<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sejarah &#8211; Ende News</title>
	<atom:link href="https://endenews.com/tag/sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://endenews.com</link>
	<description>Berita &#38; Budaya Kabupaten Ende</description>
	<lastBuildDate>Sun, 14 Feb 2021 01:10:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://endenews.com/wp-content/uploads/2023/10/cropped-512-100x75.png</url>
	<title>Sejarah &#8211; Ende News</title>
	<link>https://endenews.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ternyata, Cinta Marsel Petu Kepada Mathilda Berawal Dari Mata</title>
		<link>https://endenews.com/ternyata-cinta-marsel-petu-kepada-mathilda-berawal-dari-mata/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2020 09:56:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Ende News]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Marsel Petu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=576</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tanggal 28 Desember tahun 1995 seorang gadis muda datang ke kota Ende. Gadis itu datang...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/ternyata-cinta-marsel-petu-kepada-mathilda-berawal-dari-mata/">Ternyata, Cinta Marsel Petu Kepada Mathilda Berawal Dari Mata</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tanggal 28 Desember tahun 1995 seorang gadis muda datang ke kota Ende. Gadis itu datang ke Ende untuk menghadiri acara pernikahan teman perempuannya.</p>
<p>Ketika acara berlangsung ia membantu sebagai penerima tamu. Sekali-sekali ia juga turut melayani tamu.</p>
<p>Saat acara makan, si gadis terlihat amat sibuk kesana-kemari melayani tamu.</p>
<p>Tak lama berselang ia berhenti sejenak. Namun bukan karena lelah. Si gadis berhenti sejenak lantaran merasa ada pria yang sedari tadi memperhatikannya.</p>
<p>Gugup dan penasaran adalah denyut yang terus saja memacu hatinya. Dan sejurus kemudian ia beranikan diri menoleh ke arah si pria.</p>
<p>Ternyata benar. Pria itu sedang memandangnya. Mata mereka pun bertemu sesaat namun tak lama, cuma sebentar saja.</p>
<ul>
<li><span style="background-color: #ffffff;"><em><strong>BACA JUGA :</strong></em> <strong><span style="color: #0000ff;"><a style="background-color: #ffffff; color: #0000ff;" href="https://endenews.com/daftar-bupati-ende-sejak-1958/">Daftar Bupati Ende Sejak 1958</a></span></strong></span></li>
</ul>
<p>Tidak lama kemudian mereka berkenalan. Gadis itu bernama Mathilda IImoe, sementara si pria yang curi pandang, bernama Marsel Petu.</p>
<p>Itulah pertama kali keduanya berkenalan, kisah Mathilda IImoe (4/7/2019). Namun Mathilda lupa, siapa gerangan yang memperkenalkan mereka saat itu.</p>
<p>Mathilda IImoe tak pernah mengenal Marsel sebelumnya. “Dari SD (Sekolah Dasar) kan saya di Jogja”, lanjut Mathilda.</p>
<p>Setelah perkenalan itu keduanya akhirnya dekat dan menjalin hubungan. Proses berpacaran pun cukup unik jika dilihat menggunakan kacamata milenial. Pasalnya tak ada jalan bareng dan apel malam minggu. Surat cinta pun tak ada, kata Mathilda.</p>
<p>“Tidak ada pacaran kami. Langsung setelah itu dia (Marsel) datang ke rumah”.</p>
<p>Setelah acara pernikahan tersebut, Mathilda menyempatkan waktu di Ende hingga Tahun Baru. Nah, saat ia berada di Ende inilah Marsel optimalkan peluang.</p>
<p>“Terus dia (Marsel) sampaikan di Mamanya di Reworeke, (bahwa) ada anaknya om Yoseph IImoe”, ulang Mathilda.</p>
<p>Mendengar itu ibunda Marsel Petu gembira.</p>
<p>“<em>Ai moro ema, kau wiki rimba si kai na. Na ana nara ja’o</em>. (Baik anak, kau ambil dia sudah. Itu anak saudara saya),” ulang Mathilda menirukan.</p>
<ul>
<li><span style="background-color: #ffffff;"><em><strong>BACA JUGA :</strong></em> <strong><span style="color: #0000ff;"><a style="background-color: #ffffff; color: #0000ff;" href="https://endenews.com/karir-dan-karya-bupati-ema/">Karier dan Karya Bupati Ema</a></span></strong></span></li>
</ul>
<p>Setelah itu dilangsungkan acara <em>Masuk Minta</em> (Pinangan) pada Juli 1996. Tak lama kemudian pada bulan November 1996 keduanya menikah.</p>
<p>Setelah menikah keduanya dikaruniai tiga orang anak: Carlos Sara, Gabriel Sara, dan Yosephus Sara.<em><strong> (ARA/EN)</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/ternyata-cinta-marsel-petu-kepada-mathilda-berawal-dari-mata/">Ternyata, Cinta Marsel Petu Kepada Mathilda Berawal Dari Mata</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sempat Ikut Soekarno Tinggal di Ende, Ini Perjuangan Cinta Inggit Ganarsih</title>
		<link>https://endenews.com/sempat-ikut-soekarno-tinggal-di-ende-ini-perjuangan-cinta-inggit-ganarsih/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Jan 2020 10:57:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Inggit Ganarsih]]></category>
		<category><![CDATA[Inggit Soekarno]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=257</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Aku menciumnya. Dia menciumku. Lalu aku menciumnya kembali dan kami terperangkap dalam rasa cinta satu...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/sempat-ikut-soekarno-tinggal-di-ende-ini-perjuangan-cinta-inggit-ganarsih/">Sempat Ikut Soekarno Tinggal di Ende, Ini Perjuangan Cinta Inggit Ganarsih</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>“Aku menciumnya. Dia menciumku. Lalu aku menciumnya kembali dan kami terperangkap dalam rasa cinta satu sama lain. Dan semua itu terjadi selagi ia masih istri dari Sanusi dan aku suami dari Oetari,&#8221; tutur Bung Karno kepada Cindy Adams seperti yang dikisahkan dalam buku <em>Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965)</em>.</p>
<p>Wanita yang dicium Bung Karno itu bernama Inggit Ganarsih. Dan itu adalah momen pertama dari cerita cinta mereka yang panjang. Mereka kemudian menikah dan Inggit setia mendampingi Bung Karno termasuk saat masa pembuangan di Kota Ende.</p>
<p>Inggit Garnasih lahir di Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada 17 Februari 1888.</p>
<p>Semula ia terlahir dengan nama Garnasih: dari kata <em>hegar</em> (segar menghidupkan) dan <em>asih</em> (kasih sayang). Sedangkan nama Inggit, mulai digunakan sejak dia kecil karena beberapa kejadian unik yang selalu berkaitan dengan uang seringgit.</p>
<p>“Sejak itulah aku diberi nama, atau katakanlah disebut orang-orang di rumah pada mulanya, si Ringgit, dan kemudian menjadi si Inggit, sebutan yang lebih manis kedengarannya,” kata Inggit dalam <em>Soekarno: Kuantar ke Gerbang</em> karya Ramadhan K.H.</p>
<p>Saat masih remaja, Inggit adalah kembang desa di kampungnya. Si bunga desa itu akhirnya dipersunting oleh Nata Atmaja, seorang patih di Kantor Residen Priangan. Namun, pernikahan ini tidak bertahan lama karena perceraian.</p>
<p>Kemudian, Inggit menikah lagi. Seorang pengusaha yang juga aktif di organisasi Sarekat Islam bernama Haji Sanusi yang menyuntingnya. Penikahan tak berjalan mulus lantaran Sanusi terlampau sibuk. Apalagi, setelah kedatangan Bung Karno.</p>
<p>Bung karno, yang kala itu masih berumur 21 tahun tiba di Bandung untuk melanjutkan kuliah setelah lulus dari Hogere Burger School (HBS) di Surabaya.</p>
<p>Ketika itu, seperti ceritanya kepada Cindi Adams di atas, Bung Karno tidak lajang lagi. Ia punya istri bernama Siti Oetari, putri kesayangan bapak kost-nya di Surabaya, Haji Oemar Said Tjokroaminoto.</p>
<p>Namun, rasa cinta Bung Karno terhadap Oetari lebih seperti cinta kepada saudara. Fondasi yang amat rapuh untuk memulai suatu pernikahan. Karena itulah saat indekos di tempat Inggit di Bandung, Bung Karno menemukan hal lain yang mendebarkan hatinya.</p>
<p>Ketika indekos di tempat Inggit, Bung Karno sering berinteraksi dengan Inggit, dan semakin akrab, hingga terjadilah peristiwa romantis yang tertulis pada awal tulisan ini.</p>
<p>Bung Karno kemudian menceraikan Oetari, begitu juga Inggit yang secara resmi berpisah dengan Sanusi. Keduanya lalu menikah di rumah orangtua Inggit di Jalan Javaveem, Bandung.</p>
<p>Setelah menikah Inggit berperan besar mendorong Sukarno menyelesaikan kuliahnya, yang nyaris terbengkalai akibat aktivitas politik.</p>
<p>Mereka, bersama Ratna Djuami (Omi) yang diangkat sebagai anak, hidup berpindah-pindah kontrakan, sampai akhirnya mereka mendapatkan rumah dengan harga terjangkau di daerah Astana Anyar.</p>
<p>Untuk menunjang ekonomi, pasangan itu membuka indekos murah untuk beberapa anak muda, kebanyakan kader politik Bung Karno. Inggit yang lebih banyak berperan sebagai tulang punggung ekonomi keluarga, menghidupi diri, keluarga, serta suaminya dengan berjualan jamu, bedak dingin, dan rokok kawung lintingan dan bungkusan.</p>
<p>Ketika Bung Karno ditangkap di Yogyakarta pada 29 Desember 1929 dan dijebloskan ke Penjara Banceuy di Bandung lalu dipindahkan ke Sukamiskin, Inggit tidak pernah lelah memberikan semangat kepada suaminya itu.</p>
<p>Kala menjenguk Bung Karno di penjara Inggit kerap menyelipkan uang di dalam makanan yang dibawanya. Uang itu untuk digunakan Bung Karno membujuk penjaga membelikannya surat kabar.</p>
<p>Selama Bung Karno dibui Inggit juga menjadi perantara suaminya agar bisa terus berhubungan dengan para aktivis pergerakan nasional lainnya. Untuk menulis pesan dari Sukarno, Inggit memakai kertas rokok lintingan.</p>
<p>Inggit kala itu memang berjualan rokok buatan sendiri. Rokok yang diikat dengan benang merah, khusus hanya untuk para relasi suaminya, yang di dalamnya berisi pesan-pesan dari bung Karno (<em>Peter Kasenda, Bung Karno Panglima Revolusi</em>, 2014).</p>
<p>Inggit juga sering membawakan buku-buku yang dibutuhkan Sukarno meskipun harus berhati-hati agar tidak ketahuan penjaga. Caranya, seperti yang dikutip dari buku <em>Biografi Inggit Garnasih: Perempuan dalam Hidup Sukarno karya Reni Nuryanti</em> (2007), Inggit berpuasa dulu selama beberapa hari supaya buku itu bisa diselipkan di perutnya</p>
<p>Pada tahung 1934 Bung Karno dibuang ke Ende. Dan Inggit, tanpa ragu mengikutinya ke kota nan jauh ini.</p>
<p>Di Ende, Inggit tidak saja mendampingi tapi juga ikut dalam kegiatan favorit bung Karno, seperti Toneel Klub Kelimutu yang dibentuk si Bung Besar.</p>
<p>Seperti dikisahkan Riwu Ga (dalam <em>Kako Lami Angalai: Riwu Ga, 14 Tahun Kawal Bung Karno</em>), perang Inggit di Ende mencakup hingga menyelundupkan surat-surat bung Karno. Surat-surat itu biasanya diselundupkan dalam buah Labu.</p>
<p>Bila ada yang menjual Labu maka Inggit sudah mengerti. Buah Labu itu dibeli lalu membelahnya secara sembunyi-sembunyi takut diketahui mata-mata Belanda. Bekerja sama dengan dengan seorang warga keturunan Thionghoa di Ende bernama Ang Ho Lang, Inggit, mengatur distribusi surat dari dan kepada Bung Karno.</p>
<p>Pada 1938 bung Karno diasingkan lagi ke Bengkulu dan Inggit setia menemani.</p>
<p>Namun di tempat ini hati Inggit berangsur muram. Bung Karno mulai mengenal secara dekat Fatmawati, remaja putri, anak tokoh Muhammadiyah di Bengkulu bernama Hassan Din.</p>
<p>Inggit kesepian sebab bung Karno sibuk mengajar dan diskusi memperkuat semangat nasionalisme para pejuang di Bengkulu. Suatu akvitas yang semakin mendekatkan bung Karno dan Fatmawati karena sama-sama orang pergerakan. Tapi Inggit pandai menyembunyikan perasaan.</p>
<p>Pernikahan keduanya sempat bertahan hingga pertengahan tahun 1943 ketika mereka telah kembali ke Jakarta dan tinggal di Pegangsaan Timur. Tetapi perasaan dan niat Bung Karno -yang ingin mendapatkan keturunan- tak mungkin terbendung lagi.</p>
<p>Suatu hari dalam pertengahan tahun1943, datang tiga kawan bung Karno yaitu bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan KH. Mas Mansyur. Ketiganya datang mengurus perceraian bung Karno dan Inggit, setelah keduanya bersepakat pisah secara baik-baik.</p>
<p>Bung Karno lalu menikahi Fatmawati pada 1 Juni 1943. Sedang Inggit, telah kembali ke Bandung sebelum pernikahan itu terjadi.</p>
<p>Inggit menepi di Bandung untuk seterusnya dan selalu mengikuti perjalanan bung Karno dari kejauhan. Ketika Bung Karno wafat di Jakarta pada 21 Juni 1970 Inggit hadir mendoakan pejuang yang amat ia cintai itu.</p>
<p>Ia hadir dengan doa dan kepedihan mendalam tepat disamping jasad Bung Karno.</p>
<p>Inggit Garnasih meninggal pada tanggal 13 April 1984, dalam usia 96 tahun. <em><strong>(Agustinus Rae/EN)</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/sempat-ikut-soekarno-tinggal-di-ende-ini-perjuangan-cinta-inggit-ganarsih/">Sempat Ikut Soekarno Tinggal di Ende, Ini Perjuangan Cinta Inggit Ganarsih</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dulu, Sengketa Tapal Batas Ende-Ngada Diselesaikan Sambaran Petir</title>
		<link>https://endenews.com/dulu-sengketa-tapal-batas-ende-ngada-diselesaikan-sambaran-petir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Jan 2020 09:47:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Ende Gadi Djou]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=250</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kejadian aneh terjadi dalam penyelesaian sengketa tapal batas antara Kabupaten Ende dan Kabupaten Ngada, kira-kira...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/dulu-sengketa-tapal-batas-ende-ngada-diselesaikan-sambaran-petir/">Dulu, Sengketa Tapal Batas Ende-Ngada Diselesaikan Sambaran Petir</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kejadian aneh terjadi dalam penyelesaian sengketa tapal batas antara Kabupaten Ende dan Kabupaten Ngada, kira-kira tahun 1974. Sungguh unik sebab sengketa tapal batas tersebut diselesaikan oleh sambaran petir.</p>
<p>Kejadian unik itu diceritakan kembali oleh Th. Ippi Bethan dan Mia Gadi Djou dalam buku, “<em>75 Tahun Sang Visioner H. J. Gadi Djou</em> (2012)”. Ippi Bethan merupakan Sekretaris Pribadi (Sekpri) Bupati Gadi Djou, sedangkan Mia merupakan istri Gadi Djou.</p>
<p>Ippi Bethan yang sempat 3 tahun menjadi Sekpri Gadi Djou (1974-1977), menceritakan,  masalah tapal batas Ende-Ngada yang berada di Kaburea sempat membuat Bupati Ende Gadi Djou cenat-cenut.</p>
<p>Kaburea masuk wilayah Ende tetapi ketika dibuatkan peta oleh Belanda, Kaburea malah masuk Kabupaten Ngada. Ketika terjadi selisih paham antara Ende dan Ngada, digunakanlah peta, sementara peta yang ada itu adalah peta buatan Belanda, di mana Kaburea masuk wilayah Ngada secara administratif.</p>
<p>Karena terjadi selisih paham tentang tapal batas maka langkah-langkah pendekatan dilakukan oleh pemimpin kedua wilayah. Kala itu Ende dipimpin Gadi Djou sedangkan Ngada dipimpin Yan Botha.</p>
<p>Langkah pendekatan ini membuahkan hasil dimana kedua belah pihak sepakat bertemu di titik sengketa.</p>
<p>Ketika kedua belah pihak bertemu di lokasi dan Bupati Ende sedang menyampaikan pidato, tiba-tiba petir menggelegar di udara. Padahal saat itu bukan musim hujan. Petir lalu menyambar seekor burung Gagak dan burung itu jatuh menimpa seekor Kambing. Kambing mati seketika.</p>
<p>Menurut Mia Gadi Djou, masyarakat yang hadir saat itu ketakutan, apalagi pecahnya petir dan cahaya sinar petir menyelubungi seluruh badan Bupati Ende.</p>
<p>Sesaat setelah petir mereda, Bupati Ende bertanya, “apakah bisa disetujui jika tempat matinya burung gagak dan kambing itulah batas antara Ngada dan Ende dipatok?.” Masyarakat dua kabupaten itu langsung menyetujui usulan Bupati Ende.</p>
<p>Peristiwa yang sangat tidak masuk akal tetapi itulah yang terjadi. Persoalan perbatasan antara Kabupaten Ende dan Ngada selesai dengan cara yang tergolong mistis.</p>
<p>Karena diselesaikan secara mistis, cerita Ippi Bethan, Bupati Ende Gadi Djou sempat menjatuhkan air mata. <em><strong>(Agustinus Rae/EN)</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/dulu-sengketa-tapal-batas-ende-ngada-diselesaikan-sambaran-petir/">Dulu, Sengketa Tapal Batas Ende-Ngada Diselesaikan Sambaran Petir</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Bung Kanis Pari Kenalkan Ema Gadi Djou ke El Tari</title>
		<link>https://endenews.com/cerita-bung-kanis-pari-kenalkan-ema-gadi-djou-ke-el-tari/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jan 2020 08:09:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Ema]]></category>
		<category><![CDATA[Ema Gadi Djou]]></category>
		<category><![CDATA[Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Ende News]]></category>
		<category><![CDATA[H. J. Gadi Djou]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=232</guid>

					<description><![CDATA[<p>Suatu hari pada bulan September 1965, ada kunjungan Menteri Perkebunan, Drs. Frans Seda dan Wakil...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/cerita-bung-kanis-pari-kenalkan-ema-gadi-djou-ke-el-tari/">Cerita Bung Kanis Pari Kenalkan Ema Gadi Djou ke El Tari</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari pada bulan September 1965, ada kunjungan Menteri Perkebunan, Drs. Frans Seda dan Wakil Gubernur El Tari bersama rombongan di Mautenda, Ende. Di dalam rombongan itu ada juga Bung Kanis Pari.</p>
<p>Di Mautenda, rombongan telah ditunggu oleh para petani yang terhimpun dalam Ikatan Petani Pancasila (IPP). IPP merupakan kelompok petani yang bernaung dibawah Keuskupan Agung Ende.</p>
<p>Kelompok ini di koordinatori oleh Herman Josef Gadi Djou, si sarjana ekonomi yang baru baru saja menyelesaikan pendidikan di UGM. Pria yang akrab disapa Ema ini, merupakan koordinator IPP untuk wilayah Lio. Gajinya kala itu Rp 50.</p>
<p>Ketika IPP mendapat kunjungan dari Mentri dan Wagub El Tari, maka Ema sebagai koordinator berada di tengah-tengah para petani. Ema mendampingi para petani dan menjelaskan situasi mereka kepada dua orang besar itu.</p>
<p>Situasi berjalan datar-datar saja sampai Bung Kanis mengejutkan kedua orang besar itu. Di sela-sela kunjungan, Bung Kanis memperkenalkan Ema kepada Frans Seda dan El Tari, “ini seorang sarjana ekonomi pertanian jebolan UGM.” El tari kaget, ada sarjana lulusan UGM di antara para petani.</p>
<figure id="attachment_234" aria-describedby="caption-attachment-234" style="width: 800px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-234 size-full" src="https://endenews.com/wp-content/uploads/2020/01/1-el-tari-1.jpg" alt="Ema Gadi Djou berjalan di belakang El Tari" width="800" height="400" title="Cerita Bung Kanis Pari Kenalkan Ema Gadi Djou ke El Tari 1" srcset="https://endenews.com/wp-content/uploads/2020/01/1-el-tari-1.jpg 650w, https://endenews.com/wp-content/uploads/2020/01/1-el-tari-1-768x384.jpg 768w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption id="caption-attachment-234" class="wp-caption-text">(Ema Gadi Djou berjalan di belakang El Tari)</figcaption></figure>
<p>Awal mula perkenalan Ema dengan El Tari ini diceritakan kembali oleh Mia Gadi Djou, istri Ema, dalam buku, “<em>75 Tahun Sang Visioner H. J. Gadi Djou</em> (2012).”  Perkenalan itu dapat dikatakan merupakan awal mula dari cerita panjang karir Ema di Pemprov NTT.</p>
<p>Bahkan, bisa jadi itu juga awal cerita suksesi Ema menjadi Bupati Kabupaten Daerah Tingkat (Dati) II Ende. Sebab, setelah ke Kupang dan bekerja di Pemprov NTT, Ema menjadi salah satu kepercayaan El Tari dan dipersiapkan olehnya menjadi Bupati Ende.</p>
<p>Cerita Mia, setelah dikenalkan oleh Bung Kanis, Ema langsung diajak El Tarik ke Kupang, namun saat itu Ema menolak karena baru beberapa bulan bekerja di IPP. Lagipula, status Ema masih terikat sebab pendidikannya di UGM dibiayai oleh Keuskupan Agung Ende.</p>
<p>Bulan Januari 1966, Ema kembali dipanggil ke Kupang lewat RRI Kupang, namun Ema yang tak punya Radio tak mengetahui adanya Radiogram tersebut.  Syukurnya, salah satu kerabat Ema yang merupakan Kadis Peternakan menyampaikan kepada Ema bahwa ada panggilan dari Kupang untuk segera menghadap El Tari.</p>
<p>Atas izin Uskup Agung Gabriel Manek, Ema berangkat ke Kupang. Di Kupang, Ema diminta menjadi staf proyek ekspor-impor di Kantor Gubernur.</p>
<p>Bekerja di Pemprov NTT, Ema membuktikan dirinya sebagai pegawai yang cekatan dan pekerja keras. Dari tahun ke tahun karir Ema terus menanjak dan menjadi salah satu anak kepercayaan Gubernur El Tari.</p>
<p>Karena dedikasi yang semangat kerjanya yang tinggi, El Tari akhirnya kepincut dan mempersiapkan Ema sebagai Bupati Ende. Suatu kepercayaan yang akhirnya terwujud ketika Ema menang dalam pemilihan Bupati Dati II Ende pada 1973.</p>
<p><em>Tak dinyana</em>, perkenalan singkat antara Ema dan El Tari yang dimotori oleh Bung Kanis pada akhirnya melahirkan seorang pemimpin muda yang energik dan visioner. &#8220;Bupati Ema,&#8221; begitu orang Ende menyapa dan mengenangnya.<strong> (ARA/EN)</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/cerita-bung-kanis-pari-kenalkan-ema-gadi-djou-ke-el-tari/">Cerita Bung Kanis Pari Kenalkan Ema Gadi Djou ke El Tari</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Karir dan Karya Bupati Ema</title>
		<link>https://endenews.com/karir-dan-karya-bupati-ema/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jan 2020 07:27:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati H. J. Gadi Djou]]></category>
		<category><![CDATA[Ema Gadi Djou]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=226</guid>

					<description><![CDATA[<p>Herman Josef Gadi Djou adalah salah satu Bupati yang pernah memimpin Kabupaten Ende. Ia merupakan...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/karir-dan-karya-bupati-ema/">Karir dan Karya Bupati Ema</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Herman Josef Gadi Djou adalah salah satu Bupati yang pernah memimpin Kabupaten Ende. Ia merupakan Bupati Ende yang ketiga setelah Winokan dan Aroeboesman.</p>
<p>Gadi Djou dilahirkan dari keluarga sederhana di Ndona pada 4 April 1937. Ayahnya bernama Josef Tapo dan ibunya bernama Anna.</p>
<p>Herman Josef Gadi Djou atau akrab disapa Ema Gadi Djou (atau Ema saja) memulai bangku pendidikan di Verolg School (VVS) di Ndona. Setelah tamat VVS di Ndona, Ema melanjutkan sekolahnya ke SMP Frateran Ndao. Dari Frateran Ndao Ema melanjutkan pendidikan di SMAK Syuradikara.</p>
<p>Sejarah hidup Ema sejak kanak-kanak hingga masa tuanya, ditulis secara lengkap dalam buku, “<em>75 Tahun Sang Visioner H. J. Gadi Djou</em> (2012)” yang disusun oleh Natsi Koten, <em>dkk.</em> Buku ini merupakan rangkuman testimony dari kelurga, kerabat, dan orang-orang yang pernah bekerja bersama Ema.</p>
<p>Istri Ema Gadi Djou, Mia, yang ikut menulis dalam buku ini menceritakan, setelah lulus dari Syuradikara, Ema sempat 1 tahun mengajar di SMPK Wolowaru, sebelum pada tahun 1962 berangkat ke Jogja melanjutkan pendidikan di Universitas Gadjah Mada.</p>
<p>Soal keberangkatan ke Jogja sebenarnya punya cerita menarik. Waktu itu tahun 1962, Keuskupan Agung Ende (KAE) mencari calon mahasiswa yang mau dibiayai kuliah dan diharapkan, bekerja di KAE setelah selesai. Atas persetujuan ayahnya, Yosef Tapo, akhirnya Ema dibiayai oleh KAE.</p>
<p>Pada bulan Juli 1965 Ema menyelesaikan kuliah di fakultas Ekonomi Pertanian di Universitas Gadjah Mada.</p>
<p>Pada tahun yang sama ia menikah dengan Maria “Mia” Aloysia Parera (sekarang Mia Gadi Djou). Keduanya menikah di Gereja Kota Baru, Yogyakarta.</p>
<p>Setelah itu pada 3 Juni 1965 Ema kembali ke Ende dan bekerja di Ikatan Petani Pancasila (IPP), Keuskupan Agung Ende. Ema diberi jabatan sebagai koordinator wilayah Lio dengan gaji Rp 50.</p>
<p>Karir Ema berlanjut di Kupang sebagai pegawai di Kantor Gubernur. Ema berangkat ke Kupang pada 1 Februari 1966 dan ditempatkan di divisi Ekspor Impor Crash Program dan merangkap sebagai Wakil Kepala Inspeksi Keuangan dan Pajak Daerah NTT.</p>
<p>Menempati jabatan ini Ema mendapat tantangan berat dari Gubernur Eltari. Ia harus mendapatkan 600 ton Kopra dalam waktu singkat. Setelah bekerja selama 3 bulan terkumpul 650 ton Kopra. Kopra yang yang dikumpulkan dikirim melalui 2 pelabuhan, yakni pelabuhan Ende dan Maumere. Inilah momen pertama kalinya NTT melakukan ekspor.</p>
<p>Setelah beberapa lama mengurusi ekspor NTT, Ema diangkat menjadi Kepala Bagian Ekonomi (waktu itu belum Biro), sekaligus menjabat sebagai Wakil Direktur Perusahaan Daerah, sekarang PD Flobamora. Ema juga dipercaya menjadi Kepala Inspeksi Pajak serta menjadi Sekretaris Badan CESS NTT.</p>
<p>Sebagai Kepala Inspeksi Pajak Daerah, Ema mendapat tantangan harus mampu menaikan Pendapatan Asli Daerah NTT. Untuk itu atas persetujuan Gubernur El Tari, Ema membuat terobosan penerimaan langsung ke wajib pajak.</p>
<p>Terobosan ini mendapat tantangan dari DPRD NTT, namun ia dibantu H. Umar Bajideh yang menyatakan bahwa hal tersebut dibenarkan dalam tata kerja pemungutan pajak dan ada aturan hukumnya. Karena itu terobosan ini berlaku sampai sekarang, dimana penagihan langsung oleh petugas pajak.</p>
<p>Sedangkan di CESS, (Customs Executive Support System) NTT yang diketuai Boeky, SH, Ema bahu-membahu menyusun Perencanaan Pembangunan NTT 25 Tahun ke depan dan NTT Dalam Angka. Untuk tugas terakhir itu, dikerjakan selama 3 bulan, kerja siang malam.</p>
<p>Kerja keras dan kepandaian Ema membuatnya menjadi salah satu anak kepercayaan Gubernur El Tari. Bahkan Ema, oleh Gubernur El Tari dipersiapkan menjadi Bupati Daerah Tingkat (Dati) II Ende.</p>
<p>Tahun 1967, menurut Mia Gadi Djou, Ema dibujuk oleh para tokoh Partai Katolik agar bersedia dicalonkan menjadi Bupati Ende. Ema yang masih polos dengan idealisme memajukan Ende, sekonyong-konyong menerima tawaran itu.</p>
<p>Bujuk rayu dan pernyataan dukungan ternyata muslihat belaka. Partai Katolik yang punya banyak kader di DPRD Ende ternyata belok haluan saat pemilihan. Ema hanya memperoleh 2 suara. Kalah telak!</p>
<p>Orang Ende di Kupang marah begitupun Gubernur El Tari. El Tari bahkan menyambar pertanyaan, DPRD Ende itu siapa, mengapa tidak pilih Ema. El Tari lalu menyimpulkan Ema perlu belajar lagi.</p>
<p>Tahun-tahun selanjutnya, selain di pemerintahan, peran Ema di partai Golkar juga mulai meononjol. Menurut Yohanes “Hany” Wadhi (<em>hal 149</em>), pada 1971 Ema dipercayakan memenangkan Pemilu 1971 di daratan Flores terutama Kabupaten Ende. Dalam Pemilu ini Golkar meraih kemenangan 70 %.</p>
<p>Tahun 1973 Bupati H. Hasan Aroeboesman selesai masa jabatan dan diadakan suksesi pemilihan bupati baru.</p>
<p>Pada pemilihan bupati 1973 Ema ditawarkan lagi. Akan tetapi kali ini nampaknya agak berbeda, Ema yang masih trauma atas pemilihan sebelumnya, tidak mau memasukan surat kesediaan sebagai syarat untuk dipilih DPRD.</p>
<p>Namun Gubernur El Tari berkehendak lain. Melalui Kadit Sospol, Ema diperintahkan segera memasukan surat kesediaan. Rupanya El Tari telah amat yakin Ema siap memimpin Kabupaten Ende. Ema akhirnya memasukan surat tersebut.</p>
<p>Ada 2 calon dalam pemilihan ini, Golkar mencalonkan Ema Gadi Djou bertarung dengan Jakob Keda yang dicalonkan Partai Katolik. Ema  menang dan terpilih menjadi Bupati Ende. Ema menjadi Bupati dalam usia masih muda yakni 36 tahun.</p>
<p>Hany Wadhi masih ingat dengan jelas momen pelantikan ketika Bupati Ema menyampaikan pidato. Ada dua pokok pikiran yang ia tekankan, pertama, ia katakan, “menjadi sorang pemimpin harus berani, bukan untuk memukul lawan sampai KO, tetapi berani untuk memutuskan berbuat sesuatu bagi kepentingan orang banyak.&#8221;</p>
<p>Kedua, “jika anda ingin membuat rencana kerja jangka pendek tanamlah jagung, jika anda ingin membuat rencana jangka panjang tanamlah pohon, jika anda ingin membuat rencana abadi didiklah bangsamu.” Dua pokok pikiran yang disampaikan dalam pidato pelantikannya inilah yang nantinya amat terasa dalam 10 tahun ia memimpin Kabupaten Ende.</p>
<p>Bupati Ema tidak pernah fokus pada urusan politik khususnya menjatuhkan lawan. Sebalik fokus berkarya dan turun langsung mengurusi masyarakat. Komitmen yang tertuang dalam dua pokok pikiran benar-benar terwujud dalam kepemimpinannya, apalagi tentang pendidikan, ia urusi bahkan hingga berakhir masa jabatan sebagai Bupati Ende. <em><strong>Bersambung&#8230; (Agustinus Rae/EN)</strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/karir-dan-karya-bupati-ema/">Karir dan Karya Bupati Ema</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
