Ende  

Serunya Nobar Film “Kadet 1947” di Ende, AHP Sampai Datangkan Produsernya

Avatar photo
Legislator Andreas Hugo Parera atau akrab disapa AHP memberikan pertanyaan quiz kepada penonton usai Nobar film Kadet 1947 di Ende (12/10/23)
Legislator Andreas Hugo Parera atau akrab disapa AHP memberikan pertanyaan quiz kepada penonton usai Nobar film Kadet 1947 di Ende (12/10/23)

Nonton bareng alias Nobar film Kadet 1947 di Ende berlangsung seru dan penuh makna. Demi acara ini legislator Andreas Hugo Parera alias AHP sampai mendatangkan produser film tersebut, Celerina Judisari ke Ende.

Nobar film Kadet 1947 yang berlangsung di aula Garuda, Kantor Bupati Ende, Kamis (12/10/23), merupakan inisiasi legislator AHP dan Pemerintah Kabupaten Ende.  Nobar turut dihadiri oleh anggota DPRD Provinsi NTT Emanuel Kolfidus, Ketua DPRD Kabupaten Ende Fransiskus Taso, serta perwakilan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Advertisement
melki laka lena
Scroll kebawah untuk lihat konten

Nobar film Kadet 1947 sendiri melibatkan para remaja mulai dari mahasiswa hingga komunitas-komunitas remaja yang ada di Ende. Demi kesuksesan acara, tak tanggung-tanggung legislator AHP mendatangkan sang produser Celerina Judisari dalam acara.

BACA JUGA 

Mengenai acara tersebut, legislator Andreas Hugo Parera (AHP), mengatakan, di era modern sekarang ini film merupakan salah satu kampanye nasionalisme yang paling efektif. Visualisasi film mampu menyimpan memori di pikiran setiap orang dan berpengaruh terhadap perilaku sehingga pembentukan trend dapat terjadi.

Ia mencontohkan fenomena Korean Style yang membudaya di kalangan remaja Indonesia akhir-akhir ini. Hal itu, kata AHP, disebabkan visualisasi film memasuki alam pikiran dan mempengaruhi perilaku setiap orang sehingga terbentuk trend.

“Orang yang nonton film akan masuk di otaknya dan mempengaruhi perilakunya. Kita lihat sekarang, adik-adik dan banyak orang tergila-gila dengan Drakor (Drama Korea), akhirnya semua menjadi Korea, lupa Indonesia,” ucap Andreas Hugo Parera (12/10).

Karena itu kampanye nasionalisme harus memasuki dunia perfilman sebab film dapat menggambarkan secara lebih utuh sejarah perjuangan bangsa lengkap dengan pemaknaan.

Nobar film Kadet 1947 di Ende memiliki beberapa alasan, kata AHP. Ende merupakan kota bersejarah tempat pembuangan bung Karno dan dari sisi perfilman Ende merupakan tempat film Ria Rago dibuat pada 1923. Film Ria Rago mendahului film Loetoeng Kasaroeng (1926) yang diclaim pemerintah sebagai film pertama Indonesia.

BACA JUGA

Di tempat sama, produser film Kadet 1947, Celerina Judisari mengatakan bahwa tujuan pembuatan film memang ditujukan untuk mengingatkan generasi hari ini terhadap perjuangan bangsanya. Para remaja, melalui film ini, akan disadarkan bahwa segala kenyamanan yang diterima hari ini merupakan hasil perjuangan para remaja pada zaman dahulu.

Meskipun menceritakan perjuangan para remaja zaman dahulu, film ini menggunakan bahasa yang dapat diterima oleh generasi hari ini. Hal itu, kata Celerina, merupakan hasil riset yang dilakukan sebelum pembuatan film agar alur cerita Kadet 1947 muda diterima para remaja.

“Jadi kita juga melihat lah, anak-anak muda sekarang juga harus diingatkan bahwa dengan segala kenyamanan yang mereka terima saat ini, sebetulnya dulu itu ada perjuangan anak-anak muda dengan usia yang sama,” kata Celerina Judisari.

“Kita memang membuat film yang bisa berbahasa sama. Jadi film perjuangan tapi bisa diterima (anak-anak muda), tadi kan anak-anak duduk manis ya, mereka nggak keluar, karena memang bahasanya sama,” sambungnya.

BACA JUGA

Para remaja mengaku senang dan merasa terinspirasi oleh perjuangan yang dikisahkan dalam film. Marselina Jenitris Uta, mahasiswa Uniflor yang ikut Nobar mengatakan, dia amat terharu atas pengorbanan para pemuda di zaman perjuangan.

“Saya, setelah nonton film ini, saya punya perasaan terharu lihat pengorbanan anak-anak muda dulu berjuang rebut kemerdekaan,” ucapnya.

Sambung Marselina, film Kadet 1947 seolah membuatnya sadar atas perbedaan yang amat nampak antara pemuda zaman kemerdekaan dan generasinya hari ini. Perbedaan itu amat nampak dalam sisi tekad dan nasionalisme, kata dia.

“Sekarang berbeda jauh dengan zaman dulu. Bedanya zaman dulu para pemuda sangat bertekad, nasionalisme mereka kuat sekali. Kalau anak muda sekarang tekadnya tidak seperti dulu, seperti asyik dengan diri sendiri begitu,” ucapnya lagi.

Senada dengan Marselina, penonton lain, Yohana Genggu Gedhe Juma juga menyadari hal yang sama setelah menonton Kadet 1947. Menurutnya, para pemuda dahulu mampu memberikan segalanya bagi bangsa, sesuatu yang tidak ditemukannya lagi pada generasi hari ini.

Acara Nobar film Kadet 1947 diakhiri pemberian quiz menarik kepada para penonton. Suasana akrab dan gelak tawa mewarnai sesi ini.  (ARA/EN)