tak reda, beberapa waktu berselang Ema dikenalkan oleh Bung Kanis Pari kepada Wakil Gubernur NTT saat itu El Tari. Pertemuan yang nantinya membawa Ema ke puncak karirnya ini terjadi pada bulan September 1965 saat kunjungan Menteri Perkebunan Frans Seda. Satu tahun berselang El Tari yang telah menjadi Gubernur NTT memanggil Ema ke Kupang dan mempercayakannya berbagai posisi penting. Ema berhasil menjadi orang kepercayaan El Tari dan karena itu diorbitkan menjadi Bupati Daerah Tingkat II Ende.</p>
<p>Kehidupan ekonomi memang membaik tetapi ada tertulis makin tinggi pohon makin kencang angin bertiup. Jabatan yang diemban dalam berbagai posisi ternyata tak lepas dari tantangan, dan lagi-lagi keduanya kembali saling menguatkan satu sama lain.</p>
<p>Misalnya saja saat Ema kalah telak dalam pemilihan Bupati Ende 1967 atau ketika awal menjabat sebagai Bupati Ende pada 1973 dimana posisi kas daerah minus terlilit hutang, keduanya tegar dan berhasil melewatinya sebagai pemenang. “Banyak tantangan tetapi semua dihadapi dengan tenang,” tulis Mia.</p>
<p>Ikatan yang kuat diantara mereka membuat segala sesuatu dilewati secara bersama-sama layaknya dua orang yang sedang berdansa. <strong>(ARA/EN)</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/kisah-cinta-ema-dan-mia-gadi-djou/">Kisah Cinta Ema dan Mia Gadi Djou</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saat Ema Gadi Djou Bawakan Kisah Sengsara Yesus Pada Minggu Palma</title>
		<link>https://endenews.com/saat-ema-gadi-djou-bawakan-kisah-sengsara-yesus-pada-minggu-palma/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Apr 2022 05:41:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Ema]]></category>
		<category><![CDATA[Ema Gadi Djou]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Herman Josef Gadi Djou]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=5017</guid>

					<description><![CDATA[<p>Herman Josef Gadi Djou atau Ema Gadi Djou, mantan Bupati Ende, ternyata pernah membawakan Kisah...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/saat-ema-gadi-djou-bawakan-kisah-sengsara-yesus-pada-minggu-palma/">Saat Ema Gadi Djou Bawakan Kisah Sengsara Yesus Pada Minggu Palma</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Herman Josef Gadi Djou atau Ema Gadi Djou, mantan Bupati Ende, ternyata pernah membawakan Kisah Sengsara Yesus dalam perayaan Minggu Palma. Dikisahkan oleh karibnya, Abraham Gampar, Ema Gadi Djou membawakannya pada Minggu Palma tahun 1973 di Gereja St. Yosef Naikoten, Kota Kupang.</p>
<p>Perayaan Minggu Palma merujuk pada kisah masuknya Yesus Kristus ke Kota Yerusalem sebelum Dirinya dikorbankan dalam Penyaliban. Minggu Palma disebut juga sebagai pembuka Pekan Suci seminggu sebelum Paskah diperingati oleh umat Katolik.</p>
<p>Berdasarkan tradisi Gereja Katolik, Kisah Sengsara Yesus pada Minggu Palma dibawakan dalam lagu berirama klasik Gregorian dan diperankan oleh 3 tokoh. Narator (pembaca kisah) dengan warna suara yang agak mendatar, tokoh antagonis musuh Yesus (orang-orang Yahudi, Pilatus, Imam Kepala, dan lain-lain) dengan warna suara yang meninggi (tenor), dan tokoh Yesus dengan nada rendah (Bariton/Bass).</p>
<p>&#8220;Pemeran tiga tokoh ini adalah Abraham Gampar (sang dirigen sebagai narator), pak Hany Wadhy (tenor) sebagai tokoh antagonis, dan kak Ema Gadi Djou sebagai Yesus dengan suara Bariton,&#8221; tulis Abraham Gampar dalam <em>75 Tahun Sang Visioner H. J. Gadi Djou, 2012, hal. 58.</em></p>
<p>Uniknya, perayaan Minggu Palma di tahun 1973 bertepatan dengan hari ulang tahun Ema Gadi Djou pada tanggal 4 April. Keunikan lain, ternyata mereka “menyelundupkan” sahabat mereka Hany Wadhy yang bukan umat di Paroki tersebut bergabung ke dalam koor.</p>
<p>“Pak Hany Wadhy, anggota DPRD kala itu, bertepatan dengan masa sidangnya datang dari Ende untuk menginap di rumah kak Ema… Umat tidak pernah bertanya apakah pemeran orang Yahudi (Pak Hany Wadhy) adalah umat Paroki Naikoten atau bukan?” kisah Abraham Gampar.</p>
<p>Maklum, mereka bertiga adalah sahabat akrab yang memang sulit dipisahkan. Persahabatan mereka sudah terjalin sejak lama khususnya saat susah-senang diperantauan kala menempuh pendidikan di Jogyakarta. Hany Wadhy bahkan sudah mengenal Ema Gadi Djou jauh sebelumnya, karena itulah ketika pertama kali tiba di Jogya untuk berkuliah, orang pertama yang dia cari adalah Ema. Abraham Gampar apalagi, saat itu dia tinggal serumah dengan Ema Gadi Djou di Kupang, dan persahabatan mereka makin tak terpisahkan ketika satu tahun berselang dia mengambil adik Ema Gadi Djou sebagai istrinya.</p>
<p>Cerita Abraham Gampar, ini merupakan momen pertama kalinya mereka berkumpul kembali setelah sempat terpisah usai menyelesaikan pendidikan di Jogya. “Kami bertiga yang dulunya berteman pada saat kuliah bertemu kembali saat acara ini berlangsung”.</p>
<p>Teks Minggu Daun Palma akhirnya diambil Abraham Gampar dari Gereja dan mereka pun mulai berlatih.</p>
<p>Ema Gadi Djou sedikit kesulitan membawakan kisah Yesus sebab baru pertama kali, kenang Abraham Gampar, namun karena Minggu Palma ditahun itu bertepatan dengan hari ulang tahun Ema maka dia pun berlatih dengan keras. Alhasil, dia pun berhasil membawakannya secara baik.</p>
<p>“Karena didukung oleh motivasi yang sangat tinggi untuk mendapat nilai tambah rohani pada hari ulang tahunnya, maka perannya pun dikuasai dengan baik dan pada hari Minggu Daun tahun 1973 itu kisah sengsara Yesus Kristus dibawakan dengan baik oleh pemeran yang kebetulan serumah”. (<strong>ARA/EN</strong>)</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/saat-ema-gadi-djou-bawakan-kisah-sengsara-yesus-pada-minggu-palma/">Saat Ema Gadi Djou Bawakan Kisah Sengsara Yesus Pada Minggu Palma</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Bung Kanis Pari Kenalkan Ema Gadi Djou ke El Tari</title>
		<link>https://endenews.com/cerita-bung-kanis-pari-kenalkan-ema-gadi-djou-ke-el-tari/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jan 2020 08:09:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Ema]]></category>
		<category><![CDATA[Ema Gadi Djou]]></category>
		<category><![CDATA[Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Ende News]]></category>
		<category><![CDATA[H. J. Gadi Djou]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=232</guid>

					<description><![CDATA[<p>Suatu hari pada bulan September 1965, ada kunjungan Menteri Perkebunan, Drs. Frans Seda dan Wakil...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/cerita-bung-kanis-pari-kenalkan-ema-gadi-djou-ke-el-tari/">Cerita Bung Kanis Pari Kenalkan Ema Gadi Djou ke El Tari</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari pada bulan September 1965, ada kunjungan Menteri Perkebunan, Drs. Frans Seda dan Wakil Gubernur El Tari bersama rombongan di Mautenda, Ende. Di dalam rombongan itu ada juga Bung Kanis Pari.</p>
<p>Di Mautenda, rombongan telah ditunggu oleh para petani yang terhimpun dalam Ikatan Petani Pancasila (IPP). IPP merupakan kelompok petani yang bernaung dibawah Keuskupan Agung Ende.</p>
<p>Kelompok ini di koordinatori oleh Herman Josef Gadi Djou, si sarjana ekonomi yang baru baru saja menyelesaikan pendidikan di UGM. Pria yang akrab disapa Ema ini, merupakan koordinator IPP untuk wilayah Lio. Gajinya kala itu Rp 50.</p>
<p>Ketika IPP mendapat kunjungan dari Mentri dan Wagub El Tari, maka Ema sebagai koordinator berada di tengah-tengah para petani. Ema mendampingi para petani dan menjelaskan situasi mereka kepada dua orang besar itu.</p>
<p>Situasi berjalan datar-datar saja sampai Bung Kanis mengejutkan kedua orang besar itu. Di sela-sela kunjungan, Bung Kanis memperkenalkan Ema kepada Frans Seda dan El Tari, “ini seorang sarjana ekonomi pertanian jebolan UGM.” El tari kaget, ada sarjana lulusan UGM di antara para petani.</p>
<figure id="attachment_234" aria-describedby="caption-attachment-234" style="width: 800px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-234 size-full" src="https://endenews.com/wp-content/uploads/2020/01/1-el-tari-1.jpg" alt="Ema Gadi Djou berjalan di belakang El Tari" width="800" height="400" title="Cerita Bung Kanis Pari Kenalkan Ema Gadi Djou ke El Tari 1" srcset="https://endenews.com/wp-content/uploads/2020/01/1-el-tari-1.jpg 650w, https://endenews.com/wp-content/uploads/2020/01/1-el-tari-1-768x384.jpg 768w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption id="caption-attachment-234" class="wp-caption-text">(Ema Gadi Djou berjalan di belakang El Tari)</figcaption></figure>
<p>Awal mula perkenalan Ema dengan El Tari ini diceritakan kembali oleh Mia Gadi Djou, istri Ema, dalam buku, “<em>75 Tahun Sang Visioner H. J. Gadi Djou</em> (2012).”  Perkenalan itu dapat dikatakan merupakan awal mula dari cerita panjang karir Ema di Pemprov NTT.</p>
<p>Bahkan, bisa jadi itu juga awal cerita suksesi Ema menjadi Bupati Kabupaten Daerah Tingkat (Dati) II Ende. Sebab, setelah ke Kupang dan bekerja di Pemprov NTT, Ema menjadi salah satu kepercayaan El Tari dan dipersiapkan olehnya menjadi Bupati Ende.</p>
<p>Cerita Mia, setelah dikenalkan oleh Bung Kanis, Ema langsung diajak El Tarik ke Kupang, namun saat itu Ema menolak karena baru beberapa bulan bekerja di IPP. Lagipula, status Ema masih terikat sebab pendidikannya di UGM dibiayai oleh Keuskupan Agung Ende.</p>
<p>Bulan Januari 1966, Ema kembali dipanggil ke Kupang lewat RRI Kupang, namun Ema yang tak punya Radio tak mengetahui adanya Radiogram tersebut.  Syukurnya, salah satu kerabat Ema yang merupakan Kadis Peternakan menyampaikan kepada Ema bahwa ada panggilan dari Kupang untuk segera menghadap El Tari.</p>
<p>Atas izin Uskup Agung Gabriel Manek, Ema berangkat ke Kupang. Di Kupang, Ema diminta menjadi staf proyek ekspor-impor di Kantor Gubernur.</p>
<p>Bekerja di Pemprov NTT, Ema membuktikan dirinya sebagai pegawai yang cekatan dan pekerja keras. Dari tahun ke tahun karir Ema terus menanjak dan menjadi salah satu anak kepercayaan Gubernur El Tari.</p>
<p>Karena dedikasi yang semangat kerjanya yang tinggi, El Tari akhirnya kepincut dan mempersiapkan Ema sebagai Bupati Ende. Suatu kepercayaan yang akhirnya terwujud ketika Ema menang dalam pemilihan Bupati Dati II Ende pada 1973.</p>
<p><em>Tak dinyana</em>, perkenalan singkat antara Ema dan El Tari yang dimotori oleh Bung Kanis pada akhirnya melahirkan seorang pemimpin muda yang energik dan visioner. &#8220;Bupati Ema,&#8221; begitu orang Ende menyapa dan mengenangnya.<strong> (ARA/EN)</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/cerita-bung-kanis-pari-kenalkan-ema-gadi-djou-ke-el-tari/">Cerita Bung Kanis Pari Kenalkan Ema Gadi Djou ke El Tari</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Karir dan Karya Bupati Ema</title>
		<link>https://endenews.com/karir-dan-karya-bupati-ema/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jan 2020 07:27:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati H. J. Gadi Djou]]></category>
		<category><![CDATA[Ema Gadi Djou]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=226</guid>

					<description><![CDATA[<p>Herman Josef Gadi Djou adalah salah satu Bupati yang pernah memimpin Kabupaten Ende. Ia merupakan...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/karir-dan-karya-bupati-ema/">Karir dan Karya Bupati Ema</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Herman Josef Gadi Djou adalah salah satu Bupati yang pernah memimpin Kabupaten Ende. Ia merupakan Bupati Ende yang ketiga setelah Winokan dan Aroeboesman.</p>
<p>Gadi Djou dilahirkan dari keluarga sederhana di Ndona pada 4 April 1937. Ayahnya bernama Josef Tapo dan ibunya bernama Anna.</p>
<p>Herman Josef Gadi Djou atau akrab disapa Ema Gadi Djou (atau Ema saja) memulai bangku pendidikan di Verolg School (VVS) di Ndona. Setelah tamat VVS di Ndona, Ema melanjutkan sekolahnya ke SMP Frateran Ndao. Dari Frateran Ndao Ema melanjutkan pendidikan di SMAK Syuradikara.</p>
<p>Sejarah hidup Ema sejak kanak-kanak hingga masa tuanya, ditulis secara lengkap dalam buku, “<em>75 Tahun Sang Visioner H. J. Gadi Djou</em> (2012)” yang disusun oleh Natsi Koten, <em>dkk.</em> Buku ini merupakan rangkuman testimony dari kelurga, kerabat, dan orang-orang yang pernah bekerja bersama Ema.</p>
<p>Istri Ema Gadi Djou, Mia, yang ikut menulis dalam buku ini menceritakan, setelah lulus dari Syuradikara, Ema sempat 1 tahun mengajar di SMPK Wolowaru, sebelum pada tahun 1962 berangkat ke Jogja melanjutkan pendidikan di Universitas Gadjah Mada.</p>
<p>Soal keberangkatan ke Jogja sebenarnya punya cerita menarik. Waktu itu tahun 1962, Keuskupan Agung Ende (KAE) mencari calon mahasiswa yang mau dibiayai kuliah dan diharapkan, bekerja di KAE setelah selesai. Atas persetujuan ayahnya, Yosef Tapo, akhirnya Ema dibiayai oleh KAE.</p>
<p>Pada bulan Juli 1965 Ema menyelesaikan kuliah di fakultas Ekonomi Pertanian di Universitas Gadjah Mada.</p>
<p>Pada tahun yang sama ia menikah dengan Maria “Mia” Aloysia Parera (sekarang Mia Gadi Djou). Keduanya menikah di Gereja Kota Baru, Yogyakarta.</p>
<p>Setelah itu pada 3 Juni 1965 Ema kembali ke Ende dan bekerja di Ikatan Petani Pancasila (IPP), Keuskupan Agung Ende. Ema diberi jabatan sebagai koordinator wilayah Lio dengan gaji Rp 50.</p>
<p>Karir Ema berlanjut di Kupang sebagai pegawai di Kantor Gubernur. Ema berangkat ke Kupang pada 1 Februari 1966 dan ditempatkan di divisi Ekspor Impor Crash Program dan merangkap sebagai Wakil Kepala Inspeksi Keuangan dan Pajak Daerah NTT.</p>
<p>Menempati jabatan ini Ema mendapat tantangan berat dari Gubernur Eltari. Ia harus mendapatkan 600 ton Kopra dalam waktu singkat. Setelah bekerja selama 3 bulan terkumpul 650 ton Kopra. Kopra yang yang dikumpulkan dikirim melalui 2 pelabuhan, yakni pelabuhan Ende dan Maumere. Inilah momen pertama kalinya NTT melakukan ekspor.</p>
<p>Setelah beberapa lama mengurusi ekspor NTT, Ema diangkat menjadi Kepala Bagian Ekonomi (waktu itu belum Biro), sekaligus menjabat sebagai Wakil Direktur Perusahaan Daerah, sekarang PD Flobamora. Ema juga dipercaya menjadi Kepala Inspeksi Pajak serta menjadi Sekretaris Badan CESS NTT.</p>
<p>Sebagai Kepala Inspeksi Pajak Daerah, Ema mendapat tantangan harus mampu menaikan Pendapatan Asli Daerah NTT. Untuk itu atas persetujuan Gubernur El Tari, Ema membuat terobosan penerimaan langsung ke wajib pajak.</p>
<p>Terobosan ini mendapat tantangan dari DPRD NTT, namun ia dibantu H. Umar Bajideh yang menyatakan bahwa hal tersebut dibenarkan dalam tata kerja pemungutan pajak dan ada aturan hukumnya. Karena itu terobosan ini berlaku sampai sekarang, dimana penagihan langsung oleh petugas pajak.</p>
<p>Sedangkan di CESS, (Customs Executive Support System) NTT yang diketuai Boeky, SH, Ema bahu-membahu menyusun Perencanaan Pembangunan NTT 25 Tahun ke depan dan NTT Dalam Angka. Untuk tugas terakhir itu, dikerjakan selama 3 bulan, kerja siang malam.</p>
<p>Kerja keras dan kepandaian Ema membuatnya menjadi salah satu anak kepercayaan Gubernur El Tari. Bahkan Ema, oleh Gubernur El Tari dipersiapkan menjadi Bupati Daerah Tingkat (Dati) II Ende.</p>
<p>Tahun 1967, menurut Mia Gadi Djou, Ema dibujuk oleh para tokoh Partai Katolik agar bersedia dicalonkan menjadi Bupati Ende. Ema yang masih polos dengan idealisme memajukan Ende, sekonyong-konyong menerima tawaran itu.</p>
<p>Bujuk rayu dan pernyataan dukungan ternyata muslihat belaka. Partai Katolik yang punya banyak kader di DPRD Ende ternyata belok haluan saat pemilihan. Ema hanya memperoleh 2 suara. Kalah telak!</p>
<p>Orang Ende di Kupang marah begitupun Gubernur El Tari. El Tari bahkan menyambar pertanyaan, DPRD Ende itu siapa, mengapa tidak pilih Ema. El Tari lalu menyimpulkan Ema perlu belajar lagi.</p>
<p>Tahun-tahun selanjutnya, selain di pemerintahan, peran Ema di partai Golkar juga mulai meononjol. Menurut Yohanes “Hany” Wadhi (<em>hal 149</em>), pada 1971 Ema dipercayakan memenangkan Pemilu 1971 di daratan Flores terutama Kabupaten Ende. Dalam Pemilu ini Golkar meraih kemenangan 70 %.</p>
<p>Tahun 1973 Bupati H. Hasan Aroeboesman selesai masa jabatan dan diadakan suksesi pemilihan bupati baru.</p>
<p>Pada pemilihan bupati 1973 Ema ditawarkan lagi. Akan tetapi kali ini nampaknya agak berbeda, Ema yang masih trauma atas pemilihan sebelumnya, tidak mau memasukan surat kesediaan sebagai syarat untuk dipilih DPRD.</p>
<p>Namun Gubernur El Tari berkehendak lain. Melalui Kadit Sospol, Ema diperintahkan segera memasukan surat kesediaan. Rupanya El Tari telah amat yakin Ema siap memimpin Kabupaten Ende. Ema akhirnya memasukan surat tersebut.</p>
<p>Ada 2 calon dalam pemilihan ini, Golkar mencalonkan Ema Gadi Djou bertarung dengan Jakob Keda yang dicalonkan Partai Katolik. Ema  menang dan terpilih menjadi Bupati Ende. Ema menjadi Bupati dalam usia masih muda yakni 36 tahun.</p>
<p>Hany Wadhi masih ingat dengan jelas momen pelantikan ketika Bupati Ema menyampaikan pidato. Ada dua pokok pikiran yang ia tekankan, pertama, ia katakan, “menjadi sorang pemimpin harus berani, bukan untuk memukul lawan sampai KO, tetapi berani untuk memutuskan berbuat sesuatu bagi kepentingan orang banyak.&#8221;</p>
<p>Kedua, “jika anda ingin membuat rencana kerja jangka pendek tanamlah jagung, jika anda ingin membuat rencana jangka panjang tanamlah pohon, jika anda ingin membuat rencana abadi didiklah bangsamu.” Dua pokok pikiran yang disampaikan dalam pidato pelantikannya inilah yang nantinya amat terasa dalam 10 tahun ia memimpin Kabupaten Ende.</p>
<p>Bupati Ema tidak pernah fokus pada urusan politik khususnya menjatuhkan lawan. Sebalik fokus berkarya dan turun langsung mengurusi masyarakat. Komitmen yang tertuang dalam dua pokok pikiran benar-benar terwujud dalam kepemimpinannya, apalagi tentang pendidikan, ia urusi bahkan hingga berakhir masa jabatan sebagai Bupati Ende. <em><strong>Bersambung&#8230; (Agustinus Rae/EN)</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/karir-dan-karya-bupati-ema/">Karir dan Karya Bupati Ema</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
