<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sejarah Ende &#8211; Ende News</title>
	<atom:link href="https://endenews.com/tag/sejarah-ende/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://endenews.com</link>
	<description>Berita &#38; Budaya Kabupaten Ende</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jul 2024 05:53:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>

<image>
	<url>https://endenews.com/wp-content/uploads/2023/10/cropped-512-100x75.png</url>
	<title>Sejarah Ende &#8211; Ende News</title>
	<link>https://endenews.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sejarah Pemilihan Bupati Ende Sejak 1963 : Mulanya Penunjukan Langsung</title>
		<link>https://endenews.com/sejarah-pemilihan-bupati-ende-sejak-1963-mulanya-penunjukan-langsung/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Jul 2024 05:39:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilihan Bupati Ende]]></category>
		<category><![CDATA[pilkada ende 2024]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah bupati ende]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=7634</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) kabupaten Ende sebentar lagi. Proses pemilihan yang akan menentukan orang nomor...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/sejarah-pemilihan-bupati-ende-sejak-1963-mulanya-penunjukan-langsung/">Sejarah Pemilihan Bupati Ende Sejak 1963 : Mulanya Penunjukan Langsung</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) kabupaten Ende sebentar lagi. Proses pemilihan yang akan menentukan orang nomor satu atau bupati Ende ini akan digelar pada bulan November Nanti.</p>
<p>Untuk kabupaten Ende, pemilihan bupati Ende tahun 2024 merupakan kelanjutan dari proses pemilihan sejak 1963. Dahulu, proses pemilihan bupati Ende dilakukan secara penunjukan langsung.</p>
<p><strong>BACA JUGA</strong></p>
<ul>
<li><strong><a href="https://endenews.com/sejarah-pacuan-kuda-di-ende-berawal-di-ippi-berakhir-di-eltari/">Sejarah Pacuan Kuda di Ende: Berawal di Ippi, Berakhir di Eltari</a></strong></li>
</ul>
<p>Penelusuran <em>Ende News</em>, jika ditilik kebelakang, proses pemilihan bupati Ende mulanya dilakukan secara penunjukan langsung. Kemudian, dalam perjalanan, proses pemilihan bupati Ende dilakukan oleh DPRD.</p>
<p>Sekarang ini proses pemilihan bupati Ende tidak lagi demikian melainkan dipilih langsung oleh masyarakat.</p>
<p><strong>Penunjukan Langsung</strong></p>
<p>Mulanya proses pemilihan bupati Ende dilakukan secara penunjukan langsung. Proses pemilihan dengan metode penunjukan langsung terjadi sejak pembentukan Ende sebagai sebuah kabupaten atau Daerah Tingkat II.</p>
<p><strong>BACA JUGA</strong></p>
<ul>
<li><strong><a href="https://endenews.com/lagu-ende-deku-dengu-milik-siapa-begini-sejarahnya/">Lagu “Ende Deku Dengu” Milik Siapa? Begini Sejarahnya</a></strong></li>
</ul>
<p>Sebelum tahun 1958, untuk ketahui, Ende merupakan bagian dan menjadi ibukota dari Daerah Flores. Kepala Daerah Flores dijabat oleh L. E. Monteiro.</p>
<p>Nah, setelah itu pada 1958, sesuai ketentuan UU nomor 64 tahun 1958 tentang pembentukan Daerah Tingkat II. Daerah Tingkat I NTT dibagi menjadi 12 Daerah Tingkat II, salah satunya Daerah Tingkat II Ende yang merupakan penggabungan dari swapraja Ende dan Lio.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/sejarah-pemilihan-bupati-ende-sejak-1963-mulanya-penunjukan-langsung/">Sejarah Pemilihan Bupati Ende Sejak 1963 : Mulanya Penunjukan Langsung</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>“Saya Jadi Camat Terlalu Lama Ko,” Ketika Paulinus Domi Cerita Perjalanan Karirnya</title>
		<link>https://endenews.com/saya-jadi-camat-terlalu-lama-ko-ketika-paulinus-domi-cerita-perjalanan-karirnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Nov 2022 07:33:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Ende Keenam]]></category>
		<category><![CDATA[Karir Paulinus Domi]]></category>
		<category><![CDATA[Paulinus Domi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=5610</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kabupaten Ende kembali kehilangan salah satu mantan pemimpinnya. Dia adalah Paulinus Domi, Bupati Ende keenam...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/saya-jadi-camat-terlalu-lama-ko-ketika-paulinus-domi-cerita-perjalanan-karirnya/">“Saya Jadi Camat Terlalu Lama Ko,” Ketika Paulinus Domi Cerita Perjalanan Karirnya</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kabupaten Ende kembali kehilangan salah satu mantan pemimpinnya. Dia adalah Paulinus Domi, Bupati Ende keenam yang menjabat dua periode sejak tahun 1999 hingga tahun 2009. Paulinus Domi meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tc. Hillers Maumere, Kamis (03/11/22) pukul 18.20 Wita.</p>
<p>Mantan Bupati yang dikenal membawa Ende melewati proses transisi era demokrasi ini sempat kami wawancarai pada 20 September 2020. Dalam wawancara yang berlangsung selama satu setengah jam itu, Paulinus menceritakan berbagai pengalamannya sejak awal hingga menjadi seorang Bupati.</p>
<p>Ingatan Paulinus amat baik untuk pria seusianya. Berbagai peristiwa ia ceritakan secara lengkap beserta tanggal misalnya saja ketika dia bercerita menduduki jabatan Camat selama 13 tahun. Paulinus mengingat peristiwa itu tak sebatas tahun melainkan secara lengkap beserta ke tanggal-tanggal penting.</p>
<p>“Saya jadi camat terlalu lama <em>ko</em> di Ende ini 13 tahun memang. Camat terus 13 tahun. Camat di Detusoko empat setengah tahun, kemudian ke kampung Maurole 2 tahun, 2 bulan, 28 hari. Kemudian ke Wolowaru 5 tahun 19 hari,” kenang Paulinus Domi (20/9/20).</p>
<p>Paulinus Domi lahir pada 31 Desember 1946, putra ketiga dari tujuh bersaudara pasangan bapak Dage Dewa dan mama Mbenggu Masa. Dia adalah anak seorang petani dari Wolobalu, Desa Kedeboro, Kecamatan Maurole.</p>
<p>Kendati hanya anak petani, Paulinus mampu menempuh pendidikan hingga jenjang yang kala itu dapat dikatakan paling tinggi. Karir pendidikannya dimulai dari jenjang SR (sekarang SD) pada 1959 hingga 1969, kemudian dia lanjutkan di SMEP Wolowaru dan tamat pada tahun 1963, lalu ke Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) hingga tamat tahun 1966.</p>
<p><em><strong>BACA JUGA </strong></em></p>
<ul>
<li><strong><span style="color: #000000;"><a style="color: #000000;" href="https://endenews.com/sejarah-pacuan-kuda-di-ende-berawal-di-ippi-berakhir-di-eltari/">Sejarah Pacuan Kuda di Ende: Berawal di Ippi, Berakhir di Eltari</a></span></strong></li>
<li><span style="color: #000000;"><strong><a style="color: #000000;" href="https://endenews.com/kocak-begini-trik-curang-joki-pacuan-kuda-di-ende/">Kocak, Begini Trik Curang Joki Pacuan Kuda di Ende</a></strong></span></li>
</ul>
<p>Tak sampai disitu saja karir pendidikan ia lanjutkan ke Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) di Kupang dan lulus tahun 1972. Usai menempuh pendidikan di APDN Paulinus memutuskan pulang ke Ende dan bekerja di kantor pemerintah.</p>
<p>Tiba di Ende, masih di tahun yang sama, Paulinus mengabdikan diri untuk Kabupaten Ende sebagai Kasi Desa dan Pemilu di Kantor Bupati Ende hingga tahun 1975. Kemudian menjadi Kepala Perwakilan Kecamatan Maurole di Kota Baru hingga tahun 1977 dan menjadi Camat Detusoko hingga tahun 1979.</p>
<p>Namun, minatnya dalam dunia pendidikan terlampau tinggi, Paulinus kemudian melanjutkan ke Universitas Brawijawa Malang pada 1979 dan diwisuda sebagai sarjana tahun 1981.</p>
<p>Berbekal gelar sarjana yang diraih ia kembali ke Ende menjadi Pjs Kabid di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), menjadi Pjs Camat Maurole hingga tahun 1984, Pjs Camat Wolowaru hingga 1986 dan setelahnya diangkat menjadi Camat Wolowaru tahun 1986 sampai 1990 <em>(Bupati Ende Dari Masa ke Masa, 2011)</em>.</p>
<p>Paulinus sendiri amat mengingat kenangannya kala bekerja di kecamatan bahkan dia menghitung lamanya waktu yang dihabiskan melayani warga di kampung-kampung. 13 tahun, kata Paulinus. Meskipun tergolong lama untuk pria yang saat itu telah memiliki gelar sarjana, tetapi ia sabar saja.</p>
<p>“Saya jadi camat terlalu lama <em>ko</em> di Ende ini 13 tahun memang. Camat terus 13 tahun. Camat di Detusoko empat setengah tahun, kemudian ke kampung Maurole 2 tahun, 2 bulan, 28 hari. Kemudian ke Wolowaru 5 tahun 19 hari,” kenangnya.</p>
<p>Belasan tahun bekerja di kecamatan, karir Paulinus Domi akhirnya berlanjut ke pusat Kota Ende. Dia dipercaya menjadi Kepala Bapenda selama tiga tahun mulai 1990 sampai 1993. Di Bepanda, kata Paulinus, fokusnya hanya satu yakni meningkatkan Pendapatan Asli Daerah. Setelah itu dia diangkat sebagai Asisten I Setda Ende.</p>
<p><em><strong>BACA JUGA</strong></em></p>
<ul>
<li><span style="color: #000000;"><strong><a style="color: #000000;" href="https://endenews.com/mengenal-frans-gedowolo-bupati-ende-berlatar-belakang-militer/">Mengenal Frans Gedowolo, Bupati Ende Berlatar Belakang Militer</a></strong></span></li>
<li><span style="color: #000000;"><strong><a style="color: #000000;" href="https://endenews.com/berdarah-manado-dayak-profil-bupati-ende-pertama-mauritz-winokan/">Berdarah Manado-Dayak, Profil Bupati Ende Pertama, Mauritz Winokan</a></strong></span></li>
</ul>
<p>Seperti merasa karirnya di pemerintah sudah sampai di puncak, dia kemudian putuskan pindah haluan ke politik. Politik, bukan hal baru baginya. Tutur Paulinus, saat bekerja di pemerintahan dia sudah aktif sebagai pengurus di partai Golkar di bawah pimpinan ketua Yos Sigasare. Saat itu aturan memperbolehkan Pegawai Negri Sipil berpolitik praktis maka ruang itu ia tidak sia-siakan.</p>
<p>Paulinus Domi mulai aktif di Golongan Karya sejak tahun 1974 dan sejak saat itu dia bangun jejaring politik serta membantu partai berlambang Beringin itu di event-event politik</p>
<p>“Saya masuk Golkar tahun 74,” kata Paulinus, “waktu saya kerja di (Kantor) Daerah itu saya mulai kenal-kenal dengan pak Yos (Sigasare) mereka, senior kami (di Golkar). Pak Yos waktu itu Ketua DPRD dan Ketua Golkar”.</p>
<p>Apa yang dikatakan Paulinus tersebut sejalan dengan pengakuan partai Golkar. Dalam buku <em>Jejak Karya Golkar NTT, 2018, </em>partai itu menyebut Paulinus Domi merupakan kader yang langsung dibawah binaan ketua Yos Sigasare, selain Herman Rea.</p>
<p>Karirnya di politik <em>tak dinyana</em> ternyata membawanya melampui karir di pemerintahan. Paulinus langsung terpilih sebagai anggota legislatif dari partai Golkar bahkan menjabat sebagai ketua DPRD Ende.</p>
<p>“Saya DPR satu periode langsung ketua, kemudian periode kedua saya sudah calon Bupati,” tuturnya.</p>
<p>Tak butuh waktu lama Paulinus lantas mencalon diri sebagai Bupati Ende periode 1999-2004 usai satu periode di dewan. Keputusan ini tergolong nekat sebab saat itu merupakan era transisi demokrasi setelah reformasi 1998. Waktu itu suara Golkar anjlok dimana-mana berganti <em>euphoria</em> kemenangan PDIP. Pun demikian di Ende, kursi Golkar di dewan turun drastis hanya 7 kursi, dominasinya digantikan oleh PDI yang memanen 13 kursi.</p>
<p>“Masa transisi waktu itu Golkar mulai disudutkan-disudutkan oleh partai lain terutama PDI ini sehingga Golkar di zaman saya hanya 7 kursi tapi bulat (dukung saya)”.</p>
<p>Kendati situasi seolah tak merestui, Paulinus ternyata <em>keukeh</em> maju sebagai Bupati Ende. Aku Paulinus, solidnya 7 kursi Golkar di DPRD merupakan semangat baginya terus menatap kursi Bupati. Paulinus dan Golkar Ende akhirnya berjuang dan memenangkan proses pemilihan Bupati Ende di dewan. Paulinus Domi terpilih sebagai Bupati Ende untuk periode pertama tahun 1999-2004.</p>
<p>Sebagai Bupati Ende, tuturnya, ia lebih mengedepankan pemerataan pembangunan. Bagi Paulinus, dirinya memilih memikirkan Kabupaten Ende secara menyeluruh ketimbang mengedepankan egosentrisme. Karena itu, meskipun dia merupakan putra asal Utara Kabupaten Ende, dia tak latah mengedepankan pembangunan di wilayah utara.</p>
<p>“Saya berpikir secara global Ende, utara, selatan, timur, barat. Kalau saya mau titik beratkan (pembangunan) di utara karena saya orang utara, saya tidak jadi <em>Bupati Utara</em> saya Bupati Ende.”</p>
<p>“Saya tidak melihat Nangapanda, saya tidak melihat Wolowaru, tidak Kota ini. Saya Bupati Ende saya lihat semua,” sambungnya.</p>
<p>Berbagai pembangunan khususnya infrastruktur dibangun pada masa ini. Namun, Paulinus mengakui keterbatasan anggaran merupakan problem utama pada masanya. Saat itu Pendapatan Asli Daerah tak seberapa kendatipun telah diupayakan oleh pemerintah daerah, praktis hanya mengandalkan dana dari pemerintah pusat maupun bantuan APBD I NTT.</p>
<p>Pada pemilihan Bupati Ende periode 2004-2009 Paulinus Domi maju lagi sebagai kandidat. Proses pemilihan kali ini cukup berbeda dengan sebelumnya sebab tak hanya memilih Bupati melainan juga Wakil Bupati dalam format pasangan calon. Proses pemilihan sendiri masih berlangsung di DPRD.</p>
<p><em><strong>BACA JUGA</strong></em></p>
<ul>
<li><span style="color: #000000;"><strong><a style="color: #000000;" href="https://endenews.com/bernadus-gadobani-catatan-politik-seorang-katekis/">Bernadus Gadobani: Catatan Politik Seorang Katekis</a></strong></span></li>
<li><span style="color: #000000;"><strong><a style="color: #000000;" href="https://endenews.com/lagu-ende-deku-dengu-milik-siapa-begini-sejarahnya/">Lagu “Ende Deku Dengu” Milik Siapa? Begini Sejarahnya</a></strong></span></li>
</ul>
<p>Tahun 2004 dominasi PDIP di Ende masih kuat di dewan sementara Golkar baru pulih dari luka-luka pukulan reformasi 98. Paulinus menyadari bahwa proses pemilihan itu akan berjalan mudah jika ia mampu menggandeng ketua PDIP saat itu Bernadus Gadobani.</p>
<p>Pendekatan pun dilakukan secara pribadi dengan Gadobani, sambungnya. Paulinus kemudian mengajak Gadobani dalam suatu pertemuan membicarakan pencalonan. Dalam pembicaraan tersebut Gadobani sepakat dan bersedia menjadi Wakil Bupati mendampingi dirinya.</p>
<p>“Saya lakukan pendekatan dengan pak Gadobani,” kata Paulinus, “Pak Gadobani, kalo bersedia pak jadi Wakil Bupati, dia bilang, ‘oh baik saya ikut’ ”, ulangnya menceritakan momen pertemuan tersebut.</p>
<p>Persatuan dua partai ini menjadikan paslon Paulinus Domi-Bernadus Gadobani tak punya lawan sepadan di DPRD. Pasangan ini menang mutlak dan dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Ende periode 2004-2009.</p>
<p>Roda pembangunan pun kembali dilanjutkan oleh pasangan ini hingga masa jabatan keduanya berakhir. Lukas Lege dalam bukunya<em>, Membangun Ende Sare, 2005</em>, mencatat, Paulinus Domi memiliki visi kepemimpinan yang dirumuskan secara singkat, <em>Ende Sare: Terwujudnya masyarakat Ende yang mandiri, solider, sejahtera dan berbudaya</em>. Pembangunan infrastruktur cukup dirasakan pada masa ini, salah satunya pembangunan dan perluasan gedung Kantor Bupati Ende yang sekarang ini dinikmati generasi penerus serta masyarakat. <em><strong>(Agustinus Rae/EN)</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/saya-jadi-camat-terlalu-lama-ko-ketika-paulinus-domi-cerita-perjalanan-karirnya/">“Saya Jadi Camat Terlalu Lama Ko,” Ketika Paulinus Domi Cerita Perjalanan Karirnya</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bupati Ende Keenam, Paulinus Domi Tutup Usia</title>
		<link>https://endenews.com/bupati-ende-keenam-paulinus-domi-tutup-usia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2022 20:21:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Ende Keenam]]></category>
		<category><![CDATA[Paulinus Domi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=5606</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bupati Ende keenam, Paulinus Domi, meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tc. Hillers...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/bupati-ende-keenam-paulinus-domi-tutup-usia/">Bupati Ende Keenam, Paulinus Domi Tutup Usia</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bupati Ende keenam, Paulinus Domi, meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tc. Hillers Maumere, Kamis (3/11/22) pukul 18.20 Wita. Paulinus Domi, Bupati Ende keenam yang menjabat dua periode sejak tahun 1999 hingga tahun  2009.</p>
<p>Mantan bupati Ende dua periode ini meninggal dunia di usia ke-75 setelah menjalani perawatan selama kurang lebih empat bulan.</p>
<p>Ucapan belasungkawa berdatang usai kabar duka beredar. Bupati Ende Djafar Achmad menyampaikan dukacita mendalam atas meninggalnya Paulinus. Bupati Djafar menyebut sosok sebagai mentor dan guru.</p>
<p>“Kami sekeluarga Turut berduka cita yang mendalam atas meningganya mentor serta guru kami kae Drs. Paulinus Domi, diampuni segala kesalahan dan diterima di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan. Ende kehilangan Salah satu tokoh Panutan. RIP,” tulis Djafar Achmad dalam akun Facebooknya.</p>
<p>Paulinus Domi lahir pada 31 Desember 1946, putra ketiga dari tujuh bersaudara pasangan bapak Dage Dewa dan mama Mbenggu Masa. Dia adalah anak seorang petani dari Wolobalu, Desa Kedeboro, Kecamatan Maurole.</p>
<p>Kendati hanya anak petani Paulinus dapat menempuh pendidikan hingga jenjang yang, kala itu dapat dikatakan paling tinggi. Karir pendidikannya dimulai dari jenjang SR (sekarang SD) pada 1959 hingga 1969, kemudian dia lanjutkan di SMEP Wolowaru dan tamat pada tahun 1963, lalu ke Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) hingga tamat tahun 1966.</p>
<p>Tak sampai disitu saja, karir pendidikan berhasil dia lanjutkan ke Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) di Kupang dan lulus tahun 1972. Kemudian dia masuk Universitas Brawijawa Malang pada 1979 dan diwisuda sebagai sarjana tahun 1981</p>
<p>Sementara karirnya di pemerintah telah ia rintis sejak tahun 1974, beberapa bulan usai tamat dari APDN. Dia dipercayakan diberbagai posisi di pemerintahan, paling lama adalah jabatan camat yang embannya selama kurang lebih 13 tahun.</p>
<p>Usai di pemerintahan Paulinus pindah haluan ke politik. Dia terpilih sebagai anggota legislatif dari partai Golkar dan dipercayakan sebagai ketua dewan. Satu periode di dewan, Paulinus Domi putuskan maju sebagai calon Bupati dan terpilih sebagai Bupati Ende. Paulinus menjabat sebagai Bupati Ende selama dua periode yaitu 1999-2004 dan 2004-2009.</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/bupati-ende-keenam-paulinus-domi-tutup-usia/">Bupati Ende Keenam, Paulinus Domi Tutup Usia</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal Frans Gedowolo, Bupati Ende Berlatar Belakang Militer</title>
		<link>https://endenews.com/mengenal-frans-gedowolo-bupati-ende-berlatar-belakang-militer/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Oct 2021 11:20:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Ende Frans Gedowolo]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Ende Kelima]]></category>
		<category><![CDATA[Daftar Bupati Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Frans Gedowolo]]></category>
		<category><![CDATA[Karir Frans Gedowolo]]></category>
		<category><![CDATA[Letkol Frans Gedowolo]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=3670</guid>

					<description><![CDATA[<p>Adakah Bupati Ende dari kalangan militer? Jika pertanyaan itu terlontar maka orang Ende akan menjawab...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/mengenal-frans-gedowolo-bupati-ende-berlatar-belakang-militer/">Mengenal Frans Gedowolo, Bupati Ende Berlatar Belakang Militer</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Adakah Bupati Ende dari kalangan militer? Jika pertanyaan itu terlontar maka orang Ende akan menjawab tegas: Ada. Namanya Letnan Kolonel (Letkol) Frans Gedowolo.</p>
<p>Frans Gedowolo adalah Bupati Ende kelima yang memimpin sejak tahun 1994 hingga tahun 1999. Selama menjabat sebagai Bupati Ende dia terkenal dengan program Tri Sukses Pembangunan.</p>
<p>Frans Gedowolo lahir di Jogya tanggal 2 September 1938. Ayahnya adalah seorang pejuang yang tewas di medan perang sementara ibunya merupakan warga biasa yang berasal dari Kecamatan Wolowaru.</p>
<p>Tutur isteri dari Frans Gedowolo, Yosefina Made Rosini, menginjak usia 4 tahun Gedowolo kecil dibawa oleh ibunya kembali ke Ende.</p>
<p>Tiba Ende mereka sempat tinggal beberapa waktu di Wolowaru sebelum akhirnya pindah ke Kota Ende. Di Kota, mereka bermukim di Jalan Cendana, Kota Ende, rumah yang didiami Frans Gedowolo hingga saat ini.</p>
<p>Kendati hidup sederhana pendidikan Frans Gedowolo amat diperhatikan oleh ibunya. Dia disekolahkan oleh ibunya. Frans Gedowolo menyelesaikan bangku pendidikan di Kota Ende.</p>
<p>Namun, usai sekolah, dia membuat keputusan penting yang membuat ibundanya <em>cenat-cenut</em>. Frans Gedowolo secara diam-diam berangkat ke Yogya ikut pendidikan militer. Kenang Made Rosini, kala itu ibunda Frans Gedowolo amat berang. Ia seolah tak rela kerasnya pendidikan militer yang akan diikuti putra tunggalnya itu.</p>
<p>“Mama (ibunda Frans Gedowolo), ceritanya, marah-marah saat itu,” ungkapnya (02/10/20).</p>
<p>Ternyata komitmen Frans Gedowolo berbuah manis. Beberapa tahun berselang dia kembali ke Ende dengan seragam militer. Pangkatnya saat itu Prajurit Dua (Prada). Kedatangan Gedowolo tentu bikin heboh. Keluarga dan tetangganya bangga bukan main.</p>
<p>Di dunia militer, karir Frans Gedowolo diawali pada tahun1958 ketika menjadi komandan regu di Singaraja, Bali. Pada tahun 1962 karirnya mulai menanjak saat terpilih menjadi komandan seksi mortir di Singaraja (<em>Bupati Ende Dari Masa ke Masa, 2011</em>).</p>
<p>Karirnya terus menanjak setelah itu dan sempat mendapat penugasan di beberapa daerah. Dia sempat ditempatkan di Kompi C Ende pada 1969. Waktu itu Frans Gedowolo berpangkat Letnan Dua (Letda). Tahun 1974 dia ke Kupang menjadi PASI 4 di Kodim Kupang, kemudian menjadi PASI 1 pada 1976. Tiga tahun berselang dia dipercayakan menjabat KASI 3 di Korem Kupang, lalu diangkat menjadi Kasdim di Kefamenanu pada 1981.</p>
<p>Setelah melalang buana dengan segudang pengalaman dia kembali ke Ende. Gedowolo, dipercayakan menjabat Kasdim di Ende. Pangkatnya saat itu Letnan Kolonel (Letkol).</p>
<p>Kendati berprestasi namun puncak karirnya tidak dia raih di militer. Sebaliknya, Gedowolo, mendapatkan itu ketika dikaryakan di sipil.</p>
<p>Mulanya, memasuki usia pensiun, Gedowolo mendapat kepercayaan atasannya menjadi anggota DPRD Ende dari Fraksi ABRI (sekarang fraksi ini dihilangkan). Istilah militer kala itu, “dikaryakan”.</p>
<p>Gedowolo pun akhirnya menjabat sebagai anggota DPRD Ende mulai tahun 1986. Di gedung dewan, ternyata dia memiliki “taji”. Dia berhasil menjadi Wakil Ketua DPRD satu tahun berselang.</p>
<p>Dari waktu ke waktu karya Gedowolo di gedung dewan ternyata dilirik oleh partai lain. Hal itu terlihat ketika pada suksesi pemilihan Bupati Ende tahun 1994 namanya diusulkan oleh Partai Demokrasi Indonesia (PDI).</p>
<p>Politisi senior PDI Ende (sekarang PDIP), Lukas Lege, masih mengingat jelas bagaimana partainya memperjuangkan Frans Gedowolo.</p>
<p>“Waktu itu kami, PDI, usul Frans Gedowolo. Kami lawan Mus Wolo. Mus Wolo itu yang usung Golkar,” kata Lukas Lege (03/10/20).</p>
<p><em>Zig-zag</em> politik pun tak terhindarkan. Waktu itu, Bupati Ende dipilih oleh dewan, belum dipilih langsung masyarakat. Cerita Lukas Lege, walaupun hanya memiliki satu kursi di dewan, PDI berhasil memenangkan Frans Gedowolo. Strateginya, kenang Lukas, menggabungkan kekuatan PDI dengan ABRI di dewan dan memecah Golkar.</p>
<p>Frans Gedowolo dilantik menjadi Bupati Ende kelima, periode 1994 hingga 1999. Dia menggantikan Bupati terdahulu, Yohanis Pake Pani.</p>
<p>Selama menjabat Bupati Frans Gedowolo terkenal dengan program Tri Sukses Kabupaten Daerah Tingkat II Ende. Tri Sukses ini meliputi, sukses 7 program strategis Provinsi NTT, sukses 6 program praktis, dan sukses benah desa (<em>Membangun Ende Sare, 2005</em>).</p>
<p>Selama menjabat dia juga dikenal disiplin dan sederhana. Penuturan Gerfasius Mali, mantan ajudan Frans Gedowolo (01/10/20), aspek disiplin Gedowolo sepertinya terbentuk sejak lama. Gerfasius menduga itu karena alam hidupnya di militer.</p>
<p>“Beliau sangat disiplin. Jam berapa mesti ke kantor, ketemu orang, rapat, semua harus tepat waktu. Itu yang beliau tekankan”.</p>
<p>Mengenai kesederhanaannya, aku Gerfas, Gedowolo amat ketat membedakan urusan rumah tangga dan urusan dinas. Gedowolo tidak mau ambil untung lewat jabatan. “Mana urusan rumah, mana kantor, beliau pisahkan. Mana hak orang, mana hak saya. Dia kembali ke rumah (habis masa jabatan) itu, &#8216;Nol&#8217; (tidak dapat apa-apa)&#8221;.</p>
<p>Kedisiplinan Gedowolo juga diakui oleh mantan Bupati Ende Paulinus Domi (04/10/20). Kala Gedowolo manjabat, dia adalah salah satu pimpinan Organisasi Perangkat Daerah. Selain Disiplin, Gedowolo, ungkapnya memiliki sifat “kebapa-an” yang tinggi.</p>
<p>Pengakuan mantan ajudan dan staf ASN Ende saat itu dibenarkan oleh keluarga. Herman Gedowolo, putra sulung Frans Gedowolo, mengatakan, karakter disiplin dan sederhana sudah melekat pada ayahnya sejak masih di militer. Mereka, anak-anak Frans Gedowolo, dididik dengan gaya itu. Kendati disiplin, kata dia, Gedowolo tetaplah figur penyayang. <strong>(Agustinus Rae/EN)</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/mengenal-frans-gedowolo-bupati-ende-berlatar-belakang-militer/">Mengenal Frans Gedowolo, Bupati Ende Berlatar Belakang Militer</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berdarah Manado-Dayak, Profil Bupati Ende Pertama, Mauritz Winokan</title>
		<link>https://endenews.com/berdarah-manado-dayak-profil-bupati-ende-pertama-mauritz-winokan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Oct 2021 11:34:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Ende Pertama]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Ende Winokan]]></category>
		<category><![CDATA[Mauritz Gerardus Winokan]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=3628</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mauritz Gerardus Winokan merupakan Bupati Ende pertama. Dia menjabat sejak Kabupaten Ende diresmikan pada 1958...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/berdarah-manado-dayak-profil-bupati-ende-pertama-mauritz-winokan/">Berdarah Manado-Dayak, Profil Bupati Ende Pertama, Mauritz Winokan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mauritz Gerardus Winokan merupakan Bupati Ende pertama. Dia menjabat sejak Kabupaten Ende diresmikan pada 1958 dan mangkat pada 1967. Winokan satu-satunya Bupati Ende berdarah Manado-Dayak.</p>
<p>Mauritz Winokan adalah anak dari Yulius Robert Winokan dan Susana. Ayah Winokan, YR Winokan, keturunan asli Manado sedangkan Susana, ibunya, berasal dari Dayak (<em>Bupati Ende dari Masa ke Masa, 2011: 30</em>).</p>
<p>Masa kecil Winokan dilalui dalam situasi serba sulit. Diceritakan, setiap hari dia selalu mendengar desingan peluru. Maklum, kondisi perang.</p>
<p>Meski demikian orangtua Winokan tergolong bijak dan amat mencintai anaknya. Kendati kondisi terbatas pendidikan putra mereka tetap jadi prioritas.</p>
<p>Kerasnya hidup memacu Winokan kecil berusaha meraih masa depan yang lebih baik. Awalnya dia masuk sekolah milik pemerintahan Belanda, lalu meneruskan pendidikan menengah di Ende. setelah itu Winokan meneruskan pendidikan pamong praja di Makasar.</p>
<p>Di mata-mata para sahabat Winokan tergolong cerdas dan memiliki bakat kepemimpinan. Karena itu juga dia dihormati dalam pergaulan sebaya.</p>
<p>Selepas pendidikan pamong praja di Makasar, Winokan ditugaskan ke Ruteng. Dia mendapat tugas di kantor Badan Pelaksana Harian (BPH) Ruteng. Menurut putra sulungnya, Marcelinus Hendrik Winokan, ayahnya tidak pernah bercerita detail kapan mulai bertugas di Ruteng.</p>
<p>Beberapa tahun menjalani penugasan Winokan menikah dengan Anna Mamoer Mbaroek. Dari pernikahan ini dia dikaruniai 11 orang anak.</p>
<p>Cukup lama Winokan bekerja di Ruteng sebelum dia dipindahkan ke Bajawa. Dari Bajawa, Winokan selanjutnya dipromosikan ke Sumba Barat. Beberapa tahun di tanah Merapu dia kembali ke Flores dan bertugas di Wae Werang. Setelah itu dia kembali bekerja di Ruteng.</p>
<p>Namun, tak sampai setahun di Ruteng, dia harus pindah lagi ke Ende. Winokan ditugaskan menjadi bupati pertama Kabupaten Ende. Winokan mendapat tugas tersebut berdasarkan keputusan Departemen Penerangan Nomor 0205/CS/63, tanggal 17 Januari 1963.</p>
<p>Selama menjadi Bupati Ende, salah satu tugas penting Winokan adalah membentuk 5 badan pelaksana harian (BPH) pemerintahan Kabupaten Ende. Pembentukan Badan tersebut berdasarkan keputusan Gubernur NTT, WJ Lalamentik.</p>
<p>Lalu, untuk meningkatkan kualitas manusia Ende, dalam kepemimpinannya, Winokan memberikan peluang menuntut ilmu di luar daerah seperti Jawa atau Makasar.</p>
<p>Jasa besar Winokan -barangkali paling sering diingat- adalah merintis jalan menuju Danau Kelimutu. Padahal, seperti diketahui, kata “pariwisata” sekalipun masih asing pada masa itu. Artinya, Winokan  sudah melihat masa sekarang ini dari zamannya.</p>
<p>Namun, Mauritz Gerardus Winokan hanya menjabat sebagai bupati Ende beberapa tahun. Pada 1967, akibat penyakit kanker usus yang ia derita, Winokan terpaksa melepas jabatannya karena dipanggil Sang Khalik. <strong>(ARA/EN)</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/berdarah-manado-dayak-profil-bupati-ende-pertama-mauritz-winokan/">Berdarah Manado-Dayak, Profil Bupati Ende Pertama, Mauritz Winokan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Peralihan Sistem Kekuasaan di Ende : Raja Jari Jawa Hingga Bupati Winokan</title>
		<link>https://endenews.com/peralihan-sistem-kekuasaan-di-ende-raja-jari-jawa-hingga-bupati-winokan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Oct 2021 09:26:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Afdeling Flores]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Pertama Kabupaten Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Kepala Daerah Flores]]></category>
		<category><![CDATA[Kerajaan Ende]]></category>
		<category><![CDATA[L.E. Monteiro]]></category>
		<category><![CDATA[Mauritz Gerardus Winokan]]></category>
		<category><![CDATA[Onderafdeling Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Raja Ende Jari Jawa]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=3622</guid>

					<description><![CDATA[<p>Peralihan sistem kekuasaan di Ende memang menarik untuk ditelusuri. Dari sistem kekuasaan itulah generasi hari...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/peralihan-sistem-kekuasaan-di-ende-raja-jari-jawa-hingga-bupati-winokan/">Peralihan Sistem Kekuasaan di Ende : Raja Jari Jawa Hingga Bupati Winokan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Peralihan sistem kekuasaan di Ende memang menarik untuk ditelusuri. Dari sistem kekuasaan itulah generasi hari ini dapat mengetahui lika-liku perjalanan Ende hingga menjadi sebuah kabupaten.</p>
<p>Dahulu kala, istilah “kabupaten” sama sekali tidak dikenal orang Ende. Pada masa sebelum penjajah Belanda, secara sosial, politik dan ritual, baik orang Ende maupun orang Lio hidup secara independen di kampung-kampung dalam suatu persekutuan adat. Mereka dipimpin oleh masing-masing penguasa adat.</p>
<p>Cerita mengenai sistem kekuasaan raja baru muncul sekitar abad ke 15. Satosi, dalam naskah sejarah Flores mengemukakan, pada masa itu terdapat sebuah kerajaan di Ende. Pendiri kerajaan Ende adalah seorang pria dari Jawa yang menikahi puteri tuan tanah Ambu Nggo’be.</p>
<p>Mengenai hal ini, Muhamad Murtadho dalam artikel, <em>Jejak Kerajaan Islam Ende</em> (Jurnal Lektur Keagamaan, 2015) mengungkap bahwa si pria adalah Jari Jawa, yang bernama asli Raden Husein Djajadiningrat.</p>
<p>Jari Jawa mendirikan Kerajaan Ende berpusat di Ambu Tonda dengan dia sendiri sebagai raja pertama.</p>
<p>Murtadho menganalisa, Jari Jawa bisa diangkat menjadi raja karena jasanya memimpin penyerangan atas Portugis di Pulau Ende pada 1630. Atau, bukan saja karena dia adalah menantu Ambu Nggo’be.</p>
<p>“Kalau tidak didasari peristiwa besar, dimana Jari Jawa memainkan peran penting, rasanya secara akal di manapun akan sulit seorang pendatang dengan mudah menjadi raja lokal,” tulis Murtadho (<em>hal, 244</em>). Karena itu Murtdho memperkirakan Kerajaan Ende dibangun sekitar tahun 1630.</p>
<p>Suku Nggobe bertindak sebagai pelaksana acara pelantikan Jari Jawa. Pelantikan Jari Jawa sebagai raja Ende disetujui oleh para penguasa dalam tanah persekutuan Rowo Rena dan para pendatang seperti Mosa Pio serta teman-temannya. Hadir pula 40 Mosalaki dari pembesar-pembesar Lio.</p>
<p>Dari Jari Jawa, estafet kepemimpinan Kerajaan Ende beralih ke Jua (Sarjua), kemudian Rhema. Setelah itu Mbake Pare, Langi, Matoro, Inderadewa, Aroeboesman, Pua Noteh, Pua Menoh, dan terakhir Hasan Aroeboesman.</p>
<p>Setelah raja Jari Jawa, pemimpin Kerajaan Ende selalu mendapat tantangan dari luar. Masuknya pengaruh Belanda secara perlahan membatasi kekuasaan raja Ende. Belanda bahkan mengangkat raja baru untuk menguasai Lio.</p>
<p>Pada masa pendudukan Belanda di Flores selama kurun waktu 1907-1945, wilayah administrasinya dikenal dengan <em>Afdeeling Flores</em> yang beribukota di Ende. Afdeeling Flores memimpin wilayah administrasi dibawahnya yang dikenal dengan sebutan, <em>Onderafdeling</em>.</p>
<p>Dibawah Afdeeling Flores terdapat 5 Onderafdeeling, yakni Onderafdeling Ende, Onderafdeling Ngada, Onderafdeling Manggarai, Onderafdeling Maumere, dan terakhir Onderafdelig Larantuka (<em>Bupati Ende dari Masa ke Masa, 2011).</em></p>
<p>Onderafdeeling Ende beribukota di Ende dan membawahi 2 Swapraja yaitu Ende dan Lio.</p>
<p>Ada sisi penting dari politik sentralistik kekuasaan Belanda tersebut. Yakni, dari sinilah hubungan administrasi kekuasaan antara Ende dan Lio, yang sebelum masuknya Belanda melulu terpisah dan mandiri, mulai terhubung dan menyatu.</p>
<p>Selanjutnya, pada masa kemerdekaan, sistem kekuasaan di Ende menggantung kepada para pemimpin bangsa. Sistem kekuasaan pemerintah kolonial diganti secara perlahan. Onderafdeling nantinya menjadi Kabupaten.</p>
<p>Mulanya, pada 19 Agustus 1945, dua hari setelah proklamasi, dibentuk beberapa propinsi. Diantaranya Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Sunda Kecil. Seluruh wilayah Flores termasuk dalam Sunda Kecil.</p>
<p>Namun saat itu arogansi Belanda yang enggan menyerahkan kekuasaan sepenuhnya menyebabkan terjadi perundingan. Dua perudingan penting di tahun 1946, perundingan Malino dan Denpasar, menyebabkan terbentuknya Negara Indonesia Timur atau NIT.</p>
<p>NIT merupakan negara bagian dari NIS (Negara Indonesia Serikat) dengan wilayah meliputi Sulawesi dan Sunda Kecil. Tentu saja termasuk Flores di dalamnya.</p>
<p>Dalam perjalanannya, pada 27 Desember 1949 dilakukan penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada Indonesia. Dengan berlakunya Staatblad NIT 1950 nomor 5 dan 6 pada 1 Oktober 1950 maka secara <em>dejure</em> dihapuslah keresidenan beserta wilayah administrasinya, yakni afdeling dan onderafdeling.</p>
<p>Sedangkan para asisten residen tetap menjalankan tugasnya membina daerah-daerah swatantra sebagai federasi swapraja yang telah dibentuk sejak 1946, sampai daerah swantantra itu dapat berjalan sendiri. Karena itu, berdasarkan Staatblad 1950 dibentuk tiga daerah yakni Daerah Flores, Sumba dan Timor.</p>
<p>Dengan demikian, terbentuklah Daerah Flores yang otonom dengan kepala daerah dan perwakilan rakyat daerahnya sendiri. Daerah Flores beribukota di Ende dengan kepala daerah bernama L.E. Monteiro.</p>
<p>Sejak 1950, saat kepemimpinan Monteiro, berbagai upaya penguatan kedaulatan melalui struktur pemerintahan dilakukan pemimpin bangsa. Pada 1957 misalnya, atas usul Muhamad Yamin, nama Sunda Kecil yang berbau kolonial diubah menjadi Nusa Tenggara.</p>
<p>Setelah itu diterbitkan UU Darurat nomor 1 tahun 1957 yang membagi Propinsi Nusa Tenggara ke dalam 3 Swatantra. Swatantra tingkat I Bali, swatantra tingkat I NTB dan swatantra tingkat I NTT.</p>
<p>Lebih jauh lagi, eksistensi Swatantra tingkat I NTT diperkuat dengan dengan UU nomor 64 tahun 1958 tentang “Pembentukan Daerah Tingkat II”.</p>
<p>Aturan tersebut melahirkan 5 kabupaten di wilayah Timor termasuk Alor, 2 kabupaten di Sumba dan 5 kabupaten di Flores. Semua kabupaten diresmikan pada 13-14 Desember 1958 (<em>Bupati Ende dari Masa ke Masa, 2011:25</em>).</p>
<p>Dengan demikian, pemerintahan Daerah Flores yang dipimpin Monteiro, secara resmi dibubarkan pada tanggal 14 Desember 1958.</p>
<p>Selanjutnya pada 20 Desember 1958, wakil koordinator Nusa Tenggara, A.S. Pello atas nama Mentri Dalam Negeri, meresmikan berdirinya Propinsi NTT dengan ibukotanya Kupang. Sejak saat itu Kabupaten Ende menjadi salah satu kabupaten di NTT lengkap dengan Kepala Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat.</p>
<p>Mauritz Gerardus Winokan menjadi bupati pertama Kabupaten Daerah Tingkat II Ende. Winokan mendapat tugas tersebut berdasarkan keputusan Departemen Penerangan nomor 0205/CS/59/63, tanggal 17 Januari 1963.</p>
<p>Winokan menjabat sebagai bupati Ende hanya beberapa tahun. Pada 1967, akibat penyakit kanker usus yang ia derita, Winokan terpaksa melepas jabatannya karena dipanggil Sang Khalik. <strong>(Agustinus Rae/EN)</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/peralihan-sistem-kekuasaan-di-ende-raja-jari-jawa-hingga-bupati-winokan/">Peralihan Sistem Kekuasaan di Ende : Raja Jari Jawa Hingga Bupati Winokan</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Di Ende Bung Karno Sering Dibantu Ang Ho Lang</title>
		<link>https://endenews.com/di-ende-bung-karno-sering-dibantu-ang-ho-lang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2021 00:38:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Ang Ho Lang]]></category>
		<category><![CDATA[Bung Karno di Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Ende News]]></category>
		<category><![CDATA[Imlek di Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Pengasingan Bung Karno di Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=2622</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sosok Bung Karno memang pemimpin karismatik. Banyak orang selalu ingin dekat dan menjadi sahabatnya. Mereka...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/di-ende-bung-karno-sering-dibantu-ang-ho-lang/">Di Ende Bung Karno Sering Dibantu Ang Ho Lang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sosok Bung Karno memang pemimpin karismatik. Banyak orang selalu ingin dekat dan menjadi sahabatnya. Mereka bukan saja menjadi sahabat tetapi lebih dari itu, mereka juga bersedia membantunya walau hukuman pemerintah kolonial mengancam di sisi lain.</p>
<p>Salah satunya adalah sahabat Bung Karno bernama Ang Ho Lang. Ang Ho Lang paling berjasa bagi Bung Karno dalam menyelundupkan surat-suratnya, dari Ende ke Jawa atau sebaliknya.</p>
<p>Saat menjalani pengasingan di Ende dari tahun 1934 hingga 1938 ruang gerak Bung Karno amat dibatasi. Ia tidak bisa leluasa berteman layaknya warga biasa. Bung karno tak boleh berdiskusi dengan sesama pejuang, selain itu ia juga tak boleh keluar rumah lebih dari 10 Kilometer.</p>
<p>Bung, mengisi hari-harinya dengan keluarga seperti istrinya Inggit Ganarsih, nenek Amsi, atau Omi anak angkatnya. Dia juga bersibuk diri dengan Toneel Club Kelimutu, kelompok seni yang dibentuknya.</p>
<p>Namun, tak seperti raganya yang dapat dikurung, gelora perjuangan Bung Karno ternyata enggan padam. Bung Karno selalu mencari cara agar dapat berdikusi dengan teman seperjuangan di Jawa, atau mendapat informasi terbaru mengenai perjuangan dari luar sana.</p>
<p>Dia sering menuliskan buah pikirnya kepada teman-teman di luar Ende. Begitu pun sebaliknya, ia sering mendapat informasi-informasi baru dari rekan seperjuangan di Jawa. Interaksi antara Bung Karno dengan mereka diselundupkan melalui surat.</p>
<p>Kata Riwu Ga, sahabat dan pembantu Bung Karno kala di Ende, adalah warga keturunan Tionghoa bernama Ang Ho Lang yang berjasa menyelundupkan surat-surat Bung Karno.</p>
<p>Dalam “<em>Kako Lami Angalai? Riwu Ga, 14 Tahun Mengawal Bung Karno, (2004),</em>” Ang Ho Lang merupakan warga keturunan Tionghoa yang beristrikan perempuan Jawa. Kendati tak disebutkan dalam buku itu, apakah Ang Ho Lang merupakan warga Ende atau bukan.</p>
<p>Surat-surat Bung Karno, cerita Riwu Ga, diselundupkan oleh Ang Ho Lang dari Ende ke Jawa begitupun sebaliknya. Biasanya surat-surat itu diselundupkan di dalam buah Labu.</p>
<p>“Bila ada orang menjual buah Labu pada kami, Ibu Inggit sudah mengerti (isinya surat). Buah Labu itu dibeli,” cerita Riwu Ga <em>(Hal, 31).</em></p>
<p>Ang Ho Lang mengatur semua itu dan seperti tanpa rasa takut atas hukuman yang akan diterima bila ketahuan, Ang Ho Lang sering menyulundupkan surat Bung Karno.</p>
<p>Semuanya serba sembunyi-sembunyi, kenang Riwu Ga, karena Bung Karno dan keluarga diintai oleh pemerintah kolonial Belanda.</p>
<p>Oleh sebab itu setelah membeli buah Labu, Inggit Ganarsih akan membelahnya secara sembunyi-sembunyi. “Karena ada surat penting yang tak boleh diketahui orang lain,” sambungnya.</p>
<p>Tak banyak yang tahu, tetapi berkat jasa Ang Ho Lang, Bung Karno selalu dapat berhubungan dengan teman-temannya di Jawa. <strong>(ARA/EN)</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/di-ende-bung-karno-sering-dibantu-ang-ho-lang/">Di Ende Bung Karno Sering Dibantu Ang Ho Lang</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Politik Marsel Petu, Dari Ormas Hingga Parpol</title>
		<link>https://endenews.com/perjalanan-politik-marsel-petu-dari-ormas-hingga-parpol/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 May 2020 02:16:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Ende Marsel Petu]]></category>
		<category><![CDATA[Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Ende News]]></category>
		<category><![CDATA[Profil Marsel Petu]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://endenews.com/?p=884</guid>

					<description><![CDATA[<p>Marselinus Y. W. Petu merupakan Bupati Ende yang ke 8. Dia menjabat sejak tanggal 7...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/perjalanan-politik-marsel-petu-dari-ormas-hingga-parpol/">Perjalanan Politik Marsel Petu, Dari Ormas Hingga Parpol</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Marselinus Y. W. Petu merupakan Bupati Ende yang ke 8. Dia menjabat sejak tanggal 7 April 2014, sebelum akhirnya diganti karena meninggal dunia pada 26 Mei 2019.</p>
<p>Marsel Petu, yang lahir pada 31 Oktober 1963, merupakan alumni SDN Ende 2, SMP Frateran Ndao, dan SMAK Syuradikara.</p>
<ul>
<li><strong><span style="background-color: #ffffff; color: #003366;"><em><span style="color: #000000;">BACA JUGA : </span></em><a style="background-color: #ffffff; color: #003366;" href="https://endenews.com/daftar-bupati-ende-sejak-1958/">Daftar Bupati Ende Sejak 1985</a></span></strong></li>
</ul>
<p>Dari Syuradikara Marsel putuskan melanjutkan studi di luar Kabupaten Ende. Menurut Konselus Lamak (28/5/19) sahabat karib Marsel Petu, setelah tamat Sekolah pada 1983, mulanya Marsel memilih melanjutkan studi di Jakarta.</p>
<p>Marsel sempat beberapa bulan di Jakarta, kata Konselus Lamak, sebelum akhirnya hijrah ke Malang pada 1983. Di Malang, Marsel berkuliah di Institut Teknologi Nasional (ITN), jurusan Aristek.</p>
<p>Kons, sapaan akrab Konselus Lamak bersahabat baik dengan Marsel sejak tiga tahun bersekolah di SMA Syuradikara. Ketika Marsel pindah ke Malang, keduanya bertemu kembali. Mereka satu kontrakan, tapi beda tempat kuliah.</p>
<p><strong>Keranjingan Organisasi</strong></p>
<p>Saat di Malang, kontrakan Marsel merupakan tempat kumpul mahasiswa asal Flores terutama dari Ende dan Sikka. Karena jadi tempat kumpul maka irit tentu tak mungkin, cerita Kons.</p>
<p>Marsel kala itu dikenal tenang, ramah, dan rela berkorban. Dia rela berbagi kepada teman-temanya meski nantinya, diujung cerita, dirinya kelaparan.</p>
<p>Di Malang jugalah Marsel perlahan akrab dengan Lori Gadi Djou. Mereka mulai dekat sejak tahun 1983, kala Lori kelas 1 SMA dan Marsel mahasiswa semester 1. Persahabatan ini kian akrab ketika Lori menjadi mahasiswa.</p>
<p>Selama hidup bersama Marsel di Malang, sama seperti Kons, Lori mengenalnya sebagai sosok yang solider dan rela berkorban.</p>
<p>“Kami banyak berurusan dengan masalahnya orang lain,” kata Lori Gadi Djou (29/5/19).</p>
<p>Karena karakter ini Marsel dipercaya oleh teman-temannya sebagai ketua paguyuban Ende di Malang pada 1984-1985.</p>
<p>Selain itu Marsel aktif di Senat Mahasiswa Fakultas Arsitek dan sempat dipercayakan sebagai ketua Senat. Nama Marsel Petu juga tercatat sebagai salah satu pendiri organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) di fakultas tersebut.</p>
<p>Keaktifan di organisasi ini pada mulanya dipacu oleh beberapa senior, yang kala itu anggota PMKRI, kata Lori. Sering bercerita dengan senior membuat mereka berangsur-angsur masuk ke dalam diskusi serius. Lalu keranjingan organisasi setelahnya.</p>
<p>Berbagai kegiatan digeluti. Marsel bahkan termasuk salah satu inisiator Kelimutu Cup di Malang, kompetisi sepakbola yang eksis hingga saat ini.</p>
<p>Mereka sangat aktif berorganisasi dan dikenal sebagai “Kelompok Ijen”, kata Lori. Nama ini diambil karena letak kontrakan mereka yang berlokasi di Ijen. Kelompok Ijen berhasil membentuk satu organisasi baru yang namanya, Nusratib.</p>
<p>“Yang isinya orang Ende, tambah Maumere, tambah Sumba dan sebagainya,” ingat Lori.</p>
<p>Tahun 1992 Marsel dan beberapa rekannya masuk KNPI. Lori termasuk didalamnya. Tambah Lori, saat di KNPI inilah dirinya bersama Marsel mulai berkenalan dengan politik.</p>
<p><strong>Marsel Masuk Parpol</strong></p>
<p>Tahun 1994 Marsel Petu diwisuda dan meraih gelar sarjana dari Fakultas Arsitek ITN Malang. Dengan gelar tersebut ia balik ke Ende pada tahun yang sama.</p>
<p>Selama di Ende sarjana muda Marsel Petu sempat mengajar di Fakultas Teknik Univesitas Flores. Namun, tak berlangsung lama. Satu tahun berselang Marsel mendirikan CV. Sa’o Ria Plan pada 1995.</p>
<p>Suata ketika masih di tahun yang sama, Marsel berangkat lagi menuju Malang. Kali ini untuk mengurus ijazah.</p>
<p>Sembari menyelesaikan urusan tersebut, ternyata Marsel menemui seorang pria. Dia adalah Heri Wadhi.</p>
<p>Heri, yang kala itu baru saja menyelesaikan kuliah, ditemui Marsel untuk memintanya bergabung, sama-sama bersarkan Sa’o Ria Plan di Ende. Heri setuju dengan ajakan Marsel.</p>
<p>Diluar Heri, terdapat pula beberapa alumni Malang yang diajak Marsel, kata Heri (29/5/19). Visinya agar Sa’o Ria Plan menjadi tempat mencari pengalaman, sekaligus batu loncatan bagi para sahabatnya.</p>
<p>Tak disangka Sa’o Ria Plan cepat berkembang. Pada 1996 atau satu tahun setelah didirikan, Sao’ Ria Plan telah menerima puluhan pekerjaan. Dan kemajuan ini terus bertahan.</p>
<p>Di tahun 1996 itu juga, Marsel akhirnya memutuskan berumah tangga. Ia menikah dengan Matilda Gaudensia Ilmoe, yang nantinya dikaruniai 3 orang anak.</p>
<ul>
<li><strong><span style="background-color: #ffffff; color: #003366;"><em><span style="color: #000000;">BACA JUGA :</span></em> <a style="background-color: #ffffff; color: #003366;" href="https://endenews.com/ternyata-cinta-marsel-petu-kepada-mathilda-berawal-dari-mata/">Ternyata, Cinta Marsel Petu Kepada Mathilda Berawal Dari Mata</a></span></strong></li>
</ul>
<p>Pada 1998 barangkali merasa Sa’o Ria Plan telah mapan, ia memutuskan melanjutkan karier di partai.</p>
<p>“Ketika itu kami diajak oleh para senior Golkar. Pak Herman Rea, pak Paulinus Domi, termasuk juga almarhum pak Yos Sigasare yang ajak kami”, cerita Heri.</p>
<p><strong>Lika-liku Berpolitik</strong></p>
<p>Pada Pemilu tahun 1999, Marsel Petu maju sebagai Caleg dan lolos jadi anggota legislatif. Dengan lolosnya Marsel, maka ditunjuklah Heri Wadhi sebagai pelaksana Sa’o Ria Plan.</p>
<p>Pada masa ini fokus perhatian Marsel terpusat pada dua ruang, DPRD dan Golkar Ende. Khusus di Golkar, dirinya menempati posisi bendahara partai, kala itu diketuai Lipus Suna.</p>
<p>Pada Pemilu 2004 Marsel maju lagi namun tidak lolos. Penyebabnya, mekanisme keterpilihan yang berdasarkan nomor urut. Saat itu perolehan suara Marsel merupakan yang tertinggi diantara seluruh Caleg, namun apa mau dikata, dia nomor urut 3.</p>
<p>Akan tetapi karirnya tetap berlanjut, Marsel kemudian terpilih menjadi ketua Golkar, masih di tahun 2004.</p>
<p>Empat tahun memimpin Golkar, Marsel lantas membuat keputusan mengejutkan. Maju sebagai calon Bupati Ende di Pilkada 2008. Marsel nekat maju sebagai calon Bupati, didampingi calon Wakil Bupati, Stef Tani. Nama paket mereka, &#8220;Petani&#8221; (Petu-Tani).</p>
<p>Ini terbilang nekat sebab modalnya kala itu tidak mumpuni. Popularitas kecil, bukan anggota dewan, basis belum terbentuk merata, belum lagi soal <em>cost politik</em>.</p>
<p>Namun, salah satu orang terdekat Marsel yakni Melki Laka Lena, punya hitung-hitungan tersendiri. Melki beranggapan, majunya Marsel pada 2008 karena Marsel mengerti rumusan, “investasi politik”.</p>
<p>“Jadi, walau 2008 itu kalah dari Don Wangge, tapi paling tidak, orang sudah tahu bahwa ada satu anak muda, politisi, yang namanya Marsel Petu,” kata Melki (28/5/19).</p>
<p>Dan benar saja apa yang dikatakan Melki Laka Lena. Dalam Pileg beberapa waktu berselang, Golkar Ende mendapat bonus Pilkada 2008. Tidak sampai di situ, nama Marsel Petu juga makin dikenal, hingga berujung kemenangan pada Pilkada 2013.</p>
<p>Berpasangan dengan calon Wakil Bupati Djafar Achmad (paket MJ), Marsel menang dalam perhitungan suara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), Kabupaten Ende.</p>
<p>Tanggal 7 Desember 2013 Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ende menetapkan Paket Marsel-Djafar sebagai pemenang Pilkada. Marsel Petu dan Djafar Ahmad selanjutnya dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Ende pada 7 April 2014.</p>
<p>Menurut kader Golkar Ende, Heri Wadhi dan Magi Sigasare, kemenangan Pilkada 2014 melalui proses kampanye yang tak sesulit ketika Marsel Petu maju pada Pilkada sebelumnya.</p>
<p>Namun, keduanya tak pernah tahu, Marsel sebenarnya menyimpan persoalan pelik yang dalaminya. Marsel hanya bercerita kepada istri, Mathilda Ilmoe.</p>
<p>Menurut Mathilda Ilmoe kondisi dibalik layar sebenarnya amat sulit.</p>
<p>“Kita susah uang. Dari (Paket) Petani (pada 2008), sampai periode pertama 2013 itu kita juga uang tidak ada,” kata Mathilda Ilmoe (4/7/19).</p>
<p>Sebenarnya, Mathilda tak terlalu setuju ketika Marsel memutuskan berpolitik pada 1998. Namun hatinya luluh saat mendengar penjelasan Marsel. Dari situ dia putuskan mendukung niat Marsel hingga terpilih pada 2013.</p>
<p>Pada perjalanan selanjutnya, Mathilda setia mendampingi Marsel hingga suaminya itu terpilih kembali untuk periode kedua, 2019-2024.</p>
<p>Marsel Petu dan Djafar Ahmad kembali dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati pada 7 April 2019. Keduanya dilantik oleh Gubernur NTT Viktor Laiskodat, di Aula Kantor Gubernur, berlokasi di Kota Kupang.</p>
<p><strong>Perjalanan Tugas yang Terakhir</strong></p>
<p>Tanggal 23 Mei 2019, dalam posisi sebagai Bupati Ende, Marsel Petu melakukan perjalanan dinas ke Kota Kupang. Tak disangka ini merupakan perjalanan tugas terakhir baginya.</p>
<p>Beberapa hari berselang, tepatnya 26 Mei 2019, Bupati Marsel mendadak tak sadarkan diri (pingsan), ketika berdiskusi. Dia sempat dilarikan ke Rumah Sakit Siloam, sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.</p>
<p>Jenazah Marsel Petu dibawa kembali ke Kota Ende tanggal 27 Mei 2019.  Tanggal 29 Mei beliau dikmakamkan di Pekuburan Onekore, Kota Ende. <strong><em>(Agustinus Rae/EN) </em></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/perjalanan-politik-marsel-petu-dari-ormas-hingga-parpol/">Perjalanan Politik Marsel Petu, Dari Ormas Hingga Parpol</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Daftar Bupati Ende Sejak 1958</title>
		<link>https://endenews.com/daftar-bupati-ende-sejak-1958/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Dec 2019 02:58:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Daftar Bupati Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Kabupaten Ende]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kelimutupos.com/?p=69</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kabupaten Ende diresmikan melalui Undang-undang Nomor 69 Tahun 1958. Sejak diresmikan pada 1958, kader-kader terbaik daerah...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/daftar-bupati-ende-sejak-1958/">Daftar Bupati Ende Sejak 1958</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kabupaten Ende diresmikan melalui Undang-undang Nomor 69 Tahun 1958. Sejak diresmikan pada 1958, kader-kader terbaik daerah silih berganti menjadi Bupati dan memimpin Kabupaten tempat Bung Karno merenungkan Pancasila ini.</p>
<p>Karya-karya sejak bupati pertama Winokan hingga bupati ke 6 Paulinus Domi, dicatat oleh Lukas Lege dalam bukunya, <em>Membangun Ende Sare</em>, 2005. Sedangkan profil para bupati setelah Paulinus Domi dihimpun <strong>Ende News</strong> dari berbagai sumber.</p>
<p>Berikut ini daftar bupati Ende, masa jabatan, beserta karya-karya mereka bagi kabupaten Ende sejak tahun 1958.</p>
<p><strong>1. Mauritz Geradus Winokan (1958-1967)</strong></p>
<p>Mauritz Winokan pada mulanya menjabat sebagai <em>Penjabat Sementara</em> Bupati Ende. Jabatan itu dipercayakan kepadanya sejak tahun 1958 hingga tahun 1961.</p>
<p>Pada tahun 1961 Winokan secara resmi menjadi Bupati Ende, setelah melalui sidang pencalonan oleh DPRD-GR Tingkat II Ende.</p>
<p>Pada masa kepemimpinannya, beliau mencanangkan tiga program, yakni, mempersatukan kerajaan Ende-Lio, pendidikan anak daerah, dan membuka jalan jalur pariwisata menuju danau Kelimutu.</p>
<p>Winokan meninggal pada tanggal 10 Juli 1967 dalam masa jabatannya sebagai Bupati Ende. Untuk mengisi kekosongan maka Gubernur NTT kala itu, El Tari mengeluarkan SK Gubernur NTT tentang penunjukan Hendrikus Antonius Labina sebagai <em>Penjabat Sementara</em> Bupati Ende.</p>
<p><strong>2. Haji Hassan Aroeboesman (1967-1973)</strong></p>
<p>Haji Hassan Aroeboesman dilantik menjadi Bupati Ende oleh Gubernur NTT, El Tari pada 2 September 1967.</p>
<p>Dalam masa jabatannya, Bupati Haji Hassan Areoboesman berjasa merintis pembukaan Bandara Ipi Ende, yang kemudian sebagai kenangan atas jasa beliau, bandara tersebut diberi nama Bandara H. Hassan Areoboesman.</p>
<p><strong>3. Drs. Herman Josef Gadi Djou (1973-1983)</strong><br />
Dalam masa sistem pemerintahan yang sentralistis maka program seorang bupati adalah melaksanakan program pemerintah di atasnya.</p>
<p>Pada masa kepemimpinan beliau, dilakukan berbagai program Instruksi Presiden (Inpres), seperti Inpres Sekolah Dasar, Inpres sarana-prasarana, kesehatan, jalan dan jembatan, bantuan desa, <em>dsb</em>.</p>
<p><strong>4. Drs. Yohanes Pake Pani (1983-1994)</strong><br />
Adapun program-program pada masa Pake Pani dibagi menjadi dua bagian: Program Dasar dan Program Khusus.</p>
<p>Program Dasar dilaksanakan melalui mekanisme perencanaan dari bawah untuk memperoleh dukungan dana dari pemerintah di atasnya. Biasanya realisasi melalui Inpres.</p>
<p>Sedangkan, untuk Program Khusus ia tetapkan melalui apa yang dikenal dengan nama Tridharma Pembangunan Kabupaten Ende.</p>
<p>Tri Dharma meliputi sapta program, benah desa, dan gerakan meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat.</p>
<p><strong>5. Letkol Frans Gedowolo (1994-1999)</strong><br />
Bupati Frans Gedowolo dalam kepemimpinannya mencanangkan program Tri Sukses Kabupaten Daerah Tingkat II Ende.</p>
<p>Tri Sukses ini meliputi pertama, sukses tujuh program srategis propinsi NTT, kedua, sukses enam program praktis. Dan ketiga, sukses benah desa.</p>
<p><strong>6. Paulinus Domi (1999-2004 dan 2004-2009)</strong><br />
Paulinus Domi dikenal dengan visi kepemimpinan yang dirumuskan secara singkat, Ende Sare: Terwujudnya masyarakat Ende yang mandiri, solider, sejahtera dan berbudaya.</p>
<p>Berbagai pembangunan khususnya infrastruktur dibangun pada masa ini.</p>
<p>Diluar pembangunanan, masa kepemimpinan Paulinus Domi merupakan proses transisi model kepemimpinan dan sistem pemerintahan sebagai pengaruh Reformasi.</p>
<p><strong>7. Drs. Don Bosco M. Wangge, M.Si (2009-2014)</strong><br />
Masa kepemimpinan Don Wangge sangat akrab dengan Gerakan Swasembada Pangan yang ia canangkan.</p>
<p>Fokus perhatian pemerintah daerah pada masa ini ialah memacu produktifitas petani sembari tetap melakukan pembangunan di bidang lain.</p>
<p><strong>8. Marselinus Y. W. Petu (2014-2019 dan 2019-2024)</strong></p>
<p>Marsel Petu menjadi Bupati Ende setelah menang dalam Pemilihan Bupati (Pilbup) periode 2014-2019. Pada Pilbup selanjutnya yakni 2019-2024, berpasangan dengan Djafar Ahmad, dirinya kembali menang.</p>
<p>Namun, kurang lebih satu bulan seetelah dilantik untuk periode kedua, dirinya meninggal dunia pada 26 Mei 2019. Marsel meninggal dalam masa jabatannya sebagai Bupati Ende.</p>
<p>Dalam masa kepemimpinannya, Marsel Petu dikenal dengan visi: Membangun dari desa dan menata kota. Dari dasar inilah seluruh program dijabarkan.</p>
<p>Di bidang pariwisata, Marsel Petu secara rutin setiap tahun mengadakan festival-festival, yang berhasil menaikan angka wisatawan dari 30-an ribu mencapai lebih dari 100ribu angka kunjungan.</p>
<p>Di bidang kesehatan beliau berhasil melobi pemerintah pusat untuk membangunan satu buah Rumah Sakit Pratama. Lalu, di bidang infrastruktur beliau juga membangunan ruas-ruas jalan dan menyelesaikan beberapa pembangunan gedung yang sempat mandek.</p>
<p>Transportasi, khususnya jalur laut yang sebelumnya kurang diperhatikan beliau buka. Dan, dari akses transportasi laut yang kini ramai inilah, perdagangan di kabupaten Ende paling hidup di antara kabupaten lain di Flores.</p>
<p>Masih di bidang infrastruktur, beliau berusaha menutupi kekurangan pasokan listrik melalui Sokoria Gheotermal.</p>
<p>Beliau juga berhasil menaikan APBD Ende mencapai lebih dari 1 triliun, untuk pertama kalinya dalam sejarah Kabupaten Ende. Berbagai pencapaiannya membuat dirinya menerima beragam penghargaan dari tingkat propinsi hingga di tingkat pusat.</p>
<p>Namun, karyanya bagi Kabupaten Ende mesti berkesudahan setelah dipanggil Tuhan pada Minggu, 26 Mei 2019 dalam masa jabatannya sebagai Bupati Ende.</p>
<p><strong>9. Djafar Ahmad, MM (2019-2024)</strong></p>
<p>Djafar Ahmad dilantik menjadi Bupati Ende pada Minggu, 8 September 2019 oleh Gubernur NTT Victor Laiskodat. Proses pelantikan berlangsung di Aula kantor Gubernur NTT di Kota Kupang.</p>
<p>Djafar diangkat karena Marselinus Petu yang menjabat sebagai Bupati Ende meninggal dalam masa jabatan. Oleh sebab itu dirinya selaku Wakil Bupati secara otomatis diangkat menjadi Bupati Ende.</p>
<p><em><strong>Agustinus Rae/EN</strong></em></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/daftar-bupati-ende-sejak-1958/">Daftar Bupati Ende Sejak 1958</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mari Longa : Perang Koloni I</title>
		<link>https://endenews.com/mari-longa-perang-koloni-i/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[EndeNews.Com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Dec 2019 14:42:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Mari Longa]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Ende]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kelimutupos.com/?p=96</guid>

					<description><![CDATA[<p>Mari Longa adalah salah satu pejuang yang melawan penjajahan Belanda. Ia berasal dari Watunggere, Detukeli,...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/mari-longa-perang-koloni-i/">Mari Longa : Perang Koloni I</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mari Longa adalah salah satu pejuang yang melawan penjajahan Belanda. Ia berasal dari Watunggere, Detukeli, kabupaten Ende-NTT</strong>.</p>
<p>Peperangannya melawan penjajahan Belanda dimulai sejak 1893 hingga tahun 1907. Secara garis besar perlawanannya ini dapat dibagi ke dalam 5 bagian (Perang Koloni I hingga V).</p>
<p>Semuanya tercatat dalam buku karya Servas Mario Patty, dkk, berjudul, <em>Perang Mari Longa 1893-1907</em> (2001). Dan barangkali, hanya dalam buku ini kisah tentang Mari Longa dijelaskan secara utuh, sejak kanak-kanak hingga peperangannya melawan Belanda berakhir.</p>
<p>Selain agar setiap generasi tidak kehilangan sejarah, buku ini juga dibuat sebagai salah satu cara menghantar Mari Longa dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional.</p>
<p>Karena itu, hingga kini, Pemda Ende selalu berupaya misalnya dengan menggelar upacara Hari Pahlawan Nasional di Watunggere.</p>
<p>Watunggere merupakan tanah kelahiran Mari Longa. Di tempat inilah ia memulai belajar tentang segala sesuatu. Memanah, bela diri, dan berbagai kecakapan lainya.</p>
<p>Mari Longa dikenal ditempat ini sebagai seorang pemimpin yang cakap. Ia juga memiliki kelebihan karismatik lain, seperti mampu menyembuhkan orang sakit dan ilmu kekebalan tubuh.</p>
<p>Kelebihan yang terakhir itu membuat masyarakat menjuluki Mari Longa, “Watu Mite Leu Lowo, Ae Bere Iwa Sele, Tebo Kai Topo Doga, Mbendi Iwa Bo” (Mari Longa adalah seorang pemberani dan penakluk segala jenis senjata).</p>
<p><strong>Mari Longa Muda</strong></p>
<p>Marilonga dilahirkan kurang lebih sekitar tahun 1859 di Watunggere, kecamatan Detukeli, kabupaten Ende. Ia adalah putra sulung dari Longa Wora dan ibunya Kemba Kore. Ayahnya adalah seorang panglima perang dan penjaga persekutuan Nida.</p>
<p>Pada mulanya Longa Wora memberi nama putranya ini bukanlah Mari Longa melainkan Leba Longa. Nama &#8220;Leba&#8221; diambil dari nama sayur (Paria) yang sangat pahit rasanya. Nama Leba diberi agar putranya memiliki sifat yang tegas di kemudian hari.</p>
<p>Namun, Leba Longa dari hari ke hari tumbuh sebagai anak yang cengeng dan sakit-sakitan. Inilah alasan namanya diganti.</p>
<p>Niat mengganti nama ini semakin kuat ketika ayahnya, pada suatu saat mendapat petunjuk melalui mimpi, agar mengganti nama putranya tersebut dengan nama Mari Longa. Mari berasal dari nama sejenis pohon yang pahit rasanya dan berkulit amat keras.</p>
<p>Maka direstuilah nama Mari Longa melalui suatu upacara adat.</p>
<p>Marilonga dididik di lingkungan keluarga yang disiplin. Di masa kecilnya, pada usia kira-kira 4 tahun, Mari Longa sudah belajar memanah. Busur yang digunakan dirangcang khusus sesuai kemampuan anak-anak.</p>
<p>Kemampuan Mari Longa sudah terlihat sejak kecil. Ketika bermain perang-perangan dengan anak-anak sebaya, ia selalu unggul maka selalu menjadi pemimpin di antara mereka.</p>
<p>Pada usia delapan tahun, Mari Longa sudah terbiasa berburu di hutan bersama orang-orang desa dan, pada usia ini pula ia mulai belajar bela diri.</p>
<p>Memasuki usia muda, pemuda Mari Longa dikenal sebagai pengembara. Dari ujung Flores bahkan hingga pulau-pulau terdekat di Nusantara.</p>
<p>Dalam serangkaian perjalanan inilah Mari Longa pertama kali berjumpa dengan kekejaman Belanda. Mari Longa muda amat berang! Namun keadaan belum sempurna untuk memulai sesuatu dengan Belanda.</p>
<p>Pengembaraan Mari Longa harus diakhiri setelah memasuki masa pelaminan. Ia menikah dengan seorang gadis bernama Nderu Ndoki.</p>
<p>Selain Nderu Ndoki, ia juga memiliki enam orang selir bernama, Kapi Mbipi, Weti Nduru, Fai Bilo, Weti Atu, Tidhu, Aru, Atu, dan Bela Badjo.</p>
<p><strong>Perang Koloni I (1893-1897)</strong></p>
<p>Pada tahun 1893, Belanda yang telah menguasai Maumere mulai menyisir pengaruhnya ke daerah-daerah sekitar hingga ke wilayah .</p>
<p>Mari Longa secara terang-terangan menyatakan perang melawan Belanda.  Ia juga menolak membayar upati (pajak) kepada Belanda.</p>
<p>Belanda marah! Maka tergenapilah syarat-yarat untuk memulai sesuatu yang tak terlupakan dengan Mari Longa. Di sisi lain, Mari Longa juga menanti hal itu.</p>
<p>Maka terjadilah perang Koloni I selama empat tahun, pada 1893 hingga 1897, di Bhoasia dekat Ndondo.</p>
<p>Bhoasia merupakan basis pertahanan Mari Longa yang pertama. Tempat ini kala itu masih padang rumput yang amat luas. Itulah sebabnya Perang Koloni I sering disebut sebagai Perang Padang Rumput.</p>
<p>Selama beberapa tahun, pasukan Belanda berguguran dalam Perang Pada Rumput. Ana Fua, pasukan Mari Longa bertempur dengan dua cara, melalui strategi gerilya dan perang terbuka.</p>
<p>Bila sedang menggunakan cara gerilya maka Ana Fua, akan menyerang diwaktu-waktu tak pasti. Paling sering di malam hari, ketika Belanda lengah. Selesai membantai mereka balik ke hutan.</p>
<p>Selain itu Mari Longa dan pasukannya, Ana Fua (pasukan lebah) juga melakukan perang terbuka atau secara langsung, berhadap-hadapan dengan Belanda.</p>
<p>Belanda yang, minta ampun berangnya karena tak mampu mengalahkan Mari Longa kemudian mendatangkan pasukan dari Kupang dan Jawa.</p>
<p>Tambahan pasukan dari kedua daerah itu tiba di Maumere untuk melumpukan pertahanan Marilonga di Bhoasia, pantai Utara Flores. Pada 1897 pasukan besar ini tiba di Ndondo.</p>
<p>Tak lama berselang Belanda menyerang.ke Pertahanan Mari Longa. Hujan peluru pun terjadi.</p>
<p>Pasukan Belanda terlalu banyak. Arteleri pun lengkap. Melihat situasi itu Mari Longa mengambil langkah cekatan. Ia membagi Ana Fua: sebagian besar diperintahkan lari ke hutan dan beberapa orang ikut dirinya menyerahkan diri.</p>
<p>Melihat Mari Longa dan beberapa orang menyerah Belanda amat gembira. Mereka lega dan langsung membawa Mari Longa beserta beberapa Ana Fua ke Maumere. Tak sadar bahwa itu hanyalah siasat.</p>
<p>Mari Longa membagi sebagian besar Ana Fua ke hutan agar menyiapkan serangan balasan setelah ini. Karena itulah yang ikut dirinya menyerah hanya beberapa orang.</p>
<p>Mari Longa tahu, meskipun Ana Fua masih banyak tetapi karena dirinya menyerah maka Belanda pasti berpikir, perlawanan telah berakhir.</p>
<p>Dan benar saja, beberapa hari kemudian Mari Longa berhasil melarikan diri dan tiba lagi di Watunggere. Disaat yang sama, Ana Fua yang tadinya di hutan, juga telah menyusun serangan balasan.</p>
<p>Mari Longa langsung memimpin mereka melakukan serangan gerilya.</p>
<p>Belanda yang dibuat kelabakan segera menyusun strategi penangkapan Mari Longa. Kali ini strategi Belanda lebih halus, yaitu mengajak berunding.</p>
<p>Belanda memerintahkan kurir menemui Mari Longa menyampaikan niat itu. Tapi Mari Longa bukan tipe yang melawan penjajahan di atas meja. Ia tahu, perundingan hanyalah pembicaraan soal bayar pajak semata. Mari Longa tolak!</p>
<p>Mendengar laporan kurirnya, Belanda langsung melakukan rapat, membahas masalah Mari Longa di Watunggere.</p>
<p>Dalam keputusannya, rapat ini menyepakati Watunggere akan dikepung dan harus dikuasai. Apabila terjadi kondisi membahayakan maka kampung ini dibakar, agar pusat kekuatan Mari Longa lumpuh total.</p>
<p>Rapat juga memutuskan Mari Longa mesti ditangkap dan dibawa ke Ende sebelum ke Maumere. Menariknya, hasil rapat juga memutuskan Mari Longa tidak boleh ditembak mati dalam kondisi apapun.</p>
<p>Belanda menemukan kesulitan dalam penyerangan ini. Akses masuk ke Watunggere hanya satu, itupun jalan sempit. Berpikir keras, akhirnya diputuskan membawa pemandu jalan.</p>
<p>Pemandu jalan ini mengetahui kelebihan Mari Longa dan perkembangan gerakan Ana Fua. Bersama beberapa rekannya, mereka memang sering memasok informasi kepada Belanda.</p>
<p>Misi dimulai. Sebelum masuk Watunggere, terlebih dahulu Belanda mengirim mata-mata ke dalam Watunggere. Na’as, beberapa saat berselang datang informasi si mata-mata tewas oleh Ana Fua, bahkan sebelum masuk kampung.</p>
<p>Belanda kaget namun layar sudah berkembang. Tak mungkin mereka mundur.</p>
<p>Baru beberapa langkah memasuki pertahanan Mari Longa, satu serdadu terjatuh dan tewas seketika oleh anak panah Ana Fua. Kaget! Pemimpin operasi langsung berteriak serang. Peluru pun beterbangan membabi buta ke arah kampung.</p>
<p>Mari Longa sudah memprediksi hal itu, maka sebelumnya Ana Fua telah ditempatkan di lereng-lereng bukit dan semak-semak, bukan perkampungan. Dengan demikian, mereka enteng menyergap serdadu Belanda dari persembunyian.</p>
<p>Serdadu Belanda berguguran dalam operasi ini. Terpukul oleh strategi Mari Longa, serdadu lainnya kembali ke Ende. Kecewa. <em><strong>(Bersambung)</strong></em></p>
<p><strong>Agustinus Rae</strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="https://endenews.com/mari-longa-perang-koloni-i/">Mari Longa : Perang Koloni I</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="https://endenews.com">Ende News</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
