<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bupati Ema &#8211; Ende News</title>
	<atom:link href="https://endenews.com/tag/bupati-ema/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://endenews.com</link>
	<description>Berita &#38; Budaya Kabupaten Ende</description>
	<lastBuildDate>Sat, 03 Jun 2023 13:27:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://endenews.com/wp-content/uploads/2023/10/cropped-512-100x75.png</url>
	<title>Bupati Ema &#8211; Ende News</title>
	<link>https://endenews.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kocak, Ema Gadi Djou Puyeng Gegara Mia Salah Baca Ramalan</title>
		<link>https://endenews.com/kocak-ema-gadi-djou-puyeng-gegara-mia-salah-baca-ramalan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 03 Jun 2023 13:13:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Ema]]></category>
		<category><![CDATA[Ema Gadi Djou]]></category>
		<category><![CDATA[Herman Josef Gadi Djou]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=5911</guid>

					<description><![CDATA[<p>Cerita cinta selalu dibumbui intrik dan senyuman, ada pertentangan, ada kasih, tentu saja sekalian dengan...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/kocak-ema-gadi-djou-puyeng-gegara-mia-salah-baca-ramalan/">Kocak, Ema Gadi Djou Puyeng Gegara Mia Salah Baca Ramalan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita cinta selalu dibumbui intrik dan senyuman, ada pertentangan, ada kasih, tentu saja sekalian dengan cerita-cerita jenaka yang mengitarinya. Itu hal lumrah dalam hubungan percintaan disaat sepasang kekasih menyulam perbedaan diantara mereka, dan cerita semacam itu dialami juga oleh pasangan Herman Josef Gadi Djou (Ema) dan isterinya, Maria Aloysia Parera Gadi Djou atau Mia.</p>
<p>Ada saja cerita-cerita jenaka yang terjadi ketika pasangan itu masih merajut hubungan cinta alias berpacaran. Diceritakan Mia Gadi Djou (<em>75 Tahun Sang Visioner H. J. Gadi Djou, 2012)</em>, pernah sekali waktu dia salah baca ramalan bintang dan bikin Ema pusing tujuh keliling <em>gegara</em> itu. Saking puyengnya Ema sampai gadai baju kemeja yang belum lama dibelinya.</p>
<p>Cerita jenaka itu terjadi kala mereka berpacaran dibangku kuliah. Ema kuliah di Jogya sementara Mia di Solo. Keduanya sering saling mengunjungi apabila liburan atau tengah kelimpahan rezeki. Namun mendadak saja jadwal kunjungan mereka berubah lantaran Mia salah baca ramalan bintang.</p>
<p>Suatu kali ketika kantongnya lagi <em>kere</em> Mia membaca ramalan bintang dan menemukan kondisi keuangan orang-orang berbintang Aries “memuaskan”. Mia yang kala itu amat mempercayai ramalan bintang langsung sumbringah. Tentu saja dia girang, kekasihnya Ema Gadi Djou berbintang Aries. Tanpa berpikir dua kali dia langsung cari pinjaman menuju Yogya.</p>
<p>“Satu kali, pas lagi tidak punya uang, saya membaca di ramalan bintang bahwa bintang Aries ‘keuangan memuaskan,’ cerita Mia Gadi Djou (<em>75 Tahun Sang Visioner H. J. Gadi Djou, 2012 : 27</em>). “Tanpa pikir panjang, saya meminjam uang teman kos, naik kereta api ke Yogya,” sambungnya.</p>
<p>Tiba di tempat Ema dari jauh Mia melihat kekasihnya itu sedang menapis beras hendak masak nasi. Mia lalu mendekat dan ketika menyapa Ema dia malah <em>dicuekin.</em> Kaget, tersinggung, airmatanya langsung jatuh, campur aduk perasaan Mia saat itu.</p>
<p>“Ketika sampai, saya didiamkan saja, disapa dengan setengah hati. Saya sangat tersinggung karena oleh si Ema dianggap angin saja. Saya pun menangis, padahal saya kurang suka menangis”.</p>
<p>Setelah situasi reda baru Mia tahu rupa-rupanya Ema kebingungan dan jengkel lantaran saat itu dia juga lagi <em>kere</em>.  Ema hanya memiliki beras satu <em>mok</em> tanpa uang sepeserpun, kata Mia. “Ramalan bintang meleset jauh”.</p>
<p>Namun Mia mengenal Ema sebagai sosok yang selalu memiliki jalan keluar. Pasangan kekasih ini kemudian berembuk lalu Ema putuskan menjual baju kemeja yang baru dibelinya. Kemeja itu dibeli Ema seharga Rp 75 dan dijual kembali dengan harga Rp 50. “Uang hasil penjualan <em>hem</em> (kemeja) dibagi dua, dua puluh lima untuk saya dan dua puluh lima lagi untuk si Ema”.</p>
<p>Berkorban untuk gadis yang dia cintai nampaknya begitu indah dirasakan Ema, uang Rp 25 bagiannya masih dia gunakan membeli tiket kereta api untuk Mia dan mentraktirnya.</p>
<p>Cerita jenaka pasangan ini ternyata tak sampai disitu saja. Tiket yang dibeli Ema hilang ketika Mia menunggu kereta api, Ema tentu saja puyeng lagi dan jengkel lagi. Tetapi seperti kata Mia, kekasihnya itu sosok yang cepat sekali meredakan amarah. Dia lalu membeli lagi tiket untuk Mia.</p>
<p>Kisah Mia Gadi Djou dia sangat mempercayai ramalan bintang ketika masih remaja, berbeda dengan Ema yang menganggapnya sambil lalu. <em>Gegara</em> ramalan bintang Mia bahkan sempat heran tentang hubungan mereka karena Ema berbintang Aries sedangkan dia berbintang Virgo, kurang cocok menurut ramalan. “Tetapi si Ema bilang jangan percaya ramalan,” cerita Mia.</p>
<p>Setelah Ema menyelesaikan tugas-tugas kenegaraannya sebagai Bupati Ende dan membesarkan Uniflor, Mia dan Ema mengisi hari-hari tuanya dengan membaca ramalan bintang. “Sekarang gantian anak-anak yang sibuk, jadilah saya dan si Ema yang mengisi waktu dengan membaca perbintangan dan persioan”. <strong>(ARA/EN)</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/kocak-ema-gadi-djou-puyeng-gegara-mia-salah-baca-ramalan/">Kocak, Ema Gadi Djou Puyeng Gegara Mia Salah Baca Ramalan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kisah Cinta Ema dan Mia Gadi Djou</title>
		<link>https://endenews.com/kisah-cinta-ema-dan-mia-gadi-djou/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Aug 2022 09:32:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Ema]]></category>
		<category><![CDATA[Ema Gadi Djou]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Herman Josef Gadi Djou]]></category>
		<category><![CDATA[Mia Gadi Djou]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=5461</guid>

					<description><![CDATA[<p>Minggu, 28 Agustus 2022, Maria Aloysia Parera Gadi Djou, istri mantan Bupati Ende Herman Josef...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/kisah-cinta-ema-dan-mia-gadi-djou/">Kisah Cinta Ema dan Mia Gadi Djou</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu, 28 Agustus 2022, Maria Aloysia Parera Gadi Djou, istri mantan Bupati Ende Herman Josef Gadi Djou berpulang ke pangkuan Ilahi. Kepergian Mia Gadi Djou meninggalkan kenangan manis bagi orang-orang terkasih.</p>
<p>Beberapa saat setelah ia dinyatakan meninggal, putranya, Lourentius Gadi Djou menulis, “Waktu muda mereka berdansa, ketika tua mereka tetap berdansa, sekarang mereka sudah berdansa di surga”. Lori, sapaan akrab Laurentius, menulis itu sembari memajang foto keduanya berdansa saat masih muda dan kala mereka berusia senja.</p>
<p>Memang, sosok Mia tidak bisa lepas dari Herman Gadi Djou, pribadi yang dikenal masyarakat Ende dengan Bupati Ema. Mia sudah mendampingi Ema sejak mereka muda dan menjadi tandem yang kalem bagi sosok yang dikenal keras nan disiplin itu.</p>
<p>Menurut Abraham Gampar, kerabat keduanya, Mia dan Ema pertama kali bertemu pada 1963 saat keduanya menempuh pendidikan di kampus. Mia studi di Sekolah Hakim dan Jaksa di Solo sedangkan Ema mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pertemuan kedua terjadi di acara tutup tahun yang diadakan Solo.</p>
<p>“Suatu saat menjelang Tahun Baru 1963, kami diundang untuk perayaan Tahun Baru di rumah Bapak Bernadus Pallus di Solo. Saya mengajak kak Ema untuk turut dalam acara itu,” tulis Abraham Gampar dalam <em>75 Tahun Sang Visioner H. J. Gadi Djou, 2012, hal. 55</em>.</p>
<p>“Kak Ema sepakat untuk dini hari tanggal 31 Desember berjalan ke Solo menggunakan Kereta Api”.</p>
<p>Abraham Gampar sendiri tak jadi berangkat lantaran ketinggalan kereta hanya Ema tetap berangkat mengikuti acara itu. Di acara itulah pertama kalinya Ema dan Mia bertemu muka, tulisnya, yang menjadi lembar pertama dalam buku cinta mereka.</p>
<p>Nampaknya ada hal yang lolos dari pantauan Abraham, dia tak mengetahui bahwa Ema sebenarnya telah merencanakan keberangkatan ke Solo, tetapi bukan karena kota itu indah atau acara tutup tahun melainkan karena ada Mia di sana. <em>Siapa nyanya</em> ternyata Ema sudah mengenal Mia jauh sebelum hari itu.</p>
<p>Diceritakan Mia Gadi Djou, dia dan Ema sudah lama berkenalan karena Ema adalah teman dari kakaknya, Tote Parera. Keduanya sering bertemu saat Ema pulang libur di Ende, biasanya mereka jalan-jalan atau makan-makan.</p>
<p>“Sebagai mahasiswa yang datang dari Jawa untuk berlibur, Ema cukup dikenal karena setiap sore pasti Ema bermain bola. Biasanya siang sekitar jam 11.00 kami bertemu untuk makan mie atau sate, dan biasanya kami jalan bertiga, si Ema, teman saya Yo Benge, dan saya,” cerita Mia <em>(hal.25).</em></p>
<p>Setelah itu Mia melanjutkan studi di Sekolah Hakim dan Jaksa di Solo. Suatu ketika Mia main ke Yogya menyambangi temannya yang juga dari Ende, kehadiran Mia diketahui oleh Ema yang lantas pergi mencarinya. Mereka pun bertemu di Stasiun Kereta Api walaupun sebentar saja karena Mia hendak kembali ke Solo.</p>
<p>Setelah pertemuan itu keduanya bertemu lagi di Solo saat acara tutup tahun 1963, Mia sendiri melukiskan pertemuan ini dengan indah. “Pertemuan pertama kali kami di Yogya terjadi di Stasiun Kereta Api. Kami bertemu kembali tahun 1963, tepatnya saat tahun baru, gantian si Ema datang lagi ke Solo”.</p>
<p>Usai pertemuan di acara tutup tahun Ema kembali mengajak Abraham mengunjungi Mia di Solo, kali ini secara khusus untuk menyatukan dua hati. Hubungan pun terjalin dan keduanya saling mengunjungi atau berkirim surat.</p>
<p>Pacaran ala Ema dan Mia sejatinya sama dengan kisah asmara khas kaula muda, apalagi tipikal Ema yang keras tentu bikin bumbu cerita mereka <em>berseliweran</em>. Pernah terjadi, cerita Abraham, Ema marah besar gara-gara Mia melangar kesepakatan yang telah dibuat. Ternyata mereka bersepakat tak saling mengunjungi saat Ema fokus ujian, kesepakatan itu terbentur jadwal Mia yang sudah memasuki masa liburan.</p>
<p>“Benar saja, bukan disambut dengan senyuman oleh kak Ema malah dengan amarah karena kak Ema berpegang teguh pada kesepakatannya untuk tidak diganggu saat itu,” cerita Abraham.</p>
<p>“Mengatasi situasi demikian saya bangun dan berkata, ‘kalau begitu saya antar pulang kak Mia ke terminal kembali ke Solo’ “, sambungnya.</p>
<p>Mendadak Abraham mempunyai solusi untuk mengantar Mia bukan ke terminal melainkan ke losmen di dekat asrama mereka menunggu Ema selesai ujian. Abraham saat itu yakin Ema akan menyesal dan pasti mencari Mia. Dan betul saja prediksi Ambraham, begitu ujian selesai, penyesalan pun menghampiri Ema dan dia langsung mencari-cari Mia di asrama.</p>
<p>“Mulanya saya menjawab kak Mia sudah ke Solo, tetapi kak Ema tidak percaya dan saya mengatakan dengan jujur bahwa kak Mia bersama kami di sini. Setelah mereka bertemu, kak Ema menyampaikan permohonan maaf atas kemarahannya lalu membawa kak Mia pergi untuk mengantarnya ke Solo dan berdamai saat itu”.</p>
<p>Layaknya remaja pada umumnya, Ema juga sering mengunjungi Mia di Solo dan mengajaknya jalan-jalan atau makan-makan. Mia menuliskan Ema sebagai pribadi yang tidak pelit dan sering mentraktirnya serta teman-teman.</p>
<p>Suatu ketika kekonyolan terjadi saat Ema main ke Solo, cerita Mia. Saat itu dia datang dengan modal pas-pasan dan berharap Mia memiliki duit untuk ongkos pulang. Memang, aku Mia, sejak berpacaran jika menyangkut uang mereka saling bantu tetapi masalahnya saat itu Mia juga lagi kere.</p>
<p>Begitu datang, teman-teman Mia menyambut Ema dengan memesan makanan dan minuman. “Si Ema kebingungan, mau bayar dengan apa?&#8230; Kalau ingat kejadian itu, kami sering tertawa, mengingat bagaimana ekspresi si Ema waktu itu,” tulis Mia.</p>
<p>Kisah asmara mereka berlanjut hingga ke pelaminan. Ema dan Mia Gadi Djou menikah pada tahun 1965 di Gereja Kota Baru, Yogyakarta. Menurut Abraham Gampar, singkatan nama mereka diberikan kepada putri pertama mereka, Emmi: Ema dan Mia.</p>
<p>Masih di tahun yang sama mereka pulang ke Ende dan memulai kehidupan baru. Mengenai kehidupan di Ende, Mia Gadi Djou bercerita, awalnya mereka meniti karir dari nol karena itu kehidupan rumah tangga mereka amat sulit khususnya ekonomi. Mereka masih tinggal di rumah orangtua Mia sebab gaji Ema sebagai koordinator Ikatan Petani Pancasila (IPP) masih Rp 50. Mereka saling menguatkan menjalani situasi yang nampaknya masih jauh dari kata mapan itu.</p>
<p>Namun tak ada badai yang tak reda, beberapa waktu berselang Ema dikenalkan oleh Bung Kanis Pari kepada Wakil Gubernur NTT saat itu El Tari. Pertemuan yang nantinya membawa Ema ke puncak karirnya ini terjadi pada bulan September 1965 saat kunjungan Menteri Perkebunan Frans Seda. Satu tahun berselang El Tari yang telah menjadi Gubernur NTT memanggil Ema ke Kupang dan mempercayakannya berbagai posisi penting. Ema berhasil menjadi orang kepercayaan El Tari dan karena itu diorbitkan menjadi Bupati Daerah Tingkat II Ende.</p>
<p>Kehidupan ekonomi memang membaik tetapi ada tertulis makin tinggi pohon makin kencang angin bertiup. Jabatan yang diemban dalam berbagai posisi ternyata tak lepas dari tantangan, dan lagi-lagi keduanya kembali saling menguatkan satu sama lain.</p>
<p>Misalnya saja saat Ema kalah telak dalam pemilihan Bupati Ende 1967 atau ketika awal menjabat sebagai Bupati Ende pada 1973 dimana posisi kas daerah minus terlilit hutang, keduanya tegar dan berhasil melewatinya sebagai pemenang. “Banyak tantangan tetapi semua dihadapi dengan tenang,” tulis Mia.</p>
<p>Ikatan yang kuat diantara mereka membuat segala sesuatu dilewati secara bersama-sama layaknya dua orang yang sedang berdansa. <strong>(ARA/EN)</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/kisah-cinta-ema-dan-mia-gadi-djou/">Kisah Cinta Ema dan Mia Gadi Djou</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Awal Bandara Ende: Hutang Lahan Bikin Bupati Nyaris Undur Diri</title>
		<link>https://endenews.com/cerita-awal-bandara-ende-hutang-lahan-bikin-bupati-nyaris-undur-diri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Jul 2022 11:32:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Bandara Haji Hasan Aroeboesman]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Ema]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Ende Aroeboesman]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Ende H J Gadi Djou]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Bandara Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=5444</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bandara Haji Hasan Aroeboesman, Ende, sekarang ini tengah melakukan pembangunan besar-besaran. Terminal bandara yang dibangun...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/cerita-awal-bandara-ende-hutang-lahan-bikin-bupati-nyaris-undur-diri/">Cerita Awal Bandara Ende: Hutang Lahan Bikin Bupati Nyaris Undur Diri</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bandara Haji Hasan Aroeboesman, Ende, sekarang ini tengah melakukan pembangunan besar-besaran. Terminal bandara yang dibangun dengan anggaran Rp 85 miliar akan memastikan bandara kebanggaan warga Ende itu megah <em>nan</em> nyaman.</p>
<p><em>Siapa nyana</em>, bandar udara yang dahulu susah payah dirintis pada masa-masa awal Kabupaten Ende akan berdiri dua lantai dengan fasilitas glamour. Dahulu, kala merintis bandara itu, bupati-bupati Ende dibuat <em>ngos-ngosan</em> dari mencari lahan apalagi anggaran. Salah satu bupati Ende bahkan nyaris undur diri kala menangani permasalahan bandara.</p>
<p>Bandara Ende pertama kali digagas oleh bupati Ende pertama, Haji Hasan Aroeboesman. Pada masa ini selain menggagas dia juga berkontribusi dalam melobi warga Ende untuk pembebasan lahan.</p>
<p>Aroeboesman berhasil melakukan itu tetapi belum sempat melunasi ganti rugi, masa bhaktinya habis dan digantikan oleh Herman Josef Gadi Djou pada 1973. Sosok yang akrab disapa <em>bupati Ema</em>.</p>
<p>Namun, situasi Kabupaten Ende saat itu (masih Daerah Tingkat II) tidak bisa dibayangkan seperti sekarang. Kondisinya  amat susah bahkan melebihi apa yang bisa dibayangkan.</p>
<p>Cerita Ippi Bethan, Sekretaris Pribadi Bupati Ema saat itu, awal menjabat sebagai bupati Ende, Ema Gadi Djou langsung dihadapkan dengan posisi kas yang kosong. Sampai-sampai, invetaris di rumah jabatan bupati Ende sekalipun cuma telur beberapa butir.</p>
<p>“Awal beliau menjadi Bupati, sangat susah, waktu itu kas minus, bahkan kosong. Jadi beliau setengah mati. Pertama- tama beliau hampir putus asa,” kisah Ippi Bethan dalam <em>75 Tahun Sang Visioner H. J. Gadi Djou (hal. 114).  </em></p>
<p>“Ketika awal menjadi Bupati Ende, rumah jabatan bupati tidak punya inventaris satu pun. Jadi, semuanya beliau yang punya. Mulai dari piring, mangkok sampai hal yang kecil lainnya. Semua barang yang beliau bawa dari Kupang itu yang kemudian dipakai sebagai inventaris”.</p>
<p>Kondisi ini bikin bupati Ema bingung mau melakukan apa. Bupati Ema jadi sering marah-marah tanpa sebab. Sebagai bawahan mereka mengerti apa yang dia rasakan.</p>
<p>Belum selesai dengan urusan kas, suatu ketika warga pemilik lahan bandara datang menemui bupati Ende di kantor dan meminta pembayaran ganti rugi lahan. Sebagai sekretaris pribadi, Ippi Bethan ada di situ menyaksikan bagaimana bupati Ema harus menyelesaikan hutang tanpa kas daerah.</p>
<p>Hutang lahan bandara Ende mencapai Rp 32 juta, nominal yang tergolong besar saat itu.</p>
<p>“Saya sendiri saksikan, waktu itu, orang Ende datang tagih uang pembebasan lahan lapangan terbang H. Hasan Aroeboesman senilai 32 juta rupiah. Orang-orang datang dan duduk di kantor sambil tagih uang”.</p>
<p>Pembayaran yang diminta warga pemilik lahan tidak dapat diberikan.  Bupati Ema pulang ke rumah jabatan dengan perasaan yang nyaris putus asa.</p>
<p>Sampai di rumah jabatan dia lantas menulis surat kepada Gubernur NTT untuk berhenti menjadi bupati.</p>
<p>“Akhirnya pulang ke rumah jabatan, beliau mau kasih surat kepada Gubernur untuk berhenti jadi Bupati”.</p>
<p>“Jadi, karena situasi kas kosong, ketika ada penagihan utang lahan bandara dan inventaris kosong, beliau mau mengirim surat ke Gubernur untuk minta berhenti. Tetapi akhirnya beliau robek kembali.”</p>
<p>Syukurnya, surat pengunduran diri yang sempat ditulis bupati Ema itu ia robek kembali. Bupati Ema lantas berkomitmen menyelesaikan masalah pembebasan lahan bandara dan mulai mencari jalan keluar.</p>
<p>Bupati Ema kemudian bekerja sama dengan mantan bupati Hasan Aroeboesman untuk membuat kesepakatan dengan pemilik lahan. Kesepakatan pun berhasil dicapai. Kedua belah pihak menyepakati pembayaran ganti rugi lahan bandara Ende dibayar secara bertahap.</p>
<p>“Dalam masalah pembebasan lahan Bandar udara Hasan Aroeboesman itu, misalnya, beliau bekerjasama dengan mantan Bupati Hasan Aroeboesman. Beliau membuat kesepakatan bahwa uang yang ditagih itu akan dibayar secara pelan-pelan,” kenang Ippi.</p>
<p>Pembayaran ganti rugi pembebasan lahan bandara dilunasi bupati Ema dalam jangka waktu dua tahun dan proses pembangunan bandara pun dilanjutkan. <strong>(ARA/EN)</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/cerita-awal-bandara-ende-hutang-lahan-bikin-bupati-nyaris-undur-diri/">Cerita Awal Bandara Ende: Hutang Lahan Bikin Bupati Nyaris Undur Diri</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saat Ema Gadi Djou Bawakan Kisah Sengsara Yesus Pada Minggu Palma</title>
		<link>https://endenews.com/saat-ema-gadi-djou-bawakan-kisah-sengsara-yesus-pada-minggu-palma/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Apr 2022 05:41:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Ema]]></category>
		<category><![CDATA[Ema Gadi Djou]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Herman Josef Gadi Djou]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=5017</guid>

					<description><![CDATA[<p>Herman Josef Gadi Djou atau Ema Gadi Djou, mantan Bupati Ende, ternyata pernah membawakan Kisah...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/saat-ema-gadi-djou-bawakan-kisah-sengsara-yesus-pada-minggu-palma/">Saat Ema Gadi Djou Bawakan Kisah Sengsara Yesus Pada Minggu Palma</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Herman Josef Gadi Djou atau Ema Gadi Djou, mantan Bupati Ende, ternyata pernah membawakan Kisah Sengsara Yesus dalam perayaan Minggu Palma. Dikisahkan oleh karibnya, Abraham Gampar, Ema Gadi Djou membawakannya pada Minggu Palma tahun 1973 di Gereja St. Yosef Naikoten, Kota Kupang.</p>
<p>Perayaan Minggu Palma merujuk pada kisah masuknya Yesus Kristus ke Kota Yerusalem sebelum Dirinya dikorbankan dalam Penyaliban. Minggu Palma disebut juga sebagai pembuka Pekan Suci seminggu sebelum Paskah diperingati oleh umat Katolik.</p>
<p>Berdasarkan tradisi Gereja Katolik, Kisah Sengsara Yesus pada Minggu Palma dibawakan dalam lagu berirama klasik Gregorian dan diperankan oleh 3 tokoh. Narator (pembaca kisah) dengan warna suara yang agak mendatar, tokoh antagonis musuh Yesus (orang-orang Yahudi, Pilatus, Imam Kepala, dan lain-lain) dengan warna suara yang meninggi (tenor), dan tokoh Yesus dengan nada rendah (Bariton/Bass).</p>
<p>&#8220;Pemeran tiga tokoh ini adalah Abraham Gampar (sang dirigen sebagai narator), pak Hany Wadhy (tenor) sebagai tokoh antagonis, dan kak Ema Gadi Djou sebagai Yesus dengan suara Bariton,&#8221; tulis Abraham Gampar dalam <em>75 Tahun Sang Visioner H. J. Gadi Djou, 2012, hal. 58.</em></p>
<p>Uniknya, perayaan Minggu Palma di tahun 1973 bertepatan dengan hari ulang tahun Ema Gadi Djou pada tanggal 4 April. Keunikan lain, ternyata mereka “menyelundupkan” sahabat mereka Hany Wadhy yang bukan umat di Paroki tersebut bergabung ke dalam koor.</p>
<p>“Pak Hany Wadhy, anggota DPRD kala itu, bertepatan dengan masa sidangnya datang dari Ende untuk menginap di rumah kak Ema… Umat tidak pernah bertanya apakah pemeran orang Yahudi (Pak Hany Wadhy) adalah umat Paroki Naikoten atau bukan?” kisah Abraham Gampar.</p>
<p>Maklum, mereka bertiga adalah sahabat akrab yang memang sulit dipisahkan. Persahabatan mereka sudah terjalin sejak lama khususnya saat susah-senang diperantauan kala menempuh pendidikan di Jogyakarta. Hany Wadhy bahkan sudah mengenal Ema Gadi Djou jauh sebelumnya, karena itulah ketika pertama kali tiba di Jogya untuk berkuliah, orang pertama yang dia cari adalah Ema. Abraham Gampar apalagi, saat itu dia tinggal serumah dengan Ema Gadi Djou di Kupang, dan persahabatan mereka makin tak terpisahkan ketika satu tahun berselang dia mengambil adik Ema Gadi Djou sebagai istrinya.</p>
<p>Cerita Abraham Gampar, ini merupakan momen pertama kalinya mereka berkumpul kembali setelah sempat terpisah usai menyelesaikan pendidikan di Jogya. “Kami bertiga yang dulunya berteman pada saat kuliah bertemu kembali saat acara ini berlangsung”.</p>
<p>Teks Minggu Daun Palma akhirnya diambil Abraham Gampar dari Gereja dan mereka pun mulai berlatih.</p>
<p>Ema Gadi Djou sedikit kesulitan membawakan kisah Yesus sebab baru pertama kali, kenang Abraham Gampar, namun karena Minggu Palma ditahun itu bertepatan dengan hari ulang tahun Ema maka dia pun berlatih dengan keras. Alhasil, dia pun berhasil membawakannya secara baik.</p>
<p>“Karena didukung oleh motivasi yang sangat tinggi untuk mendapat nilai tambah rohani pada hari ulang tahunnya, maka perannya pun dikuasai dengan baik dan pada hari Minggu Daun tahun 1973 itu kisah sengsara Yesus Kristus dibawakan dengan baik oleh pemeran yang kebetulan serumah”. (<strong>ARA/EN</strong>)</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/saat-ema-gadi-djou-bawakan-kisah-sengsara-yesus-pada-minggu-palma/">Saat Ema Gadi Djou Bawakan Kisah Sengsara Yesus Pada Minggu Palma</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>H. J. Gadi Djou : di Ende “Ema”, di Jogya “Mas Herman”</title>
		<link>https://endenews.com/h-j-gadi-djou-di-ende-ema-di-jogya-mas-herman/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2020 12:54:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Ema]]></category>
		<category><![CDATA[Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Ende News]]></category>
		<category><![CDATA[Herman Josef Gadi Djou]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Kabupaten Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=586</guid>

					<description><![CDATA[<p>H. J. Gadi Djou, Bupati Ende kedua ternyata punya sapaan unik kala menjadi mahasiswa di...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/h-j-gadi-djou-di-ende-ema-di-jogya-mas-herman/">H. J. Gadi Djou : di Ende “Ema”, di Jogya “Mas Herman”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>H. J. Gadi Djou, Bupati Ende kedua ternyata punya sapaan unik kala menjadi mahasiswa di Jogyakarta. Sayangnya, kala itu sapaannya di tanah rantau tak diketahui oleh kerabat di Ende. Tentu saja hal itu membuat kerabatnya kelabakan bila mencarinya. Itulah yang dialami Yohanis Wadhi.</p>
<p>Tahun 1962,  Yohanis Wadhi (Hany) berangkat ke Jogya. Hany dikirim oleh Frateran BHK Ndao melanjutkan studi di IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta.</p>
<p>Tiba di Yogya ia segera mencari temannya itu. Herman Joseph Gadi Djou merupakan sahabat Hany sejak di Ende. Hany sering menyapa temannya itu dengan panggilan Ema.  Hany segera memanggil becak menuju asrama Realino, tempat tinggal Ema. Namun tiba di sana ternyata seluruh penghuni asrama tak ada yang mengenal Ema.</p>
<p>Hany tak putus asa, ia coba cari di asrama-asrama lain. Seharian ia keliling tak satu pun yang mengenal Ema. Capek, akhirnya Hany putuskan berhenti mencari.</p>
<ul>
<li><span style="background-color: #ffffff;"><em><strong>BACA JUGA :</strong></em><span style="color: #0000ff;"> <strong><a style="background-color: #ffffff; color: #0000ff;" href="https://endenews.com/daftar-bupati-ende-sejak-1958/">Daftar Bupati Ende Sejak 1958</a></strong></span></span></li>
</ul>
<p>Tapi Hany penasaran campur heran, kenapa orang-orang yang ia tanyai tak kenal Ema Gadi Djou.</p>
<p>Esoknya, hari Minggu, Hany menyempatkan diri mengikuti Misa di Gereja. Tak ia sangka, ia bertemu dengan Ema di tempat itu. Senang bukan main.</p>
<p>Ketika keduanya bercengkrama Hany bertanya ke Ema, kenapa di Yogya tidak ada orang yang mengenal nama Ema Gadi Djou?</p>
<p>Ema dengan enteng menjawab, “Hany, kalau kau tanya Ema Gadi Djou tidak ada yang tahu, tetapi kalau tanya Mas Herman, semua tukang becak pasti tahu”.</p>
<p>Itulah kisah H. J. Gadi Djou yang diceritakan kembali oleh oleh Hany Wadhi dalam “75 Tahun Sang Visioner H. J. Gadi Djou” <em>(2012)</em>.</p>
<p>Menurut Hany Wadhi, sahabatnya H. J. Gadi Djou memang sangat beken di Yogya dengan sapaan Mas Herman. Ia tenar lantaran aktif dalam banyak kegiatan, seperti di organisasi Keluarga Pelajar Mahasiswa Ende, PMKRI, sepakbola, bahkan ia juga sering melatih Volly.</p>
<p>“Kalau ada pertandingan di Stadion Kridasono pasti Mas Herman ikut main. Saya dapat masuk bebas tanpa beli karcis, yang penting sebut saja bahwa saya adalah kakaknya Mas Herman,” cerita Hany <em>(Hal. 147)</em>.</p>
<p>Pernah sekali peristiwa, ada urusan Hany yang mentok di Kantor Pos. Hany panggil sahabatnya itu bantu menghadap kepala Kantor Pos. Ketika melihat Ema, kepala Kantor langsung menyambut, “Mari Mas Herman.” Ternyata keduanya teman main bola.</p>
<ul>
<li><span style="background-color: #ffffff;"><em><strong>BACA JUGA :</strong></em><span style="color: #0000ff;"> <strong><a style="background-color: #ffffff; color: #0000ff;" href="https://endenews.com/sempat-ikut-soekarno-tinggal-di-ende-ini-perjuangan-cinta-inggit-ganarsih/">Sempat Ikut Soekarna Tinggal di Ende, Ini Perjuangan Cinta Inggit Ganarsih</a></strong></span></span></li>
</ul>
<p>Tentang nama Mas Herman ini juga diakui oleh sahabat lainnya bernama Abraham Gampar.</p>
<p>Cerita Abraham Gampar, nama Mas Herman populer dan disegani. &#8220;Apalagi ia juga pemain Gama dan PSIM Yogyakarta dan biasa dipanggil <em>goal getter</em> atau jenderal,&#8221; <em>(Hal. 54).</em></p>
<p>Sekali waktu Abraham Gampar dan beberapa teman ingin rekreasi ke Kaliurang, tetapi bagaimana caranya, sedangkan mereka saat itu hanyalah mahasiswa kosan.</p>
<p>Cerita Abraham Gampar itu hal mudah bagi Ema alias Mas Herman. Ema tinggal mendekati salah satu kenalannya dan tak lama berselang kenalannya itu memberikan kunci Villa milik ayahnya.</p>
<p>Itulah sapaan dan sosok H. J. Gadi Djou, mantan Bupati Ende di mata rekan-rekannya sesama mahasiswa di Jogya.</p>
<p>Ketika menyelesaikan studi dan balik ke kampung halaman, ketiganya menjadi sosok berpengaruh. Mas Herman menjadi Bupati Ende yang kedua, Yohanis Wadhi menjadi anggota DPRD NTT, dan Abraham Gampar menjadi kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT. (<strong><em>ARA/EN)</em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/h-j-gadi-djou-di-ende-ema-di-jogya-mas-herman/">H. J. Gadi Djou : di Ende “Ema”, di Jogya “Mas Herman”</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Cerita Bung Kanis Pari Kenalkan Ema Gadi Djou ke El Tari</title>
		<link>https://endenews.com/cerita-bung-kanis-pari-kenalkan-ema-gadi-djou-ke-el-tari/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 25 Jan 2020 08:09:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Ema]]></category>
		<category><![CDATA[Ema Gadi Djou]]></category>
		<category><![CDATA[Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Ende News]]></category>
		<category><![CDATA[H. J. Gadi Djou]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=232</guid>

					<description><![CDATA[<p>Suatu hari pada bulan September 1965, ada kunjungan Menteri Perkebunan, Drs. Frans Seda dan Wakil...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/cerita-bung-kanis-pari-kenalkan-ema-gadi-djou-ke-el-tari/">Cerita Bung Kanis Pari Kenalkan Ema Gadi Djou ke El Tari</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari pada bulan September 1965, ada kunjungan Menteri Perkebunan, Drs. Frans Seda dan Wakil Gubernur El Tari bersama rombongan di Mautenda, Ende. Di dalam rombongan itu ada juga Bung Kanis Pari.</p>
<p>Di Mautenda, rombongan telah ditunggu oleh para petani yang terhimpun dalam Ikatan Petani Pancasila (IPP). IPP merupakan kelompok petani yang bernaung dibawah Keuskupan Agung Ende.</p>
<p>Kelompok ini di koordinatori oleh Herman Josef Gadi Djou, si sarjana ekonomi yang baru baru saja menyelesaikan pendidikan di UGM. Pria yang akrab disapa Ema ini, merupakan koordinator IPP untuk wilayah Lio. Gajinya kala itu Rp 50.</p>
<p>Ketika IPP mendapat kunjungan dari Mentri dan Wagub El Tari, maka Ema sebagai koordinator berada di tengah-tengah para petani. Ema mendampingi para petani dan menjelaskan situasi mereka kepada dua orang besar itu.</p>
<p>Situasi berjalan datar-datar saja sampai Bung Kanis mengejutkan kedua orang besar itu. Di sela-sela kunjungan, Bung Kanis memperkenalkan Ema kepada Frans Seda dan El Tari, “ini seorang sarjana ekonomi pertanian jebolan UGM.” El tari kaget, ada sarjana lulusan UGM di antara para petani.</p>
<figure id="attachment_234" aria-describedby="caption-attachment-234" style="width: 800px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-234 size-full" src="https://endenews.com/wp-content/uploads/2020/01/1-el-tari-1.jpg" alt="Ema Gadi Djou berjalan di belakang El Tari" width="800" height="400" title="Cerita Bung Kanis Pari Kenalkan Ema Gadi Djou ke El Tari 1" srcset="https://endenews.com/wp-content/uploads/2020/01/1-el-tari-1.jpg 650w, https://endenews.com/wp-content/uploads/2020/01/1-el-tari-1-768x384.jpg 768w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption id="caption-attachment-234" class="wp-caption-text">(Ema Gadi Djou berjalan di belakang El Tari)</figcaption></figure>
<p>Awal mula perkenalan Ema dengan El Tari ini diceritakan kembali oleh Mia Gadi Djou, istri Ema, dalam buku, “<em>75 Tahun Sang Visioner H. J. Gadi Djou</em> (2012).”  Perkenalan itu dapat dikatakan merupakan awal mula dari cerita panjang karir Ema di Pemprov NTT.</p>
<p>Bahkan, bisa jadi itu juga awal cerita suksesi Ema menjadi Bupati Kabupaten Daerah Tingkat (Dati) II Ende. Sebab, setelah ke Kupang dan bekerja di Pemprov NTT, Ema menjadi salah satu kepercayaan El Tari dan dipersiapkan olehnya menjadi Bupati Ende.</p>
<p>Cerita Mia, setelah dikenalkan oleh Bung Kanis, Ema langsung diajak El Tarik ke Kupang, namun saat itu Ema menolak karena baru beberapa bulan bekerja di IPP. Lagipula, status Ema masih terikat sebab pendidikannya di UGM dibiayai oleh Keuskupan Agung Ende.</p>
<p>Bulan Januari 1966, Ema kembali dipanggil ke Kupang lewat RRI Kupang, namun Ema yang tak punya Radio tak mengetahui adanya Radiogram tersebut.  Syukurnya, salah satu kerabat Ema yang merupakan Kadis Peternakan menyampaikan kepada Ema bahwa ada panggilan dari Kupang untuk segera menghadap El Tari.</p>
<p>Atas izin Uskup Agung Gabriel Manek, Ema berangkat ke Kupang. Di Kupang, Ema diminta menjadi staf proyek ekspor-impor di Kantor Gubernur.</p>
<p>Bekerja di Pemprov NTT, Ema membuktikan dirinya sebagai pegawai yang cekatan dan pekerja keras. Dari tahun ke tahun karir Ema terus menanjak dan menjadi salah satu anak kepercayaan Gubernur El Tari.</p>
<p>Karena dedikasi yang semangat kerjanya yang tinggi, El Tari akhirnya kepincut dan mempersiapkan Ema sebagai Bupati Ende. Suatu kepercayaan yang akhirnya terwujud ketika Ema menang dalam pemilihan Bupati Dati II Ende pada 1973.</p>
<p><em>Tak dinyana</em>, perkenalan singkat antara Ema dan El Tari yang dimotori oleh Bung Kanis pada akhirnya melahirkan seorang pemimpin muda yang energik dan visioner. &#8220;Bupati Ema,&#8221; begitu orang Ende menyapa dan mengenangnya.<strong> (ARA/EN)</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/cerita-bung-kanis-pari-kenalkan-ema-gadi-djou-ke-el-tari/">Cerita Bung Kanis Pari Kenalkan Ema Gadi Djou ke El Tari</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
